Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif

Kafka di Ruang Tunggu

Kafka di Ruang Tunggu

Sebuah Personal Naratif

Bagian 1: Surat yang Tidak Pernah Sampai


I.

Saya sudah duduk di kursi plastik ini selama tiga jam, dan saya masih tidak tahu kesalahan apa yang saya lakukan.

Di depan saya, layar elektronik menampilkan angka 247. Nomor antrean saya 283. Di sekeliling ruangan, wajah-wajah manusia telah kehilangan ekspresi—bukan karena mereka tidak merasakan apa-apa, melainkan karena mereka sudah merasakan terlalu banyak hal yang sama: penantian tanpa kepastian, harapan yang terus-menerus ditunda, dan rasa bersalah samar yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.

Seorang petugas berseragam memanggil nomor berikutnya dengan suara yang sangat ramah. Terlalu ramah. Ada sesuatu yang mengerikan dari keramahan yang mekanis—senyum yang tidak pernah mencapai mata, kesopanan yang terukur seperti takaran gula dalam resep kue.

Di sudut ruangan, seorang ibu muda mencoba menenangkan bayinya yang rewel. Seorang lelaki tua membaca koran kemarin dengan konsentrasi berlebihan, seolah berita yang sudah basi itu menyimpan rahasia penting tentang nasibnya hari ini. Seorang pemuda menatap ponselnya, tapi jarinya tidak bergerak—layar hanya menjadi cermin untuk ketidakhadirannya.

Saya membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku yang sudah saya bawa selama berminggu-minggu tanpa sempat dibaca. Sampulnya sudah lusuh di sudut-sudut. The Trial. Franz Kafka.

Di halaman pertama, seorang pria bernama Josef K. terbangun dan mendapati dirinya ditangkap. Ia tidak tahu apa kesalahannya. Tidak ada yang memberitahunya. Dan yang paling mengerikan: semua orang yang menangkapnya bersikap sangat profesional, sangat prosedural, sangat sopan.

Saya menutup buku itu dan menatap layar elektronik lagi. 248.

Masih 35 nomor lagi.


II.

Pertama kali saya membaca Kafka, saya berusia sembilan belas tahun dan sedang menunggu hasil ujian yang akan menentukan apakah saya bisa melanjutkan kuliah atau tidak.

Bukan pilihan bacaan yang bijaksana, tentu saja. Tapi ada sesuatu dalam cara Kafka menulis yang membuat saya tidak bisa berhenti. Kalimat-kalimatnya sangat jernih, sangat tenang, hampir birokratis dalam ketelitiannya—dan justru karena itu, sangat mengerikan.

Die Verwandlung. The Metamorphosis. Seorang pria bernama Gregor Samsa terbangun suatu pagi dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa.

Yang mengejutkan saya bukan transformasinya. Bukan kaki-kaki kecil yang bergerak-gerak di udara, bukan punggung keras seperti baja lapis, bukan ketidakmampuannya untuk membalikkan tubuh dari posisi telentang. Yang mengejutkan saya adalah reaksi keluarganya.

Awalnya, mereka terkejut. Lalu kasihan. Lalu kesal, karena Gregor tidak lagi bisa pergi bekerja dan membayar utang-utang keluarga. Dan akhirnya, ketika ia mati—kurus kering, dilupakan, dikurung di kamarnya sendiri—mereka merasa lega.

Saya ingat menutup buku itu dan menatap langit-langit kamar kos saya yang retak-retak. Di luar, suara motor dan pedagang keliling bercampur menjadi simfoni kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Dan saya berpikir: ini bukan cerita tentang serangga. Ini cerita tentang apa yang terjadi ketika kita berhenti menjadi berguna.

Membaca Kafka bukan seperti membaca buku. Lebih seperti seseorang akhirnya mengucapkan dengan keras apa yang selama ini kita bisikkan sendiri di kamar mandi, di tengah malam, ketika tidak ada yang mendengar.


III.

Franz Kafka lahir pada tanggal 3 Juli 1883, di Praha, sebuah kota yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria yang sedang sekarat.

Praha pada pergantian abad adalah labirin tiga bahasa—Jerman, Ceko, Yiddish—dan Kafka tidak pernah benar-benar berada di rumah dalam salah satu dari ketiganya. Ia berbicara bahasa Jerman di rumah, tapi keluarganya adalah minoritas Yahudi di tengah mayoritas Ceko. Ia bukan Yahudi yang religius, tapi ia merasakan "Yahudi" sebagai kondisi eksistensial: selalu menjadi orang asing, selalu dicurigai, selalu harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.

Kafka adalah anak laki-laki dalam keluarga yang kehilangan dua putra sebelumnya. Setelahnya lahir tiga adik perempuan—Elli, Valli, Ottla—yang semuanya akan mati di kamp konsentrasi Nazi beberapa dekade kemudian, sebuah tragedi yang tidak pernah Kafka saksikan karena ia sudah meninggal dua puluh tahun sebelumnya.

Tapi tragedi yang Kafka saksikan—dan hidupi setiap hari—adalah ayahnya.

Hermann Kafka adalah seorang pedagang yang sukses, seorang patriark dengan suara keras dan keyakinan yang tidak pernah goyah tentang bagaimana dunia seharusnya bekerja. Ia adalah orang yang membangun bisnisnya dari nol, yang percaya pada kerja keras dan ketegasan, yang melihat putranya yang kurus dan pendiam dan pemalu sebagai kegagalan yang berjalan.

Franz Kafka, di sisi lain, adalah orang yang tidak bisa menghentikan dirinya dari berpikir terlalu dalam tentang segalanya. Ia adalah orang yang, ketika bosnya di kantor asuransi menawarkan kenaikan gaji, tidak bisa menahan tawa—bukan karena senang, tapi karena absurditas situasi itu terlalu banyak untuknya.

Hubungan antara ayah dan anak ini akan menghantui seluruh karya Kafka. Setiap figur otoritas dalam cerita-ceritanya—hakim yang tidak terlihat, pejabat yang tidak bisa ditemui, ayah yang menghakimi—adalah bayangan Hermann Kafka yang diperbesar hingga menjadi metafisika.


IV.

Pada November 1919, ketika Kafka berusia 36 tahun dan sudah didiagnosis tuberkulosis, ia menulis sebuah surat kepada ayahnya.

Surat itu panjangnya 47 halaman. Diketik dengan mesin tik, dikoreksi dengan tangan di sana-sini. Sebuah dokumen yang oleh The New York Times Book Review disebut sebagai "salah satu pengakuan terbesar dalam sejarah sastra."

Surat itu dimulai dengan kalimat: "Ayah tersayang, baru-baru ini Ayah bertanya mengapa saya mengatakan bahwa saya takut kepada Ayah."

Dan kemudian, selama puluhan halaman berikutnya, Kafka mencoba menjelaskan.

Ia menulis tentang masa kecilnya—tentang bagaimana ayahnya akan mengejek teman-temannya, mencemooh ide-idenya, menghancurkan kepercayaan dirinya dengan ironi yang tajam dan superioritas verbal yang tidak bisa ia lawan. Ia menulis tentang bagaimana ia tumbuh dengan keyakinan bahwa apa pun yang ia lakukan tidak akan pernah cukup baik, bahwa ia secara fundamental salah sebagai manusia, bahwa kesalahannya sudah ada sebelum ia sempat melakukan apa pun.

Yang luar biasa dari surat ini bukan amarahnya—meskipun ada amarah di sana. Yang luar biasa adalah keadilannya. Kafka terus-menerus mencoba melihat dari sudut pandang ayahnya, terus-menerus memberikan pembelaan untuk perilaku ayahnya, terus-menerus mengakui bahwa mungkin—mungkin—ia sendiri yang salah menilai.

"Saya tidak pernah berpikir bahwa Ayah bersalah atas apa pun," tulisnya. "Ayah hanya menjadi diri Ayah, dan saya hanya menjadi diri saya, dan keduanya tidak bisa bertemu."

Kafka memberikan surat itu kepada ibunya untuk diberikan kepada ayahnya.

Ibunya tidak pernah menyampaikannya.

Mungkin ia tahu bahwa ayahnya tidak akan mengerti. Mungkin ia tahu bahwa surat itu akan memperburuk segalanya. Atau mungkin—dan ini yang paling menyakitkan—ia tahu bahwa surat itu tidak ditujukan untuk dibaca oleh ayahnya. Surat itu ditujukan untuk ditulis. Untuk dikeluarkan. Untuk ada.

Kadang-kadang, surat yang paling penting adalah surat yang tidak pernah sampai.


V.

Pukul setengah sembilan pagi hingga setengah tiga siang, Franz Kafka adalah pegawai di Arbeiter-Unfall-Versicherungs-Anstalt—Lembaga Asuransi Kecelakaan Kerja untuk Kerajaan Bohemia.

Pekerjaannya adalah memproses klaim kompensasi dari pekerja yang terluka di pabrik-pabrik. Ia menulis laporan tentang jari yang terpotong mesin, tulang yang remuk, paru-paru yang rusak karena debu asbes. Ia menyusun banding dari pengusaha yang merasa perusahaan mereka ditempatkan dalam kategori risiko yang terlalu tinggi, yang berarti premi asuransi yang lebih mahal.

Kafka adalah pegawai yang baik. Sangat baik, bahkan. Ia dipromosikan dengan cepat, dihormati oleh atasan dan rekan-rekannya, dianggap teliti dan ambisius. Laporan-laporan tahunan yang ia susun diterima dengan pujian. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah tenang dan profesional itu, ia sedang perlahan-lahan mati.

"Kantor adalah horor," tulisnya kepada tunangannya, Felice Bauer, pada 1912. "Waktu sangat pendek, kekuatan saya terbatas, apartemen berisik, dan jika kehidupan yang menyenangkan dan sederhana tidak mungkin, maka seseorang harus mencoba merangkak melalui dengan manuver-manuver halus."

Manuver halus Kafka adalah ini: setelah pulang kerja pada pukul dua atau setengah tiga siang, ia makan siang. Kemudian tidur siang sampai setengah delapan malam. Kemudian sepuluh menit olahraga, telanjang di depan jendela yang terbuka. Kemudian berjalan-jalan dengan teman. Kemudian makan malam dengan keluarga.

Dan kemudian, pada pukul setengah sebelas atau sebelas malam, ia mulai menulis.

Ia menulis sampai pukul satu, dua, tiga pagi. Kadang-kadang sampai pukul enam pagi, tepat sebelum ia harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor lagi. Ia menulis di apartemen sempit keluarganya di Praha, di kamar yang berbatasan dengan kamar tidur orang tuanya, dengan telinga yang selalu waspada terhadap suara langkah kaki atau pintu yang terbuka.

"Saya terdiri dari sastra saja," tulisnya. "Saya bukan apa-apa lagi dan tidak bisa menjadi apa-apa lagi."

Rutinitasnya adalah rutinitasnya seorang yang sedang perlahan-lahan membunuh dirinya sendiri untuk sesuatu yang ia percaya lebih penting daripada hidupnya.


VI.

Pada tanggal 13 Agustus 1912, di rumah sahabatnya Max Brod, Kafka bertemu dengan seorang wanita.

Namanya Felice Bauer. Ia berusia 24 tahun, bekerja sebagai perwakilan pemasaran untuk perusahaan mesin dikte di Berlin. Ia praktis, mandiri, membumi—segala sesuatu yang Kafka bukan.

Dalam buku hariannya, Kafka mencatat kesan pertamanya tentang Felice dengan kejujuran yang hampir kejam: "Wajah yang kurus, kosong, yang mengenakan kekosongannya secara terbuka. Leher telanjang. Blus yang dikenakan asal-asalan. Terlihat sangat domestik dalam pakaiannya, meskipun, ternyata, ia sama sekali bukan orang yang domestik... Hidung yang hampir patah. Rambut pirang, agak lurus, tidak menarik. Dagu yang kuat."

Seminggu kemudian, ia mulai menulis surat kepadanya. Hampir setiap hari. Kadang-kadang dua kali sehari.

Selama lima tahun berikutnya, Kafka akan menulis lebih dari lima ratus surat kepada Felice Bauer. Mereka akan bertunangan dua kali dan memutuskan pertunangan dua kali. Mereka akan bertemu secara langsung hanya beberapa kali—jarak antara Praha dan Berlin terasa seperti jurang yang tidak bisa dijembatani.

Yang mereka miliki hanyalah kata-kata.

"Tidak ada yang menyatukan dua orang selengkap ini," tulis Kafka dalam salah satu suratnya, "terutama jika, seperti kau dan aku, yang mereka miliki hanyalah kata-kata."

Tapi kata-kata Kafka adalah kata-kata seorang pria yang sedang berperang dengan dirinya sendiri. Surat-suratnya dipenuhi dengan peringatan, keraguan, pengakuan tentang ketidaklayakannya untuk dicintai. "Kau tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan murni dariku," tulisnya. "Hanya penderitaan murni sebanyak yang bisa kau inginkan."

Pertunangan pertama mereka berakhir pada Juli 1914, di sebuah hotel di Berlin. Kafka menyebut pertemuan itu dalam buku hariannya sebagai "pengadilan"—ia merasa seperti terdakwa, diikat tangan dan kaki seperti penjahat. Pertunangan kedua berakhir pada Desember 1917, ketika tuberkulosis Kafka sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

Felice kemudian menikah dengan seorang bankir di Berlin, punya dua anak, dan melarikan diri ke Amerika Serikat pada 1936 ketika Nazi berkuasa. Ia menyimpan semua surat Kafka—lebih dari lima ratus lembar—sampai akhirnya menjualnya kepada penerbit pada 1955.

Surat-surat Felice kepada Kafka tidak pernah ditemukan. Kafka menghancurkannya.

Apa yang tersisa hanyalah satu sisi percakapan: suara seorang pria yang sangat ingin dicintai, tapi lebih takut lagi untuk benar-benar mendapatkannya.


VII.

Di ruang tunggu ini, nomor antrean sudah mencapai 261.

Masih 22 nomor lagi.

Seorang petugas melewati saya sambil membawa setumpuk berkas. Ia tersenyum—senyum yang sama dengan yang diberikan kepada semua orang, senyum yang tidak mengenal nama atau wajah, senyum yang merupakan bagian dari prosedur.

"Maaf, Pak," saya memberanikan diri bertanya, "kira-kira berapa lama lagi?"

"Tergantung sistemnya, Pak," jawabnya dengan nada yang sangat membantu. "Kadang cepat, kadang lambat. Yang penting sabar saja."

Ia pergi sebelum saya sempat bertanya apa yang sebenarnya sedang diproses, apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari saya, mengapa saya harus di sini untuk sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan secara daring.

Saya teringat sebuah kalimat dari The Castle: "Semua orang di desa itu baik dan ramah. Mereka hanya menjalankan prosedur."

Yang paling mengerikan dari dunia Kafka bukan kekejaman. Bukan kekerasan. Bukan kejahatan yang bisa ditunjuk dan dinamai.

Yang paling mengerikan adalah kesopanan.


VIII.

Kafka menulis tiga novel yang tidak pernah ia selesaikan.

The Trial (Der Prozess), yang ia mulai pada 1914, menceritakan tentang Josef K., seorang pegawai bank yang ditangkap suatu pagi tanpa mengetahui apa kesalahannya. Sepanjang novel, ia mencoba mencari tahu apa tuduhannya, siapa yang mengadilinya, bagaimana cara membela diri. Tapi pengadilan itu tidak pernah terlihat, tidak pernah bisa dijangkau, meskipun tidak pernah absen. Pada akhirnya, Josef K. dieksekusi di sebuah tambang batu oleh dua pria yang sangat profesional, seperti tukang jagal yang sedang menyembelih hewan.

The Castle (Das Schloss), yang ia mulai pada 1922, menceritakan tentang seorang pria bernama K. yang datang ke sebuah desa dan mencoba masuk ke kastil yang mengatur seluruh kehidupan di sana. Kastil itu selalu terlihat—di atas bukit, tidak jauh dari desa—tapi K. tidak pernah berhasil memasukinya. Setiap kali ia mendekati, ada prosedur baru yang harus dipenuhi, pejabat baru yang harus ditemui, formulir baru yang harus diisi.

Amerika (Der Verschollene), yang ia mulai lebih awal, pada 1912, menceritakan tentang seorang pemuda yang dikirim ke Amerika oleh orang tuanya setelah ia menghamili seorang pelayan. Di tanah baru itu, ia menghadapi serangkaian kekuasaan yang tidak bisa ia pahami—paman yang tiba-tiba baik lalu tiba-tiba mengusirnya, hotel dengan hierarki yang absurd, sistem yang tidak pernah dijelaskan tapi selalu menuntut kepatuhan.

Tidak ada dari novel-novel ini yang selesai. Kafka berhenti di tengah-tengah, meninggalkan karakternya tergantung dalam limbo naratif yang mungkin lebih jujur daripada ending apa pun yang bisa ia tulis.

Karena bagaimana kau bisa mengakhiri cerita tentang pengadilan yang tidak pernah berakhir? Tentang kastil yang tidak pernah bisa dimasuki? Tentang sistem yang tidak pernah bisa dipahami?


IX.

Di ruang tunggu ini, saya membuka The Trial lagi dan membaca sebuah bagian yang sudah saya tandai bertahun-tahun lalu.

"Logika memang tidak tergoyahkan," kata Josef K. kepada seorang pendeta di katedral yang gelap, "tapi ia tidak bisa menahan seseorang yang ingin hidup."

Kafka memahami sesuatu yang sangat sederhana dan sangat mengerikan: bahwa sistem-sistem yang kita bangun—hukum, birokrasi, institusi, bahkan keluarga—memiliki logika internalnya sendiri yang tidak bisa dibantah. Kau bisa membuktikan bahwa kau tidak bersalah dalam setiap aspek yang bisa diukur, dan tetap dihukum. Kau bisa mengikuti setiap prosedur dengan sempurna, dan tetap tidak pernah sampai ke tujuanmu.

Kesalahan dalam dunia Kafka bukan sesuatu yang kau lakukan. Kesalahan adalah sesuatu yang kau adalah.

Dan mungkin—hanya mungkin—Kafka menulis semua ini bukan sebagai kritik sosial atau alegori politik, tapi sebagai autobiografi spiritual. Ia adalah Josef K. yang tidak tahu apa kesalahannya. Ia adalah K. yang tidak pernah bisa masuk ke kastil. Ia adalah Gregor Samsa yang terbangun suatu pagi dan menemukan bahwa ia telah berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dicintai.

Di ruang tunggu ini, nomor antrean sudah mencapai 275.

Masih delapan nomor lagi.

Dan saya mulai bertanya-tanya: apakah ada akhir dari penantian ini? Atau apakah penantian itu sendiri adalah tujuannya—cara untuk membuat kita terus berharap, terus patuh, terus percaya bahwa ada sesuatu di ujung proses yang layak untuk ditunggu?

Kafka tidak pernah memberikan jawaban. Ia hanya menggambarkan pertanyaannya dengan sangat, sangat jernih.

Dan kadang-kadang, itu sudah cukup mengerikan.


Bersambung ke Bagian 2...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Analisis Mendalam: "Keheningan yang Menyembuhkan" - Prosa Kontemplasi Masterclass