Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot
Minuman: Mojito kemudian Daiquiri (manis lalu asam)
Malam keempat, dan aku merasakan sesuatu yang berbeda bahkan sebelum membuka pintu. Aroma mint segar bercampur rum, manis tapi ada kepahitan di bawahnya. Ketika aku masuk, bar terasa lebih terang—atau mungkin mataku sudah terbiasa dengan kegelapan. Lampu tungsten tampak seperti matahari tropis yang diredam, hangat tapi tidak cukup untuk mengeringkan keringat.
Bartender berdiri dengan dua gelas di depannya. Gelas tinggi berisi sesuatu yang hijau dan segar—daun mint mengambang seperti pulau kecil di lautan jernih. Di sebelahnya, gelas berbentuk cangkir lebar berisi cairan putih beku, seperti salju yang mencair terlalu lambat.
"Mojito dulu," katanya sebelum aku duduk. "Lalu daiquiri. Tujuh belas gelas, kalau kau mau mencoba rekornya."
Aku duduk. Mengambil mojito. Saat bibir menyentuh rim gelas, mint meledak di lidah—segar, hidup, seperti pagi di tempat yang belum pernah kusinggahi. Rum putih membakar halus di tenggorokan. Gula membuat semuanya terasa seperti janji yang belum pecah.
Di permukaan minuman, aku melihat refleksi yang tidak mungkin: pantai putih, laut biru turquoise, rumah dengan taman yang terlalu hijau untuk nyata. Finca Vigía. Kebun pandang.
Bartender mulai membuat daiquiri berikutnya tanpa diminta. Es dihancurkan, rum dituang, jus jeruk nipis segar diperas. Dia bergerak seperti ritual—seperti sudah melakukan ini ribuan kali, seperti tubuhnya mengingat meskipun pikirannya sudah lupa.
"Hemingway pindah ke Kuba tahun 1939," katanya, mencampur daiquiri dengan shaker perak. "Dia pikir dia menemukan surga."
"Apakah dia?"
Bartender menuangkan daiquiri ke gelas kedua. Warnanya berubah dari putih bersih jadi kuning pucat, lalu abu-abu, seperti sesuatu yang membusuk dari dalam.
"Dia menemukan tempat untuk bersembunyi. Bukan hal yang sama."
Ernest membeli Finca Vigía—Kebun Pandang—pada tahun 1940 dengan uang Martha. Rumah bergaya Spanyol di bukit San Francisco de Paula, lima belas kilometer dari Havana. Taman luas dengan pohon ceiba dan mango, kolam renang, menara untuk menulis. Dari menara itu, dia bisa melihat Havana di satu sisi dan laut di sisi lain.
Tempat yang sempurna untuk menulis. Atau tempat yang sempurna untuk mabuk tanpa diganggu.
Ernest menikahi Martha Gellhorn pada November 1940. Pernikahan ketiga, pola yang sama: jatuh cinta saat perang, janji yang dibuat dalam bahaya, kenyataan yang tidak sesuai saat bom berhenti jatuh.
Martha bukan Hadley yang lembut atau Pauline yang patuh. Martha punya karir sendiri, ambisi sendiri, keberanian sendiri. Dia tidak butuh Ernest untuk membuat namanya terkenal—dia sudah wartawan perang yang dihormati sebelum bertemu Ernest, dan dia akan terus jadi wartawan perang meskipun Ernest tidak suka.
Pertengkaran dimulai cepat. Martha ingin meliput perang—Perang Dunia Kedua sudah meletus, Eropa terbakar, ada cerita yang harus diceritakan. Ernest ingin dia tinggal di Finca, mengurus rumah, jadi istri yang baik.
"Aku bukan pelayan," Martha berkata di salah satu pertengkaran mereka. "Aku wartawan."
"Kau istriku," balas Ernest.
"Itu bukan identitasku."
Aku meneguk mojito habis. Bartender langsung menggeser daiquiri pertama ke arahku—dingin, asam, tidak ada manisnya mojito.
Saat Amerika masuk Perang Dunia Kedua setelah Pearl Harbor, Ernest ingin berkontribusi. Tapi dia sudah empat puluh dua tahun, terlalu tua untuk tentara, terlalu terkenal untuk jadi prajurit biasa. Jadi dia menciptakan operasinya sendiri: Crook Factory.
Dengan persetujuan longgar dari Kedutaan Amerika, Ernest merekrut jaringan informan—nelayan, bartender, pelacur, siapa saja yang bisa memata-matai aktivitas Nazi di Kuba. Dia mempersenjatai kapal nelayan-nya, Pilar, dengan granat dan senapan mesin, berlayar di perairan Kuba mencari kapal selam U-boat Jerman.
Dia tidak pernah menemukan satu pun kapal selam. Operasi Crook Factory tidak pernah mengungkap satu mata-mata pun. Tapi Ernest menyukainya—memberinya perasaan penting, perasaan berguna, perasaan masih jantan meskipun dunia berubah tanpa dia.
Martha tidak terkesan. Dia pergi ke Eropa sendiri, meliput D-Day, pembebasan Paris, kamp konsentrasi. Dia mengirim artikel brilian yang dibaca jutaan orang. Ernest di Kuba, mabuk di Pilar, berpura-pura bermain perang.
"Suamimu hebat," teman-teman Martha bilang setelah membaca artikelnya tentang Dachau.
"Dia bukan suamiku," Martha menjawab dingin. "Dia hanya orang yang aku nikahi."
Bartender menaruh daiquiri kedua. Lalu ketiga. Lalu keempat. Aku mulai kehilangan hitungan. Setiap gelas terasa lebih asam, lebih dingin, seperti es yang menusuk dari dalam.
Ernest akhirnya pergi ke Eropa tahun 1944, jadi koresponden perang untuk Collier's—pekerjaan yang seharusnya Martha, tapi Ernest merebut dengan koneksi dan ego. Dia ada di D-Day. Dia ada di pembebasan Paris. Dia bertemu dengan tentara, minum dengan jenderal, menulis artikel yang bagus tapi tidak sebrilian artikel Martha.
Dan di London, dia bertemu Mary Welsh.
Mary adalah wartawan juga, tapi tidak setenar Martha. Dia kecil, tangguh, dengan humor yang kering dan kesabaran yang—pada awalnya—tampak tidak terbatas. Ernest jatuh cinta dengan cara yang sudah familiar: cepat, intens, tanpa memikirkan konsekuensi.
Martha dan Ernest bercerai tahun 1945. Martha yang mengajukan—dia sudah muak dengan mabuk-mabukan Ernest, ego yang menggelembung, kekerasan verbal yang semakin sering. Perceraian itu tidak damai. Martha kemudian menulis: "I would rather be a war correspondent than a wife to that man."
Aku lebih memilih jadi koresponden perang daripada jadi istri pria itu.
Ernest menikahi Mary Welsh pada Maret 1946. Pernikahan keempat. Pola yang sama, tapi kali ini dengan sedikit perbedaan: Mary tahu apa yang dia hadapi. Dia sudah melihat Ernest mabuk, sudah melihat amarahnya, sudah tahu bahwa dia tidak menikahi genius yang anggun tapi pria rusak yang menutupi kehancuran dengan bravado dan alkohol.
Tapi Mary mencintainya. Atau setidaknya, dia mencoba.
"Pernikahan ini akan bertahan," kata bartender, menuangkan daiquiri kelima, keenam, ketujuh. "Tapi bukan karena bahagia. Karena Mary terlalu stubborn untuk menyerah."
Setelah perang, Ernest kembali ke Finca Vigía dengan Mary. Mereka mencoba membangun kehidupan yang stabil. Tapi Ernest kesulitan menulis. Across the River and Into the Trees diterbitkan tahun 1950—novel tentang kolonel tua yang sekarat, jatuh cinta dengan gadis muda Venesia.
Kritikus membunuhnya. "Hemingway sudah selesai," tulis salah satu review. "Dia kehilangan bakatnya."
Ernest hancur. Dia minum lebih banyak—tidak lagi enam botol wine per makan malam, tapi wine dari pagi hingga malam, daiquiri di sore hari, whiskey sebelum tidur. Liver-nya membengkak. Berat badannya naik drastis. Wajahnya merah dan kembung. Tapi yang paling buruk adalah dia tidak bisa menulis.
Dua tahun dia bergulat dengan halaman kosong. Dua tahun melihat mesin tik seperti musuh yang tidak bisa dikalahkan.
Lalu tahun 1951, sesuatu terjadi. Dia mulai menulis cerita tentang nelayan tua bernama Santiago yang pergi jauh ke laut, menangkap marlin raksasa setelah berhari-hari berjuang, lalu kehilangan ikan itu pada hiu dalam perjalanan pulang. Santiago kembali ke darat hanya dengan kerangka ikan, tapi dengan martabat utuh.
The Old Man and the Sea diterbitkan di Life Magazine tahun 1952. Lima juta eksemplar terjual dalam dua hari. Kritikus memuji sebagai mahakarya, kembalinya Hemingway yang legendaris.
Pulitzer Prize tahun 1953. Nobel Prize untuk Sastra tahun 1954.
Ernest pada puncak lagi, pada usia lima puluh empat tahun. Tapi tubuhnya sudah rusak. Dan pikirannya mulai pecah dengan cara yang tidak bisa diperbaiki.
Bartender berhenti di daiquiri ketujuh belas. Dia menaruh gelas-gelas kosong dalam barisan—seperti batu nisan kecil di kuburan yang lupa namanya siapa.
"Santiago berkata: 'A man can be destroyed but not defeated,'" bisik bartender. "Seorang pria bisa dihancurkan tapi tidak dikalahkan."
"Tapi itu bohong," kataku, lidahku sudah berat dari rum.
"Ya. Itu bohong."
Untuk merayakan Nobel Prize, Ernest dan Mary pergi safari lagi ke Afrika. Kenya, Uganda. Seperti tahun 1933, tapi tubuhnya sudah tidak sama. Dia gemuk, lambat, mabuk setiap malam.
Pada Januari 1954, pesawat charter mereka menabrak tiang telegraf saat lepas landas dan jatuh. Ernest dan Mary selamat dengan luka ringan. Tapi keesokan harinya, saat naik pesawat penyelamat, pesawat itu terbakar di landasan.
Dua kecelakaan dalam dua hari.
Ernest selamat lagi—tapi tidak utuh. Tulang belakangnya retak. Tengkoraknya pecah. Liver dan spleen dan ginjal ruptur. Disk tulang belakang tergelincir. Internal bleeding yang masif.
Koran di seluruh dunia menulis obituari. "Ernest Hemingway Tewas dalam Kecelakaan Pesawat di Afrika." Dia membaca obituarinya sendiri dari ranjang rumah sakit, tertawa pahit sambil minum whiskey dari botol yang Mary coba sembunyikan.
"Mereka pikir aku sudah mati," dia bilang pada Mary. "Mungkin mereka benar."
Sesuatu patah di dalam dirinya setelah kecelakaan itu. Bukan hanya fisik—meskipun sakitnya konstan, tidak berkurang, membuat tidur mustahil tanpa alkohol. Tapi juga mental. Dia mulai lupa hal-hal. Kata-kata yang tepat. Nama teman lama. Cerita yang sudah dia ceritakan berkali-kali.
CTE—chronic traumatic encephalopathy. Kerusakan otak dari terlalu banyak concussion. Perang, tinju, kecelakaan mobil, kecelakaan pesawat. Otaknya seperti buah yang sudah terlalu lama jatuh dari pohon, memar di dalam, busuk di tempat yang tidak terlihat.
Ernest dan Mary kembali ke Finca setelah Afrika, tapi rumah itu tidak terasa sama. Castro merebut kekuasaan di Kuba tahun 1959. Revolusi mengubah segalanya. Ekspatriat Amerika tidak lagi aman, tidak lagi dihormati. Finca—rumah yang Ernest cintai selama dua puluh tahun—tiba-tiba terasa seperti tempat asing.
Tahun 1960, Ernest dan Mary meninggalkan Kuba untuk terakhir kalinya. Mereka membawa beberapa barang, meninggalkan sebagian besar: buku, trofi berburu, manuskrip, foto, semua yang membuat Finca jadi rumah.
Ernest tidak pernah kembali. Finca Vigía sekarang museum, dirawat oleh pemerintah Kuba, diisi pengunjung yang berjalan melalui kamar-kamar kosong, melihat mesin tik yang tidak pernah disentuh lagi, kolam renang yang airnya hijau dan stagnan.
"Kau tidak bisa pulang," kata bartender, mengambil gelas-gelas daiquiri yang kosong. "Bukan karena rumahnya hilang. Karena kau yang hilang."
Aku menatap tujuh belas gelas kosong di depanku. Es sudah mencair semuanya, meninggalkan air yang bercampur dengan sisa rum dan jeruk nipis. Seperti sesuatu yang dulunya segar tapi sekarang hanya sisa yang tidak ada yang mau diminum.
Di awal, alkohol adalah bagian dari kehidupan sosial Ernest—wine di makan malam, cognac dengan teman, absinthe di kafe Paris. Tapi perlahan, tanpa dia sadari, itu berubah jadi kebutuhan.
Bangun dengan hangover, minum whiskey untuk menyembuhkannya. Menulis dengan wine di samping mesin tik. Makan siang dengan martini. Sore dengan daiquiri—tujuh belas gelas di El Floridita, rekornya sendiri yang dia banggakan. Makan malam dengan enam botol wine. Tidur dengan whiskey di nakas, untuk minum tengah malam saat mimpi buruk datang.
Liver-nya membengkak sejak tahun 1937—dokter memperingatkan, tapi Ernest tidak peduli. "Liver bisa regenerasi," dia bilang, menuangkan wine lagi. Tapi liver tidak bisa regenerasi jika terus-menerus diserang, terus-menerus diracuni, terus-menerus dipaksa memproses racun yang tidak pernah berhenti datang.
Hemochromatosis—penyakit genetik yang tidak terdiagnosis hingga terlambat—membuat semuanya lebih buruk. Zat besi menumpuk di organ-organ, menyebabkan kerusakan yang irreversible. Kombinasi dengan alkoholisme, dengan luka-luka fisik, dengan trauma otak—tubuh Ernest adalah rumah yang terbakar dari semua sisi sekaligus.
"Apa yang minuman berikan kepadamu?" tanyaku pada bartender.
Dia berpikir sebentar. "Di awal? Keberanian. Kreativitas. Perasaan bahwa kau tidak sendiri."
"Dan di akhir?"
"Hanya cara untuk tidak merasa sama sekali."
Aku mencoba berdiri, tapi kaki gemetar. Tujuh belas daiquiri—atau mungkin aku kehilangan hitungan. Bartender mengulurkan tangan, menopangku.
"Hemingway bilang Kuba adalah tempatnya menemukan kebahagiaan," katanya pelan. "Tapi yang dia temukan adalah tempat untuk bersembunyi dari semua yang dia hancurkan. Dan pada akhirnya, bahkan Kuba tidak bisa menyelamatkannya dari dirinya sendiri."
Aku mengangguk—atau mencoba. Kepala terasa seperti diisi kapas basah.
"Mojito memberimu ilusi," lanjut bartender, membersihkan gelas-gelas dengan gerakan mekanis. "Bahwa sesuatu masih bisa segar, masih bisa manis, masih bisa dimulai dari awal. Tapi daiquiri memberitahu kebenaran: semakin banyak kau minum, semakin asam semuanya. Dan pada gelas ketujuh belas, kau bahkan tidak merasakan apa-apa lagi."
Aku berjalan ke pintu—atau terhuyung, lebih tepatnya. Sebelum keluar, aku berbalik sekali lagi.
"Apakah dia bahagia di Kuba?"
Bartender menatapku dengan mata yang sekarang terlihat seperti mata Ernest sendiri—lelah, rusak, tapi masih mencoba mempertahankan sesuatu yang sudah lama hilang.
"Dia bahagia saat mabuk. Tapi mabuk bukan kebahagiaan. Itu hanya ketiadaan kesedihan untuk beberapa jam."
Aku keluar ke malam. Udara terasa terlalu dingin setelah kehangatan palsu rum. Di belakangku, aku mendengar bartender berbisik—atau mungkin hanya angin, atau mungkin hanya dalam kepalaku yang mabuk:
"Minuman terakhir tidak manis. Tidak asam. Hanya pahit, dan dingin, dan kosong."
Di cermin bar yang kulihat sekilas sebelum pintu tertutup, ada bayangan pria tua gemuk dengan jenggot putih, duduk sendirian di meja besar di Finca Vigía, dikelilingi tujuh belas gelas kosong, menatap mesin tik yang tidak pernah lagi menghasilkan kata-kata yang tepat.
Dan di matanya, aku melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada kematian: kesadaran bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya hal yang membuat hidupnya berarti.
Kemampuan untuk menulis kebenaran.
Komentar
Posting Komentar