Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...

Woolf di Sungai - Bagian 5: River Ouse

Woolf di Sungai - Bagian 5: River Ouse
woolf di Sungai - Bagian 5: River Ouse

Woolf di Sungai

Sebuah Personal Naratif

Bagian 5: River Ouse

Tulisan sebelumnya: Bagian 4: Karya dan Kegelapan

XVIII.

Ada dua surat.

Yang pertama untuk Leonard. Yang kedua untuk Vanessa.

Virginia menulis dengan tangan yang gemetar—bukan karena takut, tapi karena kelelahan. Kelelahan dari bertarung terlalu lama. Kelelahan dari mencoba bertahan ketika gelombang terus datang dan tidak ada lagi kekuatan untuk berenang.

Surat untuk Leonard:

"Dearest,

I feel certain that I am going mad again. I feel we can't go through another of those terrible times. And I shan't recover this time. I begin to hear voices, and I can't concentrate. So I am doing what seems the best thing to do. You have given me the greatest possible happiness. You have been in every way all that anyone could be. I don't think two people could have been happier till this terrible disease came. I can't fight any longer. I know that I am spoiling your life, that without me you could work. And you will I know. You see I can't even write this properly. I can't read. What I want to say is I owe all the happiness of my life to you. You have been entirely patient with me and incredibly good. I want to say that—everybody knows it. If anybody could have saved me it would have been you. Everything has gone from me but the certainty of your goodness. I can't go on spoiling your life any longer. I don't think two people could have been happier than we have been.

V."

Tersayang, aku merasa yakin bahwa aku akan gila lagi. Aku merasa kita tidak bisa melewati masa-masa mengerikan itu lagi. Dan aku tidak akan pulih kali ini. Aku mulai mendengar suara-suara, dan aku tidak bisa berkonsentrasi. Jadi aku melakukan apa yang tampaknya hal terbaik untuk dilakukan. Kau telah memberiku kebahagiaan terbesar yang mungkin. Kau telah menjadi dalam segala hal semua yang bisa menjadi siapa pun. Aku tidak berpikir dua orang bisa lebih bahagia sampai penyakit mengerikan ini datang. Aku tidak bisa berjuang lagi. Aku tahu bahwa aku merusak hidupmu, bahwa tanpaku kau bisa bekerja. Dan kau akan, aku tahu. Kau lihat aku bahkan tidak bisa menulis ini dengan benar. Aku tidak bisa membaca. Yang ingin aku katakan adalah aku berutang semua kebahagiaan hidupku padamu. Kau telah sepenuhnya sabar denganku dan luar biasa baik. Aku ingin mengatakan itu—semua orang tahu. Jika ada orang yang bisa menyelamatkanku, itu adalah kau. Semuanya telah pergi dariku kecuali kepastian tentang kebaikanmu. Aku tidak bisa terus merusak hidupmu lebih lama. Aku tidak berpikir dua orang bisa lebih bahagia daripada kita.

Surat itu bukan surat bunuh diri. Surat itu adalah surat cinta.

Surat kepada satu-satunya orang yang pernah benar-benar melihatnya—dengan semua kegelapan, semua suara-suara, semua pusaran—dan memilih untuk tinggal. Untuk menjadi jangkar ketika ia merasa akan terseret. Untuk mengatakan: aku di sini. Aku tidak akan pergi.

Tapi bahkan jangkar paling kuat pun tidak bisa menahan ketika ombak terlalu besar.

Virginia meninggalkan kedua surat itu di atas meja. Lalu ia mengenakan mantel panjang. Mengambil tongkat jalan. Dan keluar dari Monk's House pada pagi yang cerah—28 Maret 1941, sekitar jam sebelas.

XIX.

Ada banyak versi tentang apa yang terjadi selanjutnya.

Versi resmi, yang ditulis dalam laporan polisi dan artikel koran: Virginia Woolf berjalan melintasi ladang dari rumahnya menuju River Ouse. Ia mengisi saku mantelnya dengan batu—batu besar yang ia ambil dari tepi sungai. Lalu ia berjalan masuk ke dalam air sampai air itu menutupinya.

Tongkat jalannya ditemukan di tepi sungai pada sore hari. Leonard segera tahu. Ia berlari ke sungai, memanggil namanya, tapi hanya ada air yang mengalir dengan tenang—tidak peduli, tidak menjawab.

Tubuh Virginia tidak ditemukan sampai tiga minggu kemudian—pada 18 April 1941. Seorang anak menemukan sesuatu yang mengapung di dekat jembatan. Polisi dipanggil. Tubuh diidentifikasi dari pakaian yang masih melekat.

Itu versi resmi.

Tapi ada versi lain—versi yang tidak ditulis dalam laporan polisi, yang hanya ada dalam imajinasi orang-orang yang mencintainya, yang mencoba membayangkan momen-momen terakhir dengan lebih lembut daripada kenyataan yang dingin.

Dalam versi itu, Virginia berjalan ke sungai dan menemukan ibunya menunggunya di sana.

Julia—yang sudah meninggal empat puluh enam tahun, yang Virginia tidak pernah bisa lepaskan—berdiri di tepi air dengan senyum yang hangat. Tidak menghakimi. Tidak bertanya mengapa. Hanya membuka tangan dan berkata: "Kau sudah menulis cukup banyak, sayang. Sekarang waktunya istirahat."

Dan Virginia mengambil tangan ibunya. Dan mereka berjalan bersama ke dalam air. Dan air itu hangat—tidak dingin seperti yang sebenarnya, tapi hangat seperti pelukan, seperti pulang ke rumah, seperti akhirnya tidak perlu berjuang lagi.

Dalam versi itu, Stella ada di sana juga. Dan Thoby. Semua orang yang ia cintai dan yang sudah pergi. Mereka semua menunggunya di bawah permukaan. Mengatakan: kami di sini. Kau tidak sendirian. Kau tidak pernah sendirian.

Tapi itu bukan yang terjadi.

Yang terjadi adalah ini: air dingin. Batu di saku berat. Tubuh—yang selama bertahun-tahun ia rasakan sebagai penjara, sebagai tempat trauma, sebagai sesuatu yang asing—akhirnya menyerah pada gravitasi.

Yang terjadi adalah: Virginia Woolf, pada usia lima puluh sembilan tahun, memilih untuk berhenti. Bukan karena ia lemah. Bukan karena ia tidak cukup mencoba. Tapi karena ada beban yang terlalu berat untuk terus dipikul, dan kadang-kadang belas kasihan kepada diri sendiri terlihat seperti melepaskan.

Yang terjadi adalah: dunia kehilangan salah satu suara terpenting dalam sastra modern. Dan Leonard kehilangan satu-satunya orang yang pernah benar-benar menjadi rumahnya.

XX.

Saya masih duduk di tepi sungai.

Tidak tahu sudah berapa lama. Mungkin berjam-jam. Mungkin seumur hidup.

Air terus mengalir—seperti yang selalu dilakukan, seperti yang akan terus dilakukan lama setelah saya pergi dari sini. Tidak peduli dengan cerita-cerita yang saya bawa. Tidak peduli dengan Virginia Woolf yang sudah meninggal lebih dari delapan puluh tahun lalu tapi yang suaranya masih saya dengar dalam setiap kalimat yang saya baca.

Saya mengeluarkan batu kecil yang saya ambil tadi pagi—ketika saya pertama kali datang ke sini, ketika hari masih terang dan saya belum membaca tentang semua kematian, semua kehilangan, semua cara seseorang bisa tetap hidup meskipun ingin pergi.

Batu itu kecil. Muat di telapak tangan. Tidak akan pernah cukup berat untuk menenggelamkan siapa pun.

Tapi saya memegangnya sejenak. Merasakan beratnya. Merasakan bagaimana sesuatu yang kecil, ketika digandakan dan dimasukkan ke dalam saku, bisa menjadi cukup.

Lalu saya melemparnya kembali ke sungai.

Batu itu membuat riak kecil di permukaan. Lingkaran yang melebar, lalu menghilang. Seperti tidak pernah ada. Tapi airnya bergerak—hanya sedikit, tapi bergerak. Seperti setiap tindakan, tidak peduli seberapa kecil, meninggalkan jejak.

Di seberang sungai, perempuan tua itu duduk lagi di bangku yang sama. Kali ini saya tidak berkedip. Saya membiarkan diriku melihatnya—benar-benar melihat. Wajahnya seperti wajah di foto-foto lama Virginia Woolf. Mata yang tajam. Bibir yang hampir tersenyum tapi tidak cukup.

Ia mengangkat tangan—bukan melambai, hanya mengangkat. Seperti mengakui kehadiran saya. Seperti mengatakan: aku melihatmu. Aku tahu kau di sana.

Dan untuk pertama kalinya, saya melambai balik.

Lalu ia pergi—tidak menghilang dengan dramatis, hanya berdiri dan berjalan menjauh, seperti orang biasa yang selesai duduk di taman dan sekarang harus pulang untuk membuat teh.

Mungkin ia memang hanya perempuan biasa. Mungkin saya yang terlalu lama membaca Woolf sampai mulai melihat hantu di tempat-tempat di mana tidak ada.

Atau mungkin—dan ini yang saya pilih untuk percaya—mungkin orang-orang yang menulis dengan cukup jujur tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya mengubah bentuk. Dari daging menjadi kata-kata. Dari tubuh yang bisa tenggelam menjadi suara yang tidak bisa ditenggelamkan.

XXI.

Virginia Woolf menulis: "Against you I will fling myself, unvanquished and unyielding, O Death!"

Tapi pada akhirnya, ia tidak melawan. Ia menyerah kepada air.

Dan pertanyaan yang saya bawa sejak pagi—yang mungkin semua orang yang membaca ceritanya bawa—adalah: apakah itu kelemahan atau kekuatan? Apakah menyerah adalah kekalahan atau bentuk lain dari pembebasan?

Saya tidak tahu jawabannya.

Yang saya tahu adalah ini: Virginia Woolf menulis Mrs Dalloway, To the Lighthouse, The Waves, Orlando, A Room of One's Own, dan begitu banyak esai, surat, buku harian yang mengubah cara kita berpikir tentang apa artinya menjadi manusia. Ia menulis meskipun suara-suara mengatakan ia tidak bisa. Ia menulis meskipun setiap kalimat terasa seperti pertarungan. Ia menulis sampai tidak ada lagi kata-kata yang tersisa.

Dan kemudian, dengan kelembutan yang mengerikan kepada diri sendiri, ia berkata: cukup.

Bukan karena ia tidak cukup kuat. Tapi karena bahkan orang yang paling kuat pun punya batas. Dan mengetahui batas itu—mengakuinya—adalah bentuk kejujuran yang paling sulit.

Leonard Woolf hidup tiga puluh tahun setelah kematian Virginia. Ia tidak pernah menikah lagi. Ia menerbitkan semua karya Virginia yang belum diterbitkan—Between the Acts, buku harian, surat-surat. Ia memastikan bahwa suaranya tidak hilang. Bahwa orang-orang masih bisa mendengarnya lama setelah ia pergi.

Pada 1969, Leonard meninggal. Ia dimakamkan—atau lebih tepatnya, abunya ditaburkan—di bawah dua pohon elm di taman Monk's House. Pohon-pohon yang sama di mana ia dan Virginia sering duduk, membaca, hanya ada bersama dalam keheningan yang nyaman.

Abu Virginia—yang dikremasi setelah tubuhnya ditemukan—juga ditaburkan di sana. Di bawah pohon yang sama. Bersama Leonard. Seperti yang seharusnya.

Ada plakat kecil di sana sekarang. Dengan kutipan dari The Waves:

"Death is the enemy. Against you I will fling myself, unvanquished and unyielding, O Death! The waves broke on the shore."

Kematian adalah musuh. Terhadapmu aku akan melontarkan diriku, tak terkalahkan dan tak menyerah, hai Kematian! Ombak pecah di pantai.

Ombak pecah di pantai. Tapi sungai terus mengalir.

XXII.

Saya berdiri. Kaki saya kaku dari duduk terlalu lama. Tas saya terasa lebih berat dari tadi pagi—atau mungkin saya yang lebih lelah.

Saya memasukkan buku-buku kembali. Mrs Dalloway dengan sampulnya yang lusuh. Orlando dengan halamannya yang terlipat. The Waves yang saya baca dengan senter karena malam sudah turun dan saya tidak mau pulang.

Termos kopi sudah lama kosong. Saya akan membuangnya di tempat sampah terdekat. Atau mungkin membawanya pulang. Kadang-kadang kita perlu menyimpan wadah kosong—untuk mengingatkan kita tentang apa yang pernah ada di dalamnya.

Sebelum pergi, saya menatap sungai sekali lagi.

Air mengalir dengan tenang. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada pusaran besar atau arus deras. Hanya air yang bergerak dari hulu ke hilir, membawa daun-daun kering dan sampah plastik dan semua yang jatuh ke dalamnya.

Dan saya berpikir tentang Virginia Woolf—tentang bagaimana ia hidup dengan sungai di dalam kepalanya. Pikiran yang mengalir tanpa henti. Stream of consciousness yang ia ubah menjadi karya seni.

Tentang bagaimana ia berakar—pada trauma, pada kehilangan, pada keluarga yang menghancurkan dan kemudian membangunnya kembali. Tapi juga mengalir—menuju Bloomsbury, menuju Leonard, menuju Vita, menuju kata-kata yang akan bertahan lama setelah tubuhnya pergi.

"I am rooted, but I flow."

Kita semua berakar. Pada masa lalu yang tidak bisa kita ubah. Pada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Pada orang-orang yang sudah pergi tapi yang hantunya masih kita bawa.

Tapi kita juga mengalir. Menuju hari esok yang belum kita kenal. Menuju versi diri kita yang belum kita jadi. Menuju kemungkinan-kemungkinan yang masih terbuka, meskipun sempit, meskipun gelap.

Virginia Woolf tidak bisa terus mengalir. Gelombang terlalu besar. Batu di saku terlalu berat. Dan ia membuat pilihan—pilihan yang menyakitkan bagi semua orang yang mencintainya, tapi pilihan yang adalah miliknya untuk dibuat.

Saya tidak akan menghakimi pilihan itu. Saya tidak punya hak.

Yang saya punya hanya rasa terima kasih. Terima kasih karena ia menulis selama ia bisa. Terima kasih karena ia berbagi sungai di dalam kepalanya dengan kita—semua alirannya, semua pusarannya, semua kedalaman yang menakutkan dan keindahan yang menakjubkan.

Terima kasih karena ia membuktikan bahwa orang yang patah pun bisa menciptakan sesuatu yang utuh. Bahwa orang yang tenggelam pun bisa mengajari orang lain cara berenang.

XXIII.

Saya mulai berjalan menjauh dari sungai.

Langkah demi langkah. Kaki yang berat tapi tetap bergerak. Seperti Sisyphus yang turun dari gunung untuk mendorong batu lagi. Seperti Clarissa Dalloway yang memilih pesta dan bunga meskipun tahu betapa berbahayanya hidup bahkan satu hari. Seperti semua orang yang bangun pagi dan memutuskan—kadang dengan riang, kadang dengan berat hati—untuk tetap di sini satu hari lagi.

Di belakang saya, sungai terus mengalir.

Besok saya akan kembali. Atau lusa. Atau minggu depan ketika saya butuh mengingatkan diri bahwa mengalir adalah sesuatu yang bisa dipilih, bukan hanya sesuatu yang terjadi.

Saya akan membawa buku yang berbeda. Mungkin Between the Acts—novel terakhir Virginia yang ia tidak yakin bagus tapi yang Leonard bilang adalah salah satu yang terbaik. Mungkin esai-esainya. Mungkin tidak ada—hanya duduk di tepi dan mendengarkan air.

Karena ada pelajaran yang tidak bisa dipelajari dari buku. Ada pelajaran yang hanya bisa dipelajari dari air yang mengalir. Dari batu yang tenggelam. Dari cahaya yang berubah dari pagi ke sore ke malam.

Pelajaran seperti: kau tidak harus memilih antara berakar atau mengalir. Kau bisa menjadi keduanya.

Seperti: kehilangan adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai, tapi kau bisa belajar hidup dengannya—seperti belajar hidup dengan tinnitus, suara konstan yang tidak pernah pergi tapi yang akhirnya menjadi bagian dari keheningan.

Seperti: kadang-kadang cinta terlihat seperti jangkar, kadang-kadang seperti sayap. Kadang-kadang keduanya pada waktu yang sama.

Seperti: menulis—atau bentuk kreativitas apa pun—adalah cara untuk mengubah pusaran menjadi sesuatu yang bisa dilihat orang lain. Bukan untuk membuat pusaran itu hilang, tapi untuk membuktikan bahwa kau pernah berada di dalamnya dan selamat. Atau setidaknya mencoba.

Saya sampai di jalan utama. Suara kota kembali—motor, klakson, orang-orang yang tertawa di warung kopi, kehidupan yang bergerak terus meskipun ada orang yang berhenti di tepi sungai dan membaca tentang orang mati.

Saya menarik napas dalam-dalam. Udara malam dingin di paru-paru. Nyata. Mengingatkan saya bahwa saya masih di sini. Masih bernapas. Masih bisa memilih untuk tetap tinggal.

Dan saya memilih untuk tetap tinggal.

Tidak karena mudah. Tidak karena tidak ada hari-hari ketika air terlihat lebih menarik daripada jalan. Tapi karena Virginia Woolf sudah pergi ke tempat itu dan tidak pernah kembali untuk menceritakan apa yang ia temukan.

Jadi saya akan tinggal. Dan besok saya akan menulis. Atau mencoba. Atau duduk di depan halaman kosong dan tidak menulis apa-apa tapi tetap duduk di sana, membuktikan bahwa saya belum menyerah.

Karena itu yang Virginia ajarkan pada akhirnya: bukan tentang menang atau kalah. Bukan tentang bahagia atau sedih. Tapi tentang tetap hadir—dalam semua kontradiksi, dalam semua pusaran, dalam semua momen ketika kau berakar dan mengalir pada saat yang sama.

Sungai terus mengalir.

Dan saya berjalan pulang.

Sampai bertemu lagi, Virginia. Di tepi sungai lain. Di halaman lain. Di pikiran orang-orang yang masih membaca kata-katamu dan menemukan sesuatu dari diri mereka sendiri di sana.

Against you I will fling myself, unvanquished and unyielding, O Death.

Ombak pecah di pantai.

Tapi sungai terus mengalir.

Selalu.


TAMAT


Index Lengkap - Woolf di Sungai:


Komentar

Catatan Penulis: Bunuh diri bukanlah solusi. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami krisis kesehatan mental, silakan hubungi layanan kesehatan mental atau hotline krisis di negara Anda. Di Indonesia: Yayasan Pulih (021-788-42580), Into The Light Indonesia (@intothelightid), atau Sejiwa (119 ext. 8).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Analisis Mendalam: "Keheningan yang Menyembuhkan" - Prosa Kontemplasi Masterclass

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif