Membaca Aroma yang Tersisa di Bus Pagi

Membaca Aroma yang Tersisa di Bus Pagi

Membaca Aroma yang Tersisa di Bus Pagi

Sebuah personal esai

Saya mencium Nina sebelum mengenalnya.

Bukan Nina secara utuh — hanya sehelai bau yang tiba-tiba masuk bersama angin kedalam bus, membelah udara pagi yang masih kelabu, lalu menetap di leher saya seperti tangan yang ingin dipegang tapi tidak pernah berani. Lavender. Tapi bukan lavender toko parfum yang manis mengecup. Ini lavender yang tumbuh di bawah tembok yang jarang disinari, dicampur hujan semalam, dicampur keterlambatan, dicampur sesuatu yang baru saja hilang. Saya menoleh, tapi yang saya dapat hanya ujung rambut yang berayun, jaket abu-abu, dan sepatu flat yang menginjak dunia dengan lembut. Baru setelah itu saya mendengar suara mesin bus. Bau selalu lebih dahulu daripada suara. Bau selalu lebih dulu daripada nama.

Kenapa aroma bisa menulis nama seseorang di udara, sementara nama sebenarnya sudah kita lupa?

Pertemuan di Halte Pagi

Saya tidak tahu jawabnya. Saya hanya tahu sejak hari itu saya datang lebih pagi ke halte. Bukan karena rajin, melainkan karena takut melewatkan bau yang belum sempat dikenal itu. Tubuh saya tiba di sudirman 05.45, langkah masih setengah tidur, tapi hidung sudah terjaga. Halte kosong. Embun menempel di kaca iklan. Saya berdiri. Duduk berarti memilih, berdiri berarti masih bisa lari — ke mana? Tidak penting. Yang penting bus tetap datang, pintu membuka, dan lavender kembali menjadi penumpang pertama.

Langkah saya naik. Langkah supir mengecek kaca spion. Langkah mesin yang menggeram seperti perut lapar. Tiga irama itu beradu, lalu tiba-tiba berhenti di tenggorokan ketika saya melihat dia sudah berdiri di tempat biasa: dekat jendela kedua, sebelah tiang kuning, tas di tangan kiri, tatapan ke luar jendela seolah ada sesuatu yang ditunggu di antara gedung-gedung yang baru bangun. Saya tidak tahu namanya. Saya tidak tahu suaranya. Tapi saya tahu bau lavender akan mengisi lorong sempit antara kami, dan itu cukup untuk membuat jarak dua meter terasa seperti lembar baru yang belum pernah ditulis.

Pertemuan pertama selalu begini: kita menoleh, tapi yang kita temui hanya bau. Bau lebih jujur daripada mata. Bau tidak tahu basa-basi, bau langsung masuk ke ruang yang kita sembunyikan dari diri sendiri. Saya mencium dia setiap pagi, dan setiap pagi saya berkata: ini hanya aroma, ini bukan orang. Tapi lama-lama saya sadar: orang adalah sisa dari aroma yang tidak pernah berhasil pergi.

Dua Puluh Menit yang Abadi

Dua puluh menit. Wilayah yang tidak ada di peta kota, tapi ada di tubuh. 1.200 detik di mana waktu mengecil, bukan karena cepat, melainkan karena dipaksa masuk ke dalam ruang yang tidak bisa ditampung oleh jam tangan. Kami bicara — atau lebih tepat, dia bicara, saya mendengar. Kami tidak pernah membahas pekerjaan, gaji, atau cuaca. Kami membahas kenapa orang takut berpindah kursi. Dia berkata: "Kursi adalah perjanjian. Kalau aku duduk, aku harus turun di halte yang sama besok." Saya diam. Saya pahami. Saya juga punya perjanjian dengan bangku ketiga dari depan: tidak berpindah, supaya hari esok masih terlihat sama. Tapi hari esok datang dengan cara yang berbeda, karena tiba-tiba dia duduk di sebelah saya. Perjanjiannya patah. Dunia berayun.

Ketakutan kami simetris. Ia takut terikat, saya takut lepas. Ia berdiri di minggu pertama karena berdiri memberi ilusi kebebasan: bisa turun kapan saja, bisa pergi ke mana saja. Tapi ia selalu turun di halte yang sama. Saya duduk di bangku yang sama karena duduk memberi ilusi kekal: kalau saya tidak bergerak, mungkin dia juga tidak akan pergi. Tapi kami bergerak — bukan kaki, tapi rasa. Satu hari ia menoleh, saya menoleh, dan kami tahu: kebebasan dan kekal sudah bertukar tempat. Kami sama-sama gemetar.

Lima Detik yang Mengubah Segalanya

Hari ia menangis, saya tidak bertanya. Kepala dipangkuan dunia: ia letakkan di bahu saya selama lima detik. Dalam lima detik itu lampu-lampu bus padam, mesin berhenti, orang-orang menjadi bayangan. Hanya aroma lavender yang hidup, basah, asin. Lima detik cukup untuk membuat saya sadar: saya tidak pernah mencintai seseorang dengan begini cepat, dengan begini diam, dengan begini tidak berdaya. Setelah itu ia bangkit, berkata maaf, turun di halte yang bukan miliknya. Saya duduk hingga halte terakhir, menyimpan bekas air mata di bahu seperti saku kecil yang tidak pernah kucek.

Minggu berikutnya ia tidak datang. Bus tetap penuh, tapi saya merasa kosong. Setiap pintu membuka saya hirup, setiap pintu menutup saya buang. Lavender tidak pernah muncul. Saya mulai curiga: mungkin yang saya tunggu bukan dia, melainkan bau. Tapi bau tidak datang sendiri, bau adalah sisa tubuh, dan tubuh memilih untuk pergi. Saya berjalan tanpa tujuan di sekitar halte, mencium di tiang, di trotoar, di plastik minuman. Semua berbau macet, bukan lavender. Baru saya pahami: kehilangan pertama kali selalu berbau udara kosong.

Pertemuan Terakhir

Enam bulan kemudian, bus lain, rute lain, waktu yang sama. Saya naik dari pintu tengah, ia turun dari pintu depan. Tatapan kami bertemu seperti dua kalimat yang terpotong di tengah. Ia tersenyum — tidak lebar, hanya gerakan kecil di sudut mata. Saya tersenyum — tidak pasti, hanya gerakan untuk menahan kejutan. Ia datang mendekat, duduk di sebelah saya. Aroma itu kembali, tapi kini ada sedikit bau kertas baru, mungkin dari kantor baru, mungkin dari kehidupan baru. Kami diam. Diam yang dulu adalah kesatuan, kini menjadi terjemahan. Ia bilang: "Aku merindukanmu." Saya bilang: "Aku juga." Tapi kami tahu: rindang tidak cukup untuk menjebol dua dunia yang sudah saling menjauh. Ia turun di halte berikutnya, meninggalkan tisu kecil yang dilipat rapi. Saya membuka: lavender. Saya menyimpan: bukan untuk mengenang, tapi untuk membuktikan bahwa lima detik pernah menjadi satu jam, dan satu jam pernah menjadi selamanya—yang berakhir dalam dua puluh menit.

Kenangan yang Tersisa

Saya masih mencium lavender di udara yang tidak pernah sama. Kadang di mal, kadang di lift, kadang di baju orang yang lewat. Tapi tidak pernah lagi di bus. Baru saya sadar: lavender adalah waktu, bukan bunga. Waktu yang sudah lewat tidak bisa ditanam ulang. Tapi saya tetap naik bus pagi, tetap duduk di bangku ketiga, tetap berhenti di halte yang sama. Bukan karena berharap, melainkan karena kehilangan adalah cara terakhir untuk memiliki.

Kenapa aroma bisa menulis nama seseorang di udara, sementara nama sebenarnya sudah kita lupa?

Mungkin karena nama adalah label, tapi bau adalah pintu. Setiap kali saya mencium lavender, pintu itu terbuka—sedikit—cukup untuk membiarkan saya lewat, lalu tertutup lagi. Saya tidak pernah masuk. Saya hanya sempat melihat: di sana ada saya yang belum pernah takut, ada dia yang belum pernah pergi, ada kami yang hanya punya waktu, bukan tujuan.

Dan kadang, kalau pagi sungguh sunyi, saya masih bisa merasa lima detik itu berulang: kepala di bahu, napas di leher, lavender di udara. Semuanya diam. Semuanya sudah lewat. Tapi di dalam diam itu ada satu kalimat yang tidak pernah kami ucapkan, satu kalimat yang kini menjadi milik saya sendiri:

"Terima kasih telah menjadi sementara—sehingga aku tahu bagaimana rasanya memiliki selamanya yang tidak pernah menjadi."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Mendalam: "Keheningan yang Menyembuhkan" - Prosa Kontemplasi Masterclass

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif