Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...

Woolf di Sungai Bagian 2: Pusaran Gelap

Woolf di Sungai - Bagian 2: Pusaran Gelap
Woolf di Sungai - Bagian 2: Pusaran Gelap

Woolf di Sungai

Sebuah Personal Naratif

Bagian 2: Pusaran Gelap

Tulisan sebelumnya: Bagian 1: Arus Pertama

V.

Ada jenis kegelapan yang tidak bisa ditulis dengan mudah.

Bukan karena terlalu dramatis, tapi justru karena terlalu sunyi. Terlalu pribadi. Terlalu dekat dengan tulang.

Setelah kematian Julia, rumah di Hyde Park Gate menjadi tempat yang berbeda. Lebih gelap. Lebih sepi. Leslie Stephen tenggelam dalam kesedihan yang teatrikal—menangis keras di ruang tamu, menuntut perhatian dari anak-anaknya, mengubah duka menjadi pertunjukan yang harus ditonton semua orang.

Tapi ada duka lain yang terjadi di malam hari. Di koridor yang gelap. Di kamar-kamar yang pintunya tidak terkunci.

George Duckworth—saudara tiri Virginia dari pernikahan pertama ibunya—berusia dua puluh tujuh tahun ketika Julia meninggal. Tampan, sopan, sangat peduli dengan "kesejahteraan" adik-adik tirinya. Terlalu peduli.

Gerald, saudara laki-lakinya, juga sama. Perhatian mereka pada Vanessa dan Virginia bukan perhatian kakak kepada adik. Bukan perlindungan. Bukan cinta.

Ini adalah sesuatu yang lain.

Virginia tidak akan menulis tentang ini sampai bertahun-tahun kemudian—dalam memoar yang ia tulis di usia lima puluh, berjudul A Sketch of the Past. Dan bahkan saat menulis, ia melakukannya dengan hati-hati. Dengan bahasa yang tidak eksplisit. Dengan cara orang yang masih merasa malu untuk mengatakan dengan keras apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri.

"Ada malam-malam," tulisnya, "ketika saya berbaring di tempat tidur dan mendengar pintu kamar saya terbuka. Bayangan masuk. Duduk di tepi tempat tidur. Dan saya belajar untuk pergi ke tempat lain—bukan secara fisik, tapi dalam pikiran. Saya belajar untuk membuat diri saya tidak ada."

Pelecehan seksual. Kata-kata modern untuk sesuatu yang tidak punya nama di era Victoria—atau lebih tepatnya, punya nama tapi tidak boleh diucapkan. Terutama ketika pelakunya adalah laki-laki terhormat dari keluarga baik-baik.

George akan datang ke kamar Virginia setelah acara sosial—setelah pesta atau opera—dan "menciumnya selamat malam" dengan cara yang membuat Virginia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya. Gerald pernah mengangkatnya ke meja di ruang makan dan memasukkan tangannya ke bawah gaunnya, sementara Virginia—berusia enam tahun—membeku, tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi tahu bahwa itu salah.

"Looking-glass shame," tulis Virginia bertahun-tahun kemudian. Malu pada cermin. Malu untuk melihat tubuhnya sendiri. Malu untuk ada.

Ini adalah luka yang tidak terlihat. Yang tidak bisa dijelaskan pada dokter. Yang tidak punya bahasa pada zamannya.

Tapi luka ini membentuk cara Virginia melihat tubuh—termasuk tubuhnya sendiri. Di novel-novelnya, tubuh sering menjadi sesuatu yang asing. Sesuatu yang harus diamati dari jarak jauh, seperti benda yang ditemukan di pantai setelah badai. Indah, mungkin. Tapi juga menakutkan.

Di malam hari, Virginia menulis. Mengisi halaman demi halaman dengan kata-kata yang mengalir seperti air—tidak pernah berhenti, tidak pernah diam. Karena diam berarti mengingat. Dan mengingat berarti kembali ke kamar itu, ke malam-malam itu, ke momen-momen ketika ia belajar untuk membuat dirinya tidak ada.

Menulis adalah cara untuk tetap ada. Untuk membuktikan bahwa ia lebih dari tubuh yang bisa disentuh tanpa izin. Ia adalah pikiran. Ia adalah kata-kata. Ia adalah sesuatu yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun—bahkan oleh orang yang mengklaim mencintainya.

VI.

Stella Duckworth adalah satu-satunya orang di rumah itu yang benar-benar mencintai Virginia tanpa meminta imbalan.

Setelah kematian Julia, Stella—yang baru berusia dua puluh enam tahun—mengambil alih peran ibu. Ia yang memastikan anak-anak makan. Ia yang merawat Leslie Stephen yang tenggelam dalam kesedihan performatif. Ia yang duduk di tepi tempat tidur Virginia ketika breakdown datang, memegang tangannya, membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Meskipun mereka berdua tahu itu bohong.

Pada April 1897, Stella menikah dengan Jack Hills—seorang pria yang baik, yang benar-benar mencintainya. Pernikahan yang langka pada masa itu: pernikahan karena cinta, bukan karena uang atau status atau kewajiban keluarga.

Virginia senang untuk Stella. Tapi juga takut. Karena ia tahu—dengan cara yang tidak bisa dijelaskan—bahwa kebahagiaan tidak pernah bertahan lama di keluarga mereka.

Tiga bulan setelah pernikahan, Stella jatuh sakit.

Peritonitis, kata dokter. Infeksi di perut. Mungkin komplikasi dari operasi usus buntu yang tidak terdeteksi. Atau mungkin—seperti ibunya—Stella hanya terlalu lelah untuk terus hidup.

Pada 19 Juli 1897, Stella meninggal.

Virginia berusia lima belas tahun.

Ini adalah kematian kedua. Dan dengan kematian kedua, pola mulai terlihat jelas: cinta, kehilangan, kegilaan. Tiga tahap yang berulang seperti ombak di pantai. Seperti siklus yang tidak bisa dihentikan.

Setelah pemakaman Stella, Virginia pulang ke rumah yang terasa lebih kosong dari sebelumnya. Ia naik ke kamar, menutup pintu, dan duduk di lantai dengan punggung bersandar pada tempat tidur. Tidak menangis. Tidak bergerak. Hanya duduk di sana, menatap dinding, sampai cahaya sore berubah menjadi malam.

Vanessa—kakaknya—mengetuk pintu. "Ginny? Kau di dalam?"

Virginia tidak menjawab.

"Aku tahu kau di dalam. Kumohon, buka pintunya."

Tapi Virginia tidak bisa. Karena membuka pintu berarti mengakui bahwa Stella tidak akan pernah mengetuk pintu lagi. Tidak akan pernah duduk di tepi tempat tidurnya. Tidak akan pernah membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam itu, Virginia mendengar suara lagi. Bukan suara Stella. Suara yang lain—suara-suara yang berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti, yang datang dari sudut-sudut kamar yang gelap, yang mengatakan hal-hal menakutkan tentang dirinya, tentang dunia, tentang ketidakmungkinan untuk terus hidup.

Breakdown kedua berlangsung lebih lama dari yang pertama. Dokter datang. Memberikan obat-obatan yang membuat Virginia tidur selama berjam-jam tapi tidak membuat suara-suara pergi. Menyarankan istirahat, udara segar, tidak terlalu banyak membaca—seolah-olah buku adalah penyebab kegilaan, bukan obatnya.

Tapi Virginia tahu kebenarannya: ia tidak gila karena membaca terlalu banyak. Ia gila karena kehilangan orang-orang yang ia cintai, satu per satu, dan tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa. Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa kehilangan itu akan berhenti.

Pola sudah jelas sekarang. Setiap kali ia membiarkan dirinya mencintai seseorang—benar-benar mencintai, dengan seluruh hatinya—orang itu akan pergi. Dan ia akan jatuh ke dalam pusaran yang sama. Suara-suara. Kegelapan. Ketidakmampuan untuk membedakan antara apa yang nyata dan apa yang hanya ada di dalam kepalanya.

Tapi pusaran itu juga tempat di mana ia menemukan suaranya sebagai penulis. Di kedalaman itu, di tempat yang paling gelap, ia menemukan bahasa untuk menggambarkan apa yang tidak bisa digambarkan orang lain: bagaimana rasanya hidup di dalam pikiran yang tidak pernah diam. Bagaimana rasanya tenggelam dan mencoba berenang pada saat yang bersamaan.

VII.

Leslie Stephen meninggal pada 22 Februari 1904.

Kanker perut. Penyakit yang perlahan-lahan memakan tubuhnya dari dalam, membuat pria besar yang keras itu menjadi kecil dan rapuh. Di bulan-bulan terakhir, ia berbaring di tempat tidur dan memanggil anak-anaknya satu per satu—untuk meminta maaf, atau untuk mengatakan hal-hal yang tidak pernah ia katakan saat masih sehat.

Ketika giliran Virginia, ia duduk di kursi di samping tempat tidur ayahnya dan mendengarkan.

"Aku tahu aku bukan ayah yang baik," kata Leslie dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Aku terlalu keras. Terlalu... terlalu banyak."

Virginia memegang tangan ayahnya—tangan yang dulu besar dan kuat, sekarang hanya tulang terbungkus kulit. "Tidak apa-apa, Ayah."

"Tidak. Tidak apa-apa." Leslie menatap langit-langit. "Aku seharusnya lebih... aku seharusnya..."

Tapi ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Dan Virginia tidak menanyakan apa yang seharusnya. Karena mereka berdua tahu bahwa waktu untuk seharusnya sudah habis.

Ketika Leslie meninggal, Virginia merasakan sesuatu yang aneh: lega.

Bukan lega yang jahat atau dingin. Tapi lega seperti ketika badai akhirnya berhenti dan kau bisa mendengar burung berkicau lagi. Lega seperti ketika sesuatu yang sudah lama menekanmu akhirnya diangkat, dan kau bisa bernapas lebih dalam.

Ia merasa bersalah karena merasa lega. Tapi rasa bersalah itu tidak mengubah kenyataan.

Dalam buku hariannya, Virginia menulis: "Ayah sudah tiada. Dan aku merasakan—aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini tanpa terdengar kejam—aku merasakan bahwa sekarang aku bisa mulai hidup."

Dua hal bisa benar pada saat bersamaan. Ia mencintai ayahnya. Ia membencinya. Ia berduka untuk kematiannya. Ia lega karena ia pergi. Kontradiksi tidak perlu diselesaikan. Mereka hanya perlu diakui.

Setelah pemakaman, Virginia mengalami breakdown ketiga—yang paling parah sejauh ini. Ia mencoba bunuh diri dengan melompat dari jendela, tapi Vanessa menangkapnya tepat waktu. Dokter datang lagi. Perawat disewa. Virginia dirawat seperti anak kecil yang tidak bisa dipercaya untuk menjaga dirinya sendiri.

Tapi kali ini, ada perbedaan. Kali ini, setelah kegelapan mulai surut, ada cahaya di ujung terowongan yang bukan hanya ilusi.

Karena dengan kematian Leslie Stephen, rumah di Hyde Park Gate tidak lagi menjadi penjara.

Vanessa—yang selalu lebih praktis, lebih kuat—membuat keputusan: mereka akan pindah. Meninggalkan rumah dengan semua hantunya. Meninggalkan Hyde Park Gate dengan perpustakaannya yang gelap dan koridor yang penuh bayangan.

Mereka akan pindah ke Bloomsbury.

Sebuah kawasan di London yang pada saat itu dianggap kurang elit, kurang proper—yang artinya, lebih bebas. Lebih banyak seniman. Lebih banyak orang yang tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Victorian Society tentang bagaimana seharusnya hidup dijalani.

Vanessa menemukan rumah di Gordon Square—nomor 46. Tiga lantai. Jendela besar yang membiarkan cahaya masuk. Dan yang paling penting: tidak ada hantu.

Pada musim gugur 1904, Virginia dan saudara-saudaranya—Vanessa, Thoby, Adrian—pindah ke kehidupan baru mereka.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Virginia, ia punya kamar sendiri. Bukan kamar yang ia bagi dengan Vanessa. Bukan kamar yang pintunya tidak terkunci. Kamar yang benar-benar miliknya—di mana ia bisa menulis, membaca, berpikir, tanpa takut ada yang mengetuk atau masuk tanpa izin.

Sebuah ruang sendiri. Hal yang akan ia tulis bertahun-tahun kemudian sebagai prasyarat bagi perempuan untuk bisa menciptakan.

Tapi lebih dari ruang, yang ia dapatkan di Bloomsbury adalah kebebasan. Kebebasan untuk memilih dengan siapa ia menghabiskan waktu. Kebebasan untuk berbicara tentang ide-ide yang di rumah ayahnya dianggap tidak pantas untuk perempuan. Kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri—meskipun dirinya itu rumit, kontradiktif, dan kadang-kadang terlalu banyak untuk dunia di sekitarnya.

VIII.

Saya mencelupkan jari ke sungai lagi.

Kali ini lebih dalam. Air mencapai pergelangan tangan. Dingin. Lebih dingin dari yang saya kira. Tapi ada sesuatu yang menenangkan tentang dingin itu—seperti cara es batu mematikan rasa sakit di gigi yang sakit. Tidak menyembuhkan, tapi membuat sementara bisa ditanggung.

Ketika saya mengangkat tangan, ada lagi—tulisan di telapak tangan. Kali ini lebih jelas. Atau mungkin mata saya yang sudah terbiasa melihat hal-hal yang seharusnya tidak ada.

"I am rooted, but I flow."

Kalimat dari The Waves—novel Woolf yang paling eksperimental, paling sulit, paling indah. Novel tentang enam orang yang suaranya mengalir seperti ombak, dari masa kecil sampai kematian, tanpa plot yang jelas, tanpa dialog tradisional. Hanya kesadaran yang bergerak.

Aku berakar, tapi aku mengalir.

Kontradiksi yang Virginia Woolf jalani sepanjang hidupnya. Terikat pada keluarga yang menghancurkannya, tapi mengalir menuju kehidupan yang ia ciptakan sendiri. Terikat pada tubuh yang membawa trauma, tapi mengalir dalam pikiran yang membuat karya abadi. Terikat pada kegelapan yang terus kembali, tapi mengalir mencari cahaya.

Saya mengeringkan tangan di celana jeans. Tulisan itu memudar. Tapi kalimat itu tetap di kepala, seperti lagu yang tidak bisa berhenti diputar.

Di seberang sungai, perempuan tua itu duduk lagi. Kali ini ia tidak sendirian. Ada seseorang duduk di sampingnya—perempuan yang lebih muda, dengan rambut yang diikat ke belakang. Mereka tidak berbicara. Hanya duduk di sana, berdampingan, menatap air.

Untuk sesaat, saya berpikir itu Virginia dan Vanessa. Dua bersaudara yang selamat dari Hyde Park Gate. Yang saling menjaga di malam-malam ketika gelombang datang. Yang membangun kehidupan baru di Bloomsbury.

Lalu saya berkedip, dan bangku itu kosong lagi.

Matahari mulai condong ke barat. Bayangan pohon memanjang di permukaan air. Suara kota mulai mereda—atau mungkin saya yang sudah terbiasa, sehingga tidak lagi mendengarnya sebagai kebisingan, hanya sebagai latar belakang.

Saya membuka Mrs Dalloway lagi, mencari halaman yang saya tandai. Ada kalimat yang Virginia Woolf tulis tentang Septimus—veteran perang yang mengalami PTSD, yang mendengar suara-suara, yang akhirnya memilih untuk melompat dari jendela daripada terus hidup dalam kegilaan.

"He had grown stranger and stranger," tulis Woolf. "He said people were talking behind the bedroom walls. Mrs. Filmer thought it odd. He saw things too—he had seen an old woman's head in the middle of a fern."

Ia menjadi semakin aneh. Ia mengatakan ada orang berbicara di balik dinding kamar. Ia melihat hal-hal—ia melihat kepala perempuan tua di tengah-tengah pakis.

Virginia menulis Septimus dari pengalamannya sendiri. Dari suara-suara yang ia dengar. Dari bayangan yang ia lihat. Dari perasaan bahwa dunia di luar tidak sepenuhnya nyata, atau mungkin terlalu nyata, sampai-sampai menyakitkan untuk dipandang.

Tapi perbedaan antara Virginia dan Septimus adalah ini: Virginia memiliki orang-orang yang mencintainya. Vanessa yang tidak pernah meninggalkannya. Teman-teman yang akan datang. Dan nanti—nanti—Leonard, yang akan memilih untuk tinggal meskipun tahu seperti apa gelombang itu ketika datang.

Setelah kematian ayah, Virginia dan saudara-saudaranya pindah ke Bloomsbury. Dan di sana, di rumah dengan pintu yang selalu terbuka, Virginia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.

Keluarga yang ia pilih sendiri.

Orang-orang yang datang bukan karena darah atau kewajiban, tapi karena mereka benar-benar ingin ada di sana. Karena mereka melihat pikirannya—yang mengalir seperti sungai, yang kadang tenang dan kadang berputar-putar dalam pusaran—dan tidak lari. Mereka tinggal. Mereka mendengarkan. Mereka berbicara tentang seni dan filosofi dan cinta sampai matahari terbit.

Di Bloomsbury, Virginia belajar bahwa ia tidak harus memilih antara berakar atau mengalir. Ia bisa menjadi keduanya. Ia bisa membawa trauma masa lalunya—semua kematian, semua kegelapan—dan tetap bergerak maju. Tidak melupakan, tapi tidak tenggelam.

Sungai terus mengalir. Membawa sampah dan bunga. Membawa masa lalu dan kemungkinan. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah menunggu izin.

Dan saya duduk di tepi sungai itu, memegang buku, membiarkan air mengalir, dan bertanya-tanya: berapa banyak dari kita yang berakar tapi juga mengalir? Berapa banyak dari kita yang membawa luka tapi juga menciptakan keindahan? Berapa banyak dari kita yang memilih untuk tetap hidup, hari demi hari, meskipun pusaran terus datang?

Jawabannya, mungkin, ada di halaman-halaman yang masih harus saya baca.


Bersambung ke Bagian 3: Bloomsbury dan Cinta...

Index Lengkap:


Komentar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Analisis Mendalam: "Keheningan yang Menyembuhkan" - Prosa Kontemplasi Masterclass

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif