Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot
Minuman: Red Wine dari Spanyol (merah gelap, berani)
Malam ketiga, dan aku sudah tahu jalan ke bar itu tanpa berpikir. Seolah kakiku mengingat rute yang tidak pernah kuhafalkan. Pintu kayu berat itu terbuka sebelum aku menyentuhnya—atau mungkin aku yang membukanya tanpa sadar. Di dalam, aroma berbeda: kulit, debu, sesuatu yang kering dan hangat seperti pasir arena.
Bartender berdiri di tempat biasa, tapi kali ini dia memakai sesuatu di kepala—bukan topi biasa, tapi montera, topi matador hitam dengan pompom. Ketika dia berbalik, wajahnya tampak lebih muda, lebih keras, dengan bekas luka tipis di pipi kiri.
"Wine malam ini," katanya bukan bertanya. "Dari Spanyol."
Sebotol wine tua diletakkan di meja bar. Tidak ada label, hanya lilin merah di mulut botol yang sudah retak. Dia menuangnya ke gelas besar—cairan mengalir pekat, merah gelap seperti darah yang baru keluar dari luka besar. Di permukaan wine, aku melihat refleksi yang tidak mungkin: arena corrida, pasir kuning, banteng hitam dengan mata yang menyala.
Aku meneguk wine itu. Berat di lidah. Tanin kering menggigit langit-langit mulut. Lalu kehangatan—tapi bukan kehangatan bourbon atau absinthe. Ini kehangatan lain, seperti darah yang mengalir cepat saat jantung dipaksa berdetak keras menghadapi bahaya.
Dari suatu tempat, aku mendengar suara yang aneh: tepuk tangan, teriakan "¡Olé!", musik paso doble yang dramatis. Tapi saat aku menoleh, bar itu masih kosong. Hanya aku, bartender, dan bayangan-bayangan yang bergerak di cermin seperti penonton tak terlihat.
"Hemingway pertama kali ke Spanyol tahun 1923," kata bartender. "Untuk festival San Fermín di Pamplona. Dia pikir dia akan menulis artikel untuk koran. Tapi yang dia temukan adalah sesuatu yang lain."
"Apa?"
"Cara untuk menghadapi kematian tanpa lari."
Setelah menikahi Pauline, Ernest pindah ke Key West, Florida. Pulau kecil di ujung Amerika, panas, lembap, dikelilingi laut yang jernih. Pauline membelikan mereka rumah—rumah besar dengan halaman luas, kolam renang, tempat yang stabil, tempat yang aman.
Patrick lahir tahun 1928. Gregory tahun 1931. Dua anak laki-laki lagi, selain Bumby yang tinggal bersama Hadley di Paris. Ernest mencoba menjadi ayah yang baik—mengajak mereka memancing, berburu, mengajarkan mereka cara menjadi laki-laki dengan caranya sendiri.
Tapi pada 6 Desember 1928, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Dr. Clarence Hemingway—ayah Ernest—menembak kepalanya sendiri dengan pistol peninggalan ayahnya, Civil War revolver tua yang sudah berkarat. Dia sudah lama menderita diabetes, tekanan finansial, depresi yang tidak ditangani. Pagi itu, dia bangun, berjalan ke kamar tidur, dan memutuskan sudah cukup.
Ketika Ernest menerima telegram, dia tidak menangis. Dia hanya diam, lalu pergi ke bar dan minum hingga tidak bisa berdiri.
"Aku mungkin akan pergi dengan cara yang sama," dia menulis pada teman. Bukan pertanyaan. Bukan ketakutan. Hanya pernyataan fakta, seolah bunuh diri adalah warisan genetik yang tidak bisa dihindari.
Bartender menuangkan lebih banyak wine ke gelasku. Merah gelap itu tampak lebih pekat sekarang, hampir hitam di cahaya redup.
"Ayahnya memberinya dua hal," kata bartender pelan. "Cinta pada alam liar, dan kematian sebagai jalan keluar."
Tahun 1929, A Farewell to Arms diterbitkan. Novel tentang Frederic Henry, pengemudi ambulans Amerika di Italia—jelas autobiografi—dan Catherine Barkley, perawat yang dia cintai. Novel tentang perang, cinta, dan kehilangan.
Di ending, Catherine mati saat melahirkan. Bayi mereka juga mati. Frederic berdiri di rumah sakit, menatap tubuh Catherine, dan menyadari bahwa cinta tidak menyelamatkan siapa pun. Dia berjalan keluar ke hujan, sendirian, kosong.
Kritikus menyebutnya mahakarya. Pembaca menangis. Ernest menjadi penulis terkaya di Amerika pada usia tiga puluh tahun.
Tapi yang tidak diketahui banyak orang: Ernest menulis ulang ending itu tiga puluh sembilan kali. Tiga puluh sembilan cara berbeda untuk membunuh Catherine, untuk meninggalkan Frederic sendirian. Dia mencari cara yang tepat untuk mengungkapkan kekosongan itu—kehilangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata tapi harus diungkapkan.
Dia akhirnya memilih yang paling sederhana, paling brutal: "After a while I went out and left the hospital and walked back to the hotel in the rain."
Setelah beberapa saat, aku keluar meninggalkan rumah sakit dan berjalan kembali ke hotel dalam hujan.
Tidak ada dramatis. Tidak ada kata-kata indah. Hanya kepergian, hujan, kekosongan.
"Hemingway selalu tahu bagaimana menulis kematian," bisik bartender. "Karena dia sudah mati berkali-kali sebelum tubuhnya berhenti bernapas."
Tahun 1932, Ernest menerbitkan buku non-fiksi tentang corrida—adu banteng. Death in the Afternoon. Bukan hanya panduan tentang olahraga yang brutal itu, tapi filosofi tentang bagaimana menghadapi kematian dengan gaya, dengan keberanian, dengan grace under pressure.
Ernest menghabiskan bertahun-tahun mengikuti musim corrida di Spanyol. Pamplona, Madrid, Sevilla. Dia duduk di barisan depan arena, menonton matador menghadapi banteng seberat seribu pound dengan hanya kain merah dan pedang tipis. Dia mempelajari setiap gerakan—veronica, media veronica, pase natural—cara matador menari dengan kematian.
Yang menarik bagi Ernest bukan kematian banteng. Itu sudah pasti—banteng selalu mati di akhir. Yang menarik adalah bagaimana matador menghadapi kemungkinan kematiannya sendiri. Apakah dia gemetar? Apakah dia mundur? Atau apakah dia berdiri tegak, menghadang tanduk yang melesatkan dengan tenang, dengan kepala tegak dan mata terbuka?
"Bullfighting is the only art in which the artist is in danger of death," tulis Ernest.
Corrida adalah satu-satunya seni di mana seniman berada dalam bahaya mati.
Bartender tersenyum pahit. "Dia salah. Menulis juga bisa membunuhmu. Hanya saja lebih lambat, lebih halus, dari dalam."
Wine di gelasku sudah setengah habis, tapi aku merasa kepalaku ringan. Atau berat. Aku tidak yakin. Di cermin bar, aku melihat bayangan Ernest berdiri di arena, memakai traje de luces—kostum matador yang berkilau—tapi wajahnya sudah tua, lelah, seperti dia sudah terlalu lama menari dengan banteng yang tidak pernah mati.
Tahun 1933, Ernest dan Pauline pergi safari ke Afrika Timur. Kenya, Tanganyika. Dua bulan berburu singa, macan tutul, badak, kerbau. Ernest menulis tentang pengalaman itu dalam Green Hills of Africa dan cerita pendek "The Snows of Kilimanjaro".
Tapi yang dia buru bukan hanya binatang. Dia berburu sesuatu yang lebih abstrak: keberanian, maskulinitas, bukti bahwa dia masih hidup, masih bisa menghadapi bahaya tanpa gemetar.
Setiap pagi, dia bangun jam empat, minum whiskey sebagai sarapan, lalu keluar ke savana dengan senapan besar di bahu. Pemandu lokal mengatakan dia pemburu yang bagus—tidak gegabah, sabar, menghormati binatang yang dia buru. Tapi ada juga yang bilang dia terlalu sembrono, terlalu ingin membuktikan sesuatu, seperti dia ingin binatang itu melawan agar ada alasan untuk membunuh.
Di "The Snows of Kilimanjaro", Ernest menulis tentang penulis bernama Harry yang sekarat karena gangren di Afrika. Saat dia terbaring di ranjang camp, dia memikirkan semua cerita yang tidak pernah dia tulis, semua kehidupan yang dia sia-siakan untuk kenyamanan dan alkohol dan perempuan yang salah.
Di akhir cerita, Harry bermimpi dia terbang ke puncak Kilimanjaro yang bersalju—tempat suci, tempat bersih, tempat di mana kematian terasa seperti pembebasan.
Tapi itu hanya mimpi. Di realitas, Harry mati di ranjang kotor dengan bau daging busuk di kakinya.
"Hemingway sudah tahu bagaimana dia akan mati," kata bartender, menuangkan wine lagi tanpa diminta. "Dia hanya tidak tahu kapan."
Pada Juli 1936, Perang Saudara Spanyol meletus. Republikan melawan Fasis. Demokrasi melawan fasisme. Ernest tidak bisa diam—ini perang yang punya makna, tidak seperti Perang Dunia Pertama yang terasa sia-sia dan brutal tanpa alasan.
Tahun 1937, dia pergi ke Spanyol sebagai koresponden perang. Tapi juga sebagai partisan—dia mendukung Republikan, bahkan membantu mereka dengan uang dan koneksi. Dia tinggal di Hotel Florida di Madrid, yang terus-menerus dibombardir oleh artileri Franco.
Di sana, di hotel yang gemetar karena ledakan, dia bertemu Martha Gellhorn.
Martha adalah wartawan sendiri—cantik, cerdas, berani, dengan ambisi yang tidak kalah dari Ernest. Dia tidak perlu Ernest untuk membuatnya terkenal; dia sudah menulis untuk Collier's, sudah meliput perang dengan keberanian yang membuat tentara kagum.
Mereka bertemu pertama kali di Sloppy Joe's Bar di Key West tahun sebelumnya—Martha sedang liburan, Ernest sedang mabuk. Tapi di Madrid, di tengah bom dan peluru, sesuatu terjadi. Affair dimulai—intens, berbahaya, dipicu adrenalin perang.
Pauline di Key West, mengurus dua anak, menunggu surat yang datang semakin jarang. Ernest di Madrid, menulis artikel di siang hari dan tidur dengan Martha di malam hari, saat ledakan bom terdengar seperti petir yang tidak pernah berhenti.
"Kau pikir dia belajar dari kesalahan dengan Hadley?" aku bertanya pada bartender.
Dia tertawa—pendek, pahit. "Hemingway tidak pernah belajar. Dia hanya mengulangi pola yang sama dengan perempuan yang berbeda, berharap kali ini akan berbeda."
Wine di gelasku terasa lebih asam sekarang, seperti sudah terlalu lama terpapar udara.
Dari pengalaman di Spanyol, Ernest menulis novel terbaiknya—atau setidaknya yang banyak orang anggap terbaik. For Whom the Bell Tolls, diterbitkan tahun 1940.
Novel tentang Robert Jordan, guru bahasa Amerika yang bergabung dengan gerilyawan Republikan di pegunungan Spanyol. Dia ditugaskan meledakkan jembatan—misi bunuh diri, yang dia tahu tidak akan selamat. Dia bertemu Maria, gadis muda yang diperkosa tentara Fasis, dan jatuh cinta dalam tiga hari.
Judulnya diambil dari puisi John Donne: "No man is an island, entire of itself... any man's death diminishes me, because I am involved in mankind. And therefore never send to know for whom the bell tolls; it tolls for thee."
Tidak ada manusia yang ada adalah pulau, utuh sendiri... kematian siapa pun mengurangi diriku, karena aku terlibat dalam kemanusiaan. Maka jangan pernah tanya untuk siapa lonceng kematian berbunyi; itu berbunyi untukmu.
Di akhir novel, Robert Jordan terluka parah, tidak bisa bergerak. Dia menyuruh Maria dan yang lain pergi, menyelamatkan diri. Dia berbaring dengan senapan mesin, menunggu tentara Fasis datang, tahu dia akan mati tapi memilih cara matinya.
"The world is a fine place and worth the fighting for and I hate very much to leave it," pikir Robert Jordan sebelum tembakan terakhir.
Dunia adalah tempat yang baik dan layak untuk diperjuangkan, dan aku sangat benci meninggalkannya.
Novel itu sukses besar. Best-seller. Nominasi Pulitzer. Ernest pada puncaknya—empat puluh satu tahun, terkenal, kaya, dihormati.
Tapi di kehidupan pribadinya, semuanya hancur. Pauline tahu tentang Martha. Perceraian lagi, pengkhianatan lagi. Ernest menikahi Martha tahun 1940, pernikahan ketiganya, pola yang sama berulang seperti corrida yang tidak pernah berakhir.
Yang tidak diketahui Ernest—yang tidak diketahui dokter-dokternya hingga terlambat—adalah bahwa tubuhnya menyimpan terlalu banyak zat besi. Hemochromatosis. Penyakit genetik yang membuat organ-organ rusak perlahan: liver, jantung, pankreas. Dan yang paling berbahaya: otak.
Kelebihan zat besi menyebabkan perubahan mood, depresi, paranoia, pikiran bunuh diri. Ditambah dengan semua luka fisik yang dia kumpulkan—peluru perang, kecelakaan mobil, kecelakaan pesawat yang akan datang—tubuh Ernest adalah bom waktu yang berdetak sejak dia remaja.
Liver-nya rusak bukan hanya karena alkohol—meskipun alkohol memperparah—tapi karena penyakit yang tidak pernah dia mengerti. Setiap botol wine, setiap gelas whiskey, setiap tegukan absinthe menambah racun yang sudah mengalir di darahnya.
Bartender menatapku dengan mata yang sekarang tampak sedih, lelah. "Dia tidak tahu dia sakit. Dia pikir dia hanya lemah, hanya tidak cukup kuat, hanya tidak cukup jantan. Jadi dia minum lebih banyak untuk membuktikan dia bisa."
"Tapi dia tidak bisa," bisikku.
"Tidak ada yang bisa."
Ernest terkenal dengan frasa: grace under pressure—keanggunan di bawah tekanan. Ide bahwa manusia sejati tidak panik saat menghadapi bahaya, tidak menangis saat terluka, tidak mengeluh saat sekarat. Seperti matador yang berdiri tenang saat banteng melesat, seperti tentara yang merokok saat dieksekusi, seperti penulis yang menulis kalimat indah saat dunianya runtuh.
Tapi itu kebohongan.
Atau setidaknya, kebohongan yang Ernest coba hidupi tapi tidak pernah benar-benar bisa. Karena di balik fasad keberanian itu, dia gemetar. Di balik maskulinitas yang brutal itu, dia rapuh. Di balik semua wine dan whiskey dan absinthe, dia hanya mencoba mematikan rasa sakit yang tidak pernah berhenti.
Corrida mengajarkan bahwa kematian bisa dihadapi dengan gaya. Tapi tidak ada gaya dalam depresi. Tidak ada keanggunan dalam bunuh diri. Tidak ada grace dalam menembak kepalamu sendiri di pagi hari saat istrimu masih tidur di atas.
"Matador yang baik tahu kapan harus pensiun," kata bartender, mengutip kata-katanya sendiri dari malam pertama. "Tapi Hemingway tidak pernah pensiun. Dia terus maju ke arena, terus menghadapi banteng, sampai akhirnya banteng itu menang."
Aku menghabiskan wine itu—tetes terakhir, pahit, meninggalkan rasa besi di lidah. Gelas kosong tampak seperti ada noda di dasar, merah gelap yang tidak bisa dibersihkan.
Aku berdiri untuk pergi, tapi bartender memanggil.
"Tunggu."
Dia menuangkan sedikit wine lagi ke gelasku—hanya satu tegukan. "Ini untuk toast," katanya.
Aku mengangkat gelas. Dia mengangkat botol.
"Untuk banteng," katanya pelan. "Yang selalu menang pada akhirnya."
Aku minum. Wine itu membakar, tapi bukan seperti whiskey. Ini pembakaran yang lebih dalam, seperti darah sendiri yang mendidih dari dalam.
Aku keluar ke malam. Di belakang, aku mendengar bartender berbisik—atau mungkin hanya angin, atau mungkin hanya dalam kepalaku:
"Banteng selalu hitam. Selalu besar. Selalu menang."
Di cermin bar yang aku lihat sekilas sebelum pintu tertutup, ada bayangan pria dengan kostum matador, berdiri sendirian di arena kosong. Tidak ada banteng. Tidak ada penonton. Hanya pasir, pedang di tangan, dan matahari yang perlahan tenggelam.
Dia berdiri di sana, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang—atau mungkin sudah datang tapi dia terlalu keras kepala untuk menyerah.
¡Olé!, bisik angin.
Tapi tidak ada yang tersisa untuk dirayakan.
Komentar
Posting Komentar