Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Hemingway di Bar

Bagian 1: Peluru Pertama

Minuman: Old Fashioned (bourbon, bitter, gula)

Bar itu berdiri di sudut jalan yang hampir terlupakan, dengan papan nama kayu yang pudar dan jendela berembun. Aku mendorong pintu berat itu—kayunya berbau hujan dan tembakau lama—dan masuk ke dalam ruangan yang terasa seperti berhenti di tahun yang tidak bisa kusebutkan. Lampu tungsten redup menggantung rendah di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya keemasan yang membuat segala sesuatu di luar radius itu tenggelam dalam bayangan.

Bartender berdiri di balik counter, punggungnya menghadapku. Kumis abu-abunya tampak di refleksi cermin bar yang berbintik—tapi saat ia berbalik, matanya muda. Terlalu muda untuk wajah yang sudah keriput itu. Matanya biru terang, tajam, seperti seseorang yang pernah melihat terlalu banyak tapi masih ingin melihat lebih banyak lagi.

"Mau pesan apa?" suaranya serak tapi hangat.

"Old Fashioned," kataku. Entah kenapa, itu satu-satunya yang terasa tepat di tempat seperti ini.

Dia mengangguk pelan, seperti sudah menduga. Tangannya bergerak dengan presisi—bourbon dituang, gula dilarutkan, bitter ditambahkan tiga tetes, es batu besar dijatuhkan dengan bunyi tumpul. Aku memperhatikan cairannya. Pertama amber, warna madu tua yang ditangkap cahaya. Tapi saat gelas digeser ke arahku, warnanya berubah. Kemerahan. Seperti darah yang baru saja keluar dari tubuh.

Aku mengangkat gelas itu. Dingin di telapak tangan.

"Kau tahu siapa yang suka minuman ini?" tanya bartender. Aku menggeleng. Dia tersenyum tipis. "Ernest Hemingway. Dia minum ini pertama kali di Chicago, saat masih bocah yang berpikir perang adalah petualangan."

Di cermin bar, bayangan-bayangan mulai bergerak. Siluet pria dengan topi fedora, wanita dengan gaun flapper, asap rokok yang mengepul tanpa sumber. Aku meneguk bourbon itu—membakar tenggorokan, pahit-manis, lalu hangat di dada—dan entah kenapa, tiba-tiba aku tidak lagi duduk di bar ini.

Oak Park, 1899-1917: Rumah yang Tidak Pernah Menjadi Rumah

Ernest Miller Hemingway lahir pada 21 Juli 1899 di Oak Park, Illinois. Rumah bergaya Victoria dengan halaman luas dan pohon oak yang rindang. Keluarga terhormat. Ayah seorang dokter, ibu seorang guru musik. Dari luar, semuanya sempurna.

Tapi di dalam rumah itu, ada sesuatu yang tidak beres.

Grace Hall Hemingway—ibunya—adalah perempuan dengan ambisi yang lebih besar dari zamannya. Dia ingin menjadi penyanyi opera, tapi malah menikah dan punya enam anak. Kekecewaan itu dia tuangkan dengan cara yang aneh: dia memperlakukan Ernest dan kakaknya, Marcelline, seperti anak kembar. Mendandani mereka dengan pakaian yang sama. Gaun-gaun panjang dengan pita. Rambut panjang yang diikat.

Hingga Ernest berusia enam tahun, ibunya masih mendandaninya sebagai perempuan.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang dirasakan bocah itu. Tidak ada catatan. Tidak ada surat. Tapi tahun-tahun kemudian, dalam surat-surat pribadinya kepada teman dan psikiaternya, Hemingway akan menulis tentang ibunya dengan kata-kata yang penuh kebencian. "That bitch," dia menyebutnya—pelacur itu. Kata-kata yang tidak pernah bisa dia ambil kembali, bahkan setelah Grace meninggal.

Dr. Clarence Hemingway—ayahnya—adalah lawan dari Grace. Pendiam, metodis, mencintai alam. Setiap musim panas, dia membawa anak-anaknya ke Walloon Lake di Michigan utara. Di sana, jauh dari gaun-gaun dan pita-pita, Ernest belajar memancing. Berburu. Menguliti ikan dengan pisau tajam. Menembakkan senapan pertama kalinya.

Di hutan Michigan itulah Ernest menemukan sesuatu yang bisa dia sebut identitas. Bukan bocah bergaun. Bukan anak yang dipajang ibunya di konser piano. Tapi pemburu. Nelayan. Laki-laki.

Bartender menuangkan sedikit bourbon lagi ke gelasku tanpa diminta. "Kau tahu," katanya pelan, "Hemingway menghabiskan seumur hidupnya mencoba membuktikan bahwa dia cukup jantan. Seolah ada sesuatu yang harus dia tutupi."

Aku menatap gelas itu. Refleksi wajahku pecah di permukaan cairan.

"Mungkin memang ada," bisikku.

Kansas City Star, 1917: Sekolah Menulis Hemingway

Setelah lulus sekolah menengah, Ernest tidak kuliah. Ibunya marah—dia ingin anaknya jadi dokter atau musisi. Tapi Ernest kabur ke Kansas City dan bekerja sebagai reporter junior di Kansas City Star. Gajinya kecil. Tugasnya membosankan: kecelakaan, kebakaran, rumah sakit.

Tapi di situ dia belajar menulis.

Kansas City Star punya panduan gaya penulisan yang ketat. Seratus sepuluh aturan. Kalimat pendek. Paragraf pendek. Bahasa yang hidup dan tegas. Hindari kata sifat. Gunakan kata kerja yang kuat. Tidak ada omong kosong.

Aturan-aturan itu akan membentuk gaya Hemingway selamanya.

Tapi pada April 1917, Amerika masuk Perang Dunia Pertama. Ernest ingin ikut. Tapi matanya rusak—kecelakaan tinju di sekolah menengah—jadi dia ditolak militer. Dia frustrasi. Malu. Di sekitarnya, teman-temannya berangkat dengan seragam, sementara dia masih menulis berita lokal tentang anjing hilang dan pencurian kecil.

Hingga Red Cross menawarkan celah: mereka butuh pengemudi ambulans di Italia. Tidak perlu syarat mata sempurna. Ernest mendaftar. Grace merestui dengan dingin—mungkin senang dia pergi. Clarence bangga, tapi khawatir.

Pada Juni 1918, Ernest Hemingway berlayar ke Eropa. Umurnya delapan belas tahun. Dia pikir dia akan jadi pahlawan.

Dia tidak tahu bahwa perang akan menghancurkannya dengan cara yang tidak bisa dia jelaskan.

Fossalta, 8 Juli 1918: Peluru yang Tidak Bisa Dikeluarkan

Bourbon di gelasku sudah hampir habis, tapi rasanya masih membakar. Bartender berdiri diam di ujung bar, memunggungi aku, tapi kumisnya tampak di cermin. Sekarang kumis itu hitam pekat.

"Kau tahu bagaimana rasanya ditembak?" tanyanya tanpa berbalik.

Aku tidak menjawab. Dia melanjutkan seolah tidak butuh jawaban.

"Seperti dipukul dengan palu besi yang panas. Seperti tubuhmu meledak dari dalam. Tapi yang lebih buruk adalah suaranya. Suara logam masuk ke daging. Kau tidak akan lupa."

Pada 8 Juli 1918, tepat sebelum tengah malam, Ernest Hemingway sedang membagikan cokelat dan rokok kepada tentara Italia di parit dekat Fossalta di Piave. Dia sukarelawan. Tidak perlu ke sana. Tapi dia ingin merasakan perang, bukan hanya mengendarai ambulans jauh dari garis depan.

Mortir Austria menghantam parit itu.

Ernest tidak ingat suaranya. Dia hanya ingat cahaya putih yang menyilaukan, lalu tubuhnya terlempar. Ketika dia tersadar, kakinya basah. Dia pikir itu hujan. Tapi saat dia menyentuh, tangannya lengket darah.

Dua ratus dua puluh tujuh fragmen peluru.

Dokter menghitungnya satu per satu saat mengoperasi tubuh bocah itu di rumah sakit lapangan. Beberapa terlalu dalam untuk diambil—tertanam di tulang, di otot, di dekat arteri. Jadi mereka membiarkannya di sana. Ernest Hemingway akan membawa pecahan perang di tubuhnya selama lima puluh tiga tahun berikutnya. Setiap kali cuaca dingin, lututnya sakit. Setiap kali dia duduk terlalu lama, punggungnya kram.

Tapi luka yang lebih parah adalah yang tidak terlihat.

Malam itu di parit, ada tentara Italia di sebelahnya yang mati. Tubuhnya hancur. Ernest mencoba membawanya keluar—entah kenapa, meskipun tentara itu sudah mati—dan terkena tembakan mesin gun di kaki. Dia jatuh. Berdarah. Tapi entah bagaimana, dia bangkit lagi dan membawa mayat itu keluar dari parit.

Mereka memanggilnya pahlawan. Italia memberinya medali kehormatan. Tapi di malam-malam setelah itu, saat terbaring di rumah sakit Milan, Ernest tidak bisa tidur. Setiap kali dia menutup mata, dia melihat cahaya putih itu. Mendengar ledakan itu. Merasakan logam masuk ke tubuhnya.

Dia baru berusia delapan belas tahun dan sudah tahu bagaimana rasanya mati.

Agnes von Kurowsky: Luka yang Lebih Dalam

Di rumah sakit Red Cross di Milan, Ernest bertemu perawat bernama Agnes von Kurowsky. Dia tujuh tahun lebih tua, cantik, percaya diri, dengan mata cokelat yang hangat. Ernest jatuh cinta—keras, total, tanpa pertahanan. Dia masih remaja yang terluka, dan Agnes adalah satu-satunya yang membuatnya merasa aman.

Mereka punya semacam hubungan. Malam-malam di rumah sakit, berjalan-jalan di jalanan Milan yang remang, surat-surat penuh janji. Ernest yakin mereka akan menikah. Dia membayangkan masa depan: pulang ke Amerika, punya keluarga, menulis buku.

Tapi saat Ernest kembali ke Oak Park pada Januari 1919—masih pincang, masih dengan fragmen peluru di tubuhnya—Agnes menulis surat.

Dia menolaknya. Dia jatuh cinta dengan perwira Italia lain. Lebih tua. Lebih mapan. Lebih... dewasa.

Surat itu menghancurkan Ernest dengan cara yang tidak dilakukan peluru.

Bertahun-tahun kemudian, dia akan menulis tentang Agnes dalam A Farewell to Arms—perawat Catherine Barkley yang mati melahirkan, meninggalkan protagonist Frederic Henry sendirian dalam hujan. Dalam novel itu, Ernest membunuh Agnes dengan cara yang tidak bisa dia lakukan dalam hidup: memberinya akhir yang tragis tapi indah.

Dalam hidup, Agnes hanya meninggalkannya dengan surat penolakan dan hati yang pecah.

Bartender mengisi gelasku lagi, meskipun aku tidak meminta. Old Fashioned yang baru. Warnanya sekarang lebih gelap, hampir seperti darah kering.

"Peluru pertama selalu paling sakit," katanya pelan, menatapku dengan mata yang sekarang tampak lelah—seperti mata orang tua yang sudah terlalu banyak melihat.

Aku meneguk bourbon itu. Membakar, tapi aku sudah terbiasa.

"Tapi bukan peluru terakhir," bisikku.

Dia tersenyum—sedih, tahu. "Tidak. Bukan peluru terakhir."

Oak Park, 1919-1920: Pulang Bukan ke Rumah

Ernest pulang ke Oak Park sebagai pahlawan perang. Koran lokal menulis tentangnya. Sekolah mengundangnya berbicara. Dia memakai seragam Italia, menunjukkan medalinya, menceritakan kisah-kisah perang yang setengahnya dibesar-besarkan.

Tapi di dalam rumah keluarga Hemingway, semuanya masih sama. Grace masih dingin, masih mengkritik. Dia tidak suka Ernest pulang dengan cerita kekerasan. Dia ingin anaknya jadi dokter, bukan penulis cerita perang.

Ernest mulai minum lebih sering. Bukan untuk pesta—dia minum sendiri, di kamar, atau di bar-bar Chicago yang gelap. Old Fashioned. Whiskey lurus. Apa saja yang bisa membuat malam berlalu tanpa mimpi buruk.

Dia mencoba menulis. Cerita-cerita pendek tentang perang, tentang Michigan, tentang hal-hal yang dia tidak bisa katakan dengan keras. Tapi setiap penolakan dari majalah terasa seperti konfirmasi: dia bukan siapa-siapa. Pahlawan perang yang tidak bisa mengubah pengalaman jadi kata-kata.

Pada musim panas 1920, Grace mengusir Ernest dari rumah.

Alasannya sepele—dia malas, tidak membantu, tidak punya rencana. Tapi yang sebenarnya lebih dalam: Grace tidak tahan melihat anaknya yang rusak ini, yang kembali dari perang dengan mata kosong dan kebiasaan minum yang tidak bisa dia kontrol.

Ernest pergi ke Chicago. Tinggal dengan teman. Bekerja serabutan. Menulis di malam hari.

Dan di satu pesta, dia bertemu Hadley Richardson.

Wanita berambut merah dengan mata lembut dan senyum yang membuat Ernest merasa—untuk pertama kalinya sejak Agnes—bahwa dia bisa dicintai.

Tapi itu cerita untuk minuman berikutnya.

Aku menghabiskan Old Fashioned itu hingga tetes terakhir. Es batu sudah mencair, meninggalkan air yang bercampur dengan sisa bourbon di dasar gelas. Bartender mengambil gelas itu, membersihkannya dengan kain putih yang sudah lusuh.

"Hemingway pernah bilang," dia berkata tanpa menatapku, "bahwa dunia menghancurkan semua orang, dan setelahnya, banyak yang kuat di tempat-tempat yang patah. Tapi mereka yang tidak mau patah, dunia akan membunuh mereka."

Dia menatapku sekarang, mata birunya tajam di balik kerutan.

"Ernest tidak pernah mau patah."

Aku berdiri, meninggalkan uang di meja bar. Tapi sesuatu membuatku berbalik.

"Aku akan kembali," kataku.

Bartender tersenyum—tipis, tahu, seperti dia sudah menduga.

"Aku tahu. Minuman berikutnya lebih pahit."

Aku keluar dari bar itu ke malam yang dingin. Di belakangku, lampu tungsten masih menyala redup, dan di cermin bar yang berbintik, aku bisa bersumpah melihat bayangan pria muda dengan seragam Italia, berdiri di sudut ruangan, menatap gelasnya seperti sedang mencari jawaban yang tidak pernah datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Mendalam: "Keheningan yang Menyembuhkan" - Prosa Kontemplasi Masterclass

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif