Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Bagian 5: The Last Shot

Hemingway di Bar

Bagian 5: The Last Shot

Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es

Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap.

Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es.

Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, kosong, seperti jendela rumah yang ditinggalkan. Berat badannya turun drastis—dari dua ratus lima puluh pound jadi seratus tujuh puluh. Wajahnya keriput dalam, seperti kertas yang sudah terlalu sering dilipat dan tidak bisa rata lagi.

"Whiskey," katanya—suaranya serak, pecah. Bukan pertanyaan. Dia sudah tahu apa yang kuminta. Atau mungkin dia yang minta, dan aku hanya bayangan di barnya sendiri.

Sebotol tua tanpa label diletakkan di meja. Whiskey dituang—bening kecoklatan, tidak berubah warna, tidak ada sihir. Hanya whiskey murni, neat, brutal dalam kejujurannya.

Aku meneguk. Membakar tenggorokan seperti tembakan. Tapi aku sudah terlalu mati rasa untuk peduli.

"Ini cerita terakhir," kata Ernest—atau bartender yang jadi Ernest, atau Ernest yang jadi bartender. Aku tidak bisa membedakan lagi. "Cerita yang tidak ada yang ingin diceritakan."

Di cermin bar, aku melihat bukan refleksiku. Tapi rumah kayu di pegunungan Idaho. Salju di luar. Senapan di dinding. Pagi yang terlalu sunyi.

Ketchum, Idaho: Tempat Terakhir untuk Bersembunyi

Setelah meninggalkan Kuba tahun 1960, Ernest dan Mary pindah ke Ketchum, Idaho. Kota kecil pegunungan, dingin, tenang. Rumah kayu sederhana dengan pemandangan gunung, jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari wartawan yang ingin wawancara, jauh dari semua orang yang masih mengira Ernest Hemingway adalah pahlawan yang kuat dan tidak terkalahkan.

Tapi Ernest tidak pindah ke Idaho untuk damai. Dia pindah untuk bersembunyi.

Paranoia sudah mulai. Dia yakin FBI mengawasinya—menyadap telepon, membaca surat, mengikutinya ke mana-mana. Mary mencoba meyakinkan dia bahwa itu tidak nyata, hanya delusi. Tapi Ernest bersikeras. "Mereka mengincarku," dia bilang. "Karena Kuba. Karena aku kenal Castro."

Yang menakutkan: dia benar. File FBI yang dibuka puluhan tahun kemudian mengonfirmasi bahwa Ernest memang diawasi sejak tahun 1940an karena aktivitas pro-Republik di Perang Saudara Spanyol dan hubungannya dengan pemerintah Kuba. Tapi paranoia Ernest jauh melampaui kenyataan—dia pikir mereka akan menangkapnya, menyiksanya, menghancurkannya.

"Yang paling buruk," bisik Ernest, menuangkan whiskey lagi, "bukan bahwa kau paranoid. Tapi bahwa kau paranoid dan kau benar, dan tidak ada yang percaya."

Mayo Clinic: Electroshock dan Kehilangan Diri

Pada November 1960, Mary tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ernest tidak tidur, tidak makan, tidak menulis. Dia hanya duduk di jendela dengan senapan di pangkuan, mengawasi jalan, menunggu agen FBI yang dia yakin akan datang. Dia mencoba bunuh diri dua kali—pertama dengan senapan, kedua dengan berjalan ke baling-baling pesawat. Mary menghentikannya tepat waktu.

Mayo Clinic di Rochester, Minnesota. Rumah sakit terbaik di Amerika. Ernest didaftarkan dengan nama samaran—George Saviers—untuk privasi. Diagnosis: depresi berat, delusi paranoid, kemungkinan dementia. Pengobatan: electroconvulsive therapy. ECT. Shock treatment.

Sepuluh hingga lima belas sesi. Elektroda ditempelkan di kepala, arus listrik dialirkan, otak di-reset seperti komputer yang rusak. Teorinya: menghancurkan pola pikir yang merusak. Praktiknya: menghancurkan memori, menghancurkan kepribadian, menghancurkan segala yang membuat Ernest jadi Ernest.

"Apa gunanya menghancurkan kepalaku?" Ernest menulis pada teman sebelum ECT dimulai. "Itu satu-satunya modal yang kupunya. Kepala yang diisi dengan memori—tempat, nama, cerita. Mereka akan menghapus semuanya dan menyebutnya penyembuhan."

Dia benar. Setelah ECT, Ernest tidak bisa mengingat nama teman lama. Tidak bisa mengingat cerita yang dia tulis. Tidak bisa mengingat detail Paris, Spanyol, Afrika—semua yang membuat tulisannya hidup. Yang lebih buruk: dia tidak bisa menulis lagi. Kata-kata tidak datang. Kalimat tidak terbentuk.

"Mereka menghancurkan kepala penulis terbaik di dunia," kata Ernest pada Mary dengan suara kosong, tanpa amarah, hanya kekosongan. "Dan mereka menyebutnya pengobatan."

Whiskey di gelasku tidak berkurang meskipun aku terus minum. Atau mungkin Ernest terus menuangkan tanpa aku sadari. Tangannya gemetar saat menuang, tapi dia sudah terbiasa dengan gemetar—sudah terlalu lama hidup dengan tangan yang tidak pernah stabil.

Released but Not Healed

Pada Januari 1961, Ernest dinyatakan sembuh dan dipulangkan dari Mayo Clinic. Tapi "sembuh" hanya berarti dia tidak lagi mencoba bunuh diri setiap hari. Tidak berarti dia bahagia. Tidak berarti dia utuh.

Dia kembali ke Ketchum dengan Mary. Mencoba menulis. Duduk di depan mesin tik selama berjam-jam, menatap halaman kosong, tidak bisa menghasilkan satu kalimat pun yang terasa benar. Semua yang dia tulis terasa asing, seolah ditulis orang lain, orang yang tidak dia kenal.

Forced abstinence di Mayo Clinic membuat tubuhnya withdrawal dari alkohol—gemetar, berkeringat dingin, mimpi buruk yang lebih buruk dari biasa. Beberapa dokter kemudian berspekulasi bahwa dengan kondisi fisik Ernest—liver damage, hemochromatosis, CTE—mungkin dia akan bertahan lebih lama jika dibiarkan minum. Alkohol setidaknya meredakan gejala, membuat hidup sedikit lebih dapat ditoleransi.

Tapi sekarang, tanpa alkohol, tanpa kemampuan menulis, tanpa memori yang utuh, Ernest tinggal cangkang kosong dari pria yang dulu dia kenal.

"Aku tidak tahu siapa aku tanpa kata-kata," bisiknya pada Mary suatu malam. "Jika aku tidak bisa menulis, apa gunanya bernafas?"

Mary tidak punya jawaban. Tidak ada yang punya.

April 1961: Kembali ke Mayo, Kembali ke Shock

Pada April, kondisi Ernest memburuk lagi. Paranoia kembali. Percobaan bunuh diri lagi. Mary membawanya kembali ke Mayo Clinic untuk rawat inap kedua. ECT lagi. Lebih banyak shock. Lebih banyak memori yang terhapus.

Ernest menulis surat pada teman: "What is the sense of ruining my head and erasing my memory, which is my capital, and putting me out of business?"

Apa gunanya menghancurkan kepalaku dan menghapus memoriku, yang adalah modal satu-satunya, dan membuat aku bangkrut?

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu dengan memuaskan. Psikiater mengatakan depresi harus dihentikan dengan cara apa pun. Tapi mereka tidak mengerti—atau tidak peduli—bahwa untuk penulis seperti Ernest, kehilangan memori sama dengan kehilangan identitas. Sama dengan kematian, hanya lebih lambat, lebih kejam.

Pada 26 Juni 1961, Ernest dinyatakan sembuh lagi dan dipulangkan. Tapi kali ini, bahkan Mary tahu bahwa "sembuh" adalah kebohongan yang sopan. Ernest bukan sembuh. Ernest sudah tidak ada. Yang pulang ke Ketchum adalah bayangan, hantu yang berjalan dengan wajah Ernest tapi tanpa jiwa Ernest.

2 Juli 1961, Minggu Pagi: Ledakan Terakhir

Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lainnya di musim panas Idaho. Matahari baru terbit, udara masih dingin, burung mulai berkicau. Mary masih tidur di lantai atas. Ernest bangun lebih awal—seperti biasa, meskipun sekarang dia tidak menulis lagi, kebiasaan bangun pagi tetap tertanam dalam tubuhnya.

Dia turun ke lantai bawah. Berjalan ke ruang penyimpanan di mana senapan-senapan disimpan. Mary mengunci ruangan itu, tapi Ernest menemukan kunci—atau mungkin dia tidak pernah lupa di mana Mary menyembunyikannya. Dia membuka pintu. Mengambil senapan favorit-nya—Boss double-barrel shotgun, atau mungkin W. & C. Scott, sumber berbeda menyebut senapan berbeda, tapi tidak penting senapan mana, yang penting adalah apa yang dia lakukan dengannya.

Dia berjalan ke foyer. Berdiri di sana sebentar. Mungkin berpikir. Atau mungkin sudah terlalu lelah untuk berpikir.

Dia menaruh pangkal senapan di lantai. Memasukkan dua peluru. Menaruh laras di dagu—atau di mulut, atau di dahi, detail berbeda-beda tergantung siapa yang menceritakan, tapi pada akhirnya tidak ada bedanya.

Trigger ditarik.

Ledakan.

Mary terbangun dari suara itu. Berlari ke bawah. Menemukan yang tidak bisa disebut Ernest lagi—hanya tubuh, darah, pecahan yang tidak bisa disatukan lagi.

Jam menunjukkan 07:30 pagi. 2 Juli 1961. Minggu.

Ernest Miller Hemingway berusia enam puluh satu tahun, delapan bulan, sebelas hari.

Whiskey di gelasku sekarang terasa seperti abu. Atau mungkin lidahku sudah mati rasa. Ernest—bartender—menatapku dengan mata yang kosong.

"Kau tahu apa yang paling menyedihkan?" tanyanya.

Aku menggeleng.

"Bukan bahwa dia bunuh diri. Tapi bahwa pada akhirnya, dia tidak punya pilihan lain. Semua jalan keluar sudah ditutup. Menulis sudah tidak mungkin. Hidup tanpa menulis sudah tidak mungkin. Jadi yang tersisa hanya satu jalan."

The Family Curse: Seven Suicides

Ernest bukan yang pertama dalam keluarga Hemingway yang bunuh diri. Ayahnya, Dr. Clarence, sudah melakukannya tahun 1928 dengan pistol Civil War.

Tapi Ernest juga bukan yang terakhir.

Ursula, adik Ernest, bunuh diri tahun 1966 dengan overdosis obat. Leicester, adik laki-lakinya, bunuh diri tahun 1982 dengan senapan, seperti Ernest. Margaux Hemingway, cucu Ernest, bunuh diri tahun 1996 dengan overdose phenobarbital, tepat sehari sebelum ulang tahun kematian Ernest yang ke-35.

Tujuh anggota keluarga Hemingway bunuh diri sepanjang empat generasi. Hemochromatosis—penyakit genetik yang tidak terdiagnosis—menyebabkan kerusakan otak yang memicu depresi, mood swings, impulsive behavior. Ditambah dengan trauma, alkoholisme, dan konstruksi maskulinitas toxic yang melarang meminta pertolongan, keluarga Hemingway adalah studi kasus tentang bagaimana genetic predisposition bertemu dengan cultural poison dan menghasilkan tragedi berulang.

"Itu bukan kelemahan," kata Ernest pelan. "Itu penyakit. Tapi di zaman aku, pria tidak boleh sakit. Pria harus kuat, harus tahan, harus grace under pressure. Jadi kami mati, satu per satu, karena terlalu bangga untuk minta tolong."

Legacy: Words That Remain

Ernest Hemingway meninggalkan tujuh novel, enam koleksi cerita pendek, dua karya non-fiksi. Nobel Prize. Pulitzer Prize. Influence yang membentuk sastra Amerika abad kedua puluh. Generasi penulis yang belajar dari kalimat pendeknya, dari iceberg theory-nya, dari cara dia menulis kebenaran tanpa sentimentalitas.

The Sun Also Rises masih dibaca sebagai manifesto Lost Generation. A Farewell to Arms masih dianggap salah satu novel perang terbaik. For Whom the Bell Tolls masih mengajarkan tentang keberanian dan pengorbanan. The Old Man and the Sea masih menginspirasi tentang martabat dalam kekalahan.

Tapi di balik semua itu, ada pria yang mati sendirian di pagi hari, dengan senapan di tangan dan kekosongan di kepala, karena dia kehilangan satu-satunya hal yang membuat hidupnya berarti: kemampuan untuk mengubah pengalaman jadi kata-kata.

"Aku menulis satu kalimat yang benar," kata Ernest, mengutip dirinya sendiri muda. "Kalimat yang paling benar yang kutahu."

"Tapi pada akhirnya," lanjutnya, "semua kalimat benar berujung pada kalimat yang sama: aku tidak bisa lagi."

Bar Terakhir: Percakapan dengan Bayangan

Aku menatap whiskey di gelasku—tidak berkurang, tidak bertambah, hanya ada seperti fakta yang tidak bisa diubah. Ernest duduk di seberang meja bar sekarang, tidak lagi berdiri di belakang counter. Kita berhadapan, dua bayangan di bar yang mungkin tidak pernah ada.

"Kenapa kau tidak berhenti minum?" tanyaku. Pertanyaan bodoh, tapi aku harus bertanya.

"Karena aku tidak tahu bagaimana berhenti menjadi diriku sendiri," jawabnya sederhana. "Alkohol bukan hanya kebiasaan. Itu identitas. Itu cara aku menulis, cara aku berpikir, cara aku bertahan. Tanpa alkohol, aku bukan Hemingway. Aku hanya Ernest—bocah dari Oak Park yang ibunya dandani seperti perempuan, yang takut dia tidak cukup jantan, yang takut dia tidak cukup baik."

"Tapi kau adalah cukup baik."

Dia tersenyum—sedih, lelah. "Aku tahu. Tapi mengetahui sesuatu dan merasakannya adalah dua hal berbeda. Aku bisa menulis tentang grace under pressure, tapi aku tidak pernah benar-benar merasakannya. Aku hanya pria yang takut, yang menutupi ketakutan dengan alkohol dan bravado dan kata-kata yang keras."

Dia meneguk whiskey-nya—atau berpura-pura meneguk, aku tidak yakin apakah bayangan bisa minum.

"Dunia mengingatku sebagai pahlawan," lanjutnya. "Penulis besar, petualang, pemburu, pecinta, pejuang. Tapi kebenaran lebih sederhana dan lebih sedih: aku hanya pria yang menulis bagus tentang kesakitan, karena aku sangat akrab dengan rasa sakit. Dan pada akhirnya, rasa sakit itu menang."

Aku berdiri untuk pergi. Kali ini, aku tahu ini terakhir. Bar ini tidak akan ada besok. Atau mungkin akan ada, tapi aku tidak akan menemukannya lagi.

Ernest berdiri juga. Kita berhadapan di cahaya tungsten yang hampir mati.

"Apa yang ingin kau katakan pada orang yang membaca ceritamu?" tanyaku.

Dia berpikir lama. Lalu tersenyum—untuk pertama kalinya, senyum yang terasa nyata.

"Katakan bahwa aku mencoba. Katakan bahwa aku menulis kalimat-kalimat yang benar sebisaku. Katakan bahwa aku mencintai kata-kata lebih dari yang aku tahu cara mengungkapkannya."

Dia berhenti. Lalu menambahkan, lebih pelan:

"Dan katakan bahwa jika ada pria muda di luar sana yang merasa seperti aku—yang merasa dia harus kuat, harus keras, harus menyembunyikan kesakitan—katakan padanya: tidak apa-apa untuk minta tolong. Tidak apa-apa untuk rapuh. Tidak apa-apa untuk berhenti."

"Sesuatu yang tidak pernah kau lakukan," bisikku.

"Sesuatu yang tidak pernah aku bisa lakukan," dia mengoreksi. "Karena aku dibesarkan di zaman yang salah, dengan penyakit yang salah, dengan ide yang salah tentang apa artinya jadi pria."

Dia mengulurkan tangan. Aku berjabat tangan—tangannya dingin, seperti memegang udara.

"Terima kasih sudah mendengarkan," katanya.

"Terima kasih sudah bercerita."

Aku berjalan ke pintu. Sebelum membuka, aku menoleh sekali lagi. Ernest masih berdiri di sana, tapi sekarang dia tampak lebih muda—kumisnya hitam lagi, matanya tajam lagi, posturnya tegak lagi. Dia tersenyum, mengangkat gelas whiskey yang kosong dalam toast.

"Untuk kalimat yang benar," katanya.

"Untuk kalimat yang benar," aku jawab.

Aku keluar. Pintu tertutup di belakangku.

Ketika aku berbalik untuk melihat bar itu sekali lagi, yang ada hanya tembok kosong, jalan yang sepi, dan malam yang mulai berubah jadi pagi.

Di tanganku, entah dari mana, ada selembar kertas lusuh. Tulisan mesin tik, pudar, tapi masih terbaca:

"All good books are alike in that they are truer than if they had really happened and after you are finished reading one you will feel that all that happened to you and afterwards it all belongs to you: the good and the bad, the ecstasy, the remorse and sorrow, the people and the places and how the weather was."

Semua buku yang bagus serupa karena mereka lebih benar daripada jika benar-benar terjadi, dan setelah kau selesai membaca satu, kau akan merasa semua itu terjadi padamu dan setelahnya semua menjadi milikmu: yang baik dan buruk, ekstasi, penyesalan dan kesedihan, orang-orang dan tempat-tempat dan bagaimana cuacanya.

Aku melipat kertas itu, memasukkannya ke saku, dan berjalan pulang dalam dingin pagi Idaho yang tidak pernah kukenal tapi entah kenapa terasa familiar, seperti memori yang bukan milikku tapi sekarang sudah menjadi bagian dariku.

Seperti semua cerita yang benar.

Seperti Hemingway di bar yang tidak pernah ada, tapi akan selalu ada, selama ada orang yang mengingat bahwa di balik kata-kata keras dan maskulinitas palsu, hanya ada pria yang lelah, yang mencoba bertahan, yang akhirnya tidak bisa.

Dan bahwa itu—pada akhirnya—adalah cerita paling manusiawi dari semuanya.


📚 INDEX TULISAN "HEMINGWAY DI BAR"

Bagian 1: Peluru Pertama | Bagian 2: Paris Burns | Bagian 3: The Matador's Blood | Bagian 4: Cuba Libre (Dan Tidak) | Bagian 5: The Last Shot


📖 BACAAN LANJUTAN


Catatan Medis:

  1. Hemochromatosis: Penyakit genetik yang menyebabkan tubuh menyimpan terlalu banyak zat besi, merusak liver, jantung, dan otak. Dapat menyebabkan depresi dan perubahan mental.
  2. CTE (Chronic Traumatic Encephalopathy): Kerusakan otak dari concussion berulang, menyebabkan perubahan mood, kehilangan memori, dan perilaku impulsif.
  3. ECT (Electroconvulsive Therapy): Terapi kejut listrik untuk depresi berat. Di era 1960an, sering menyebabkan kehilangan memori signifikan.

Esai biografi personal naratif tentang Ernest Hemingway. Bagian kelima dan terakhir ini mengeksplorasi tahun-tahun terakhir di Idaho, ECT di Mayo Clinic, bunuh diri pada 2 Juli 1961, dan warisan yang ditinggalkan—baik dalam sastra maupun dalam tragedi keluarga yang berulang.


Epilog: Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami pikiran untuk bunuh diri, mohon hubungi layanan kesehatan mental atau hotline krisis. Di Indonesia: (021) 500-454 (Into The Light) atau 119 ext. 8 (Kementerian Kesehatan).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Analisis Mendalam: "Keheningan yang Menyembuhkan" - Prosa Kontemplasi Masterclass

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif