Emas Yang Tidak Pernah Ada
Bagian 2: Metamorfosis di Pagi Hari Kerja
Tulisan sebelumnya bagian 1
Nomor antrean saya akhirnya dipanggil.
Saya berjalan ke loket dengan campuran lega dan was-was yang aneh—perasaan yang sama seperti ketika kau dipanggil ke ruang kepala sekolah tanpa tahu apa yang telah kau lakukan. Petugas di balik kaca tersenyum, meminta berkas-berkas saya, lalu mengetik sesuatu di komputernya dengan kecepatan yang tidak bisa saya ikuti.
"Ada yang kurang, Pak," katanya setelah beberapa menit.
"Kurang apa?"
"Formulir B-17. Harus dilampirkan."
"Tapi di persyaratan tidak disebutkan formulir itu."
"Memang tidak, Pak. Tapi ini prosedur baru. Baru berlaku minggu ini."
Saya menatapnya. Ia menatap saya balik dengan kesabaran profesional yang tak tergoyahkan—kesabaran yang sudah dilatih untuk menghadapi ribuan orang seperti saya, yang datang dengan harapan dan pergi dengan kertas tambahan yang harus diisi.
"Di mana saya bisa mendapatkan formulir itu?"
"Di gedung sebelah, Pak. Lantai tiga. Loket 7."
Saya keluar dari ruangan dengan langkah yang lebih berat daripada ketika saya masuk. Di luar, matahari sudah tinggi. Sudah hampir lima jam berlalu, dan saya tidak lebih dekat ke tujuan saya daripada ketika saya pertama kali duduk di kursi plastik itu.
Kafka pasti akan tertawa. Atau mungkin tidak. Mungkin ia akan mengangguk pelan, seperti seseorang yang sudah terlalu lama mengenal kebenaran untuk masih terkejut olehnya.
Pada Juli 1923, setahun sebelum kematiannya, Franz Kafka pergi ke sebuah resor tepi laut di Graal-Müritz, di pantai Baltik. Tuberkulosisnya sudah parah. Demamnya tidak pernah benar-benar turun. Ia berusia empat puluh tahun dan tahu bahwa waktunya tidak banyak lagi.
Di sana, di dekat penginapannya, ada sebuah koloni liburan untuk anak-anak Yahudi dari Berlin. Kafka sering mengamati mereka dari jauh—suara tawa mereka, permainan mereka, kehidupan yang masih begitu penuh kemungkinan.
Suatu hari, ia bertemu dengan salah satu pengasuh di koloni itu. Namanya Dora Diamant. Ia berusia dua puluh lima tahun, berasal dari keluarga Yahudi Hasidik yang ketat di Polandia, dan telah melarikan diri dari tradisi ayahnya untuk mencari kehidupan yang lebih bebas di Berlin.
Kafka kemudian menulis tentang momen pertama melihat Dora: ia sedang membersihkan ikan di dapur koloni, dan ada sesuatu dalam cara tangannya bergerak—begitu alami, begitu hadir dalam momen itu—yang membuatnya terpesona.
Dora, di sisi lain, mengingat pertemuan pertama mereka dengan cara yang berbeda: "Ketika saya melihat Kafka untuk pertama kalinya, saya langsung menyadari bahwa sosoknya sesuai dengan ide dan konsepsi saya tentang manusia sejati."
Mereka jatuh cinta. Dengan cepat. Dengan intensitas yang hanya mungkin ketika kau tahu bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak kau miliki banyak.
Tiga minggu kemudian, Kafka membuat keputusan yang tidak pernah berhasil ia buat sebelumnya: ia meninggalkan Praha. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia pergi dari kota yang selalu ia benci tapi tidak pernah mampu ia tinggalkan—kota ayahnya, kota rasa bersalahnya, kota yang ia gambarkan dalam buku hariannya sebagai "kerusakan manusia terbesar yang pernah saya alami."
Ia pindah ke Berlin untuk tinggal bersama Dora.
Berlin pada tahun 1923 adalah kota yang sedang sekarat.
Inflasi telah mencapai titik yang tidak bisa dibayangkan—harga-harga naik setiap jam, uang kehilangan maknanya begitu cepat sehingga orang membawa koper penuh uang kertas hanya untuk membeli roti. Pengangguran merajalela. Kekerasan politik pecah di sudut-sudut kota.
Dan di tengah semua itu, Kafka menemukan sesuatu yang tidak pernah ia temukan sebelumnya: kebahagiaan.
Max Brod, yang mengunjungi mereka di Berlin, menyebut kehidupan Kafka dan Dora sebagai "sebuah idyll"—sebuah keindahan sederhana di tengah kekacauan. Kafka menulis, Dora memasak. Di malam hari, ia membacakan cerita-ceritanya dengan suara keras, dan Dora mendengarkan dengan penuh perhatian sampai ia hafal setiap katanya. Ia membuat bayangan tangan di dinding untuk menghiburnya. Mereka tertawa bersama.
Untuk pertama kalinya, Kafka bermimpi tentang masa depan. Ia dan Dora berencana pindah ke Palestina, membuka sebuah restoran kecil di mana Dora akan memasak dan Kafka akan menjadi pelayan. Sebuah fantasi yang manis dan mustahil—tapi untuk beberapa bulan singkat, Kafka mengizinkan dirinya untuk bermimpi.
Ada sebuah cerita yang Dora kemudian ceritakan kepada beberapa orang. Suatu hari, ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman di Steglitz, mereka bertemu seorang gadis kecil yang sedang menangis karena kehilangan bonekanya.
Kafka berlutut dan berkata kepada gadis itu: bonekanya tidak hilang, ia hanya sedang bepergian. Dan boneka itu telah mengirimkan surat kepadanya.
Gadis kecil itu curiga. "Mana suratnya?"
"Saya tidak membawanya hari ini," jawab Kafka. "Tapi kalau kau kembali besok, saya akan membawakan suratnya untukmu."
Selama tiga minggu berikutnya, setiap hari, Kafka datang ke taman dengan surat baru dari boneka itu. Ia menulis surat-surat itu dengan ketelitian yang sama seperti yang ia curahkan untuk karya sastranya—menggambarkan petualangan boneka di negeri-negeri jauh, pertemuan dengan teman-teman baru, dan alasan mengapa ia belum bisa pulang.
Pada akhirnya, boneka itu menulis bahwa ia telah jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah di negeri yang jauh. Ia tidak akan kembali, tapi ia sangat bahagia, dan ia berharap gadis kecil itu juga akan bahagia.
Surat-surat itu tidak pernah ditemukan. Mungkin mereka dibakar bersama naskah-naskah lain yang Kafka minta Dora hancurkan di hadapannya selama bulan-bulan terakhirnya.
Tapi cerita itu tetap ada—sebuah bukti bahwa pria yang menulis tentang orang-orang yang berubah menjadi serangga dan diadili tanpa tuduhan juga mampu menulis tentang cinta, tentang kehilangan, tentang cara melepaskan sesuatu dengan anggun.
Gregor Samsa terbangun suatu pagi dan mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa.
Ini adalah kalimat pembuka yang paling terkenal dalam sastra modern—sebuah premis yang begitu absurd sehingga seharusnya komedi, tapi ditulis dengan nada yang begitu datar dan birokratis sehingga menjadi mimpi buruk.
Yang membuat The Metamorphosis begitu mengerikan bukan transformasi fisiknya. Bukan kaki-kaki kecil yang bergerak-gerak tanpa bisa dikontrol, bukan punggung keras yang membuatnya tidak bisa membalikkan badan, bukan suara yang berubah menjadi desisan yang tidak bisa dipahami keluarganya.
Yang mengerikan adalah apa yang terjadi setelah transformasi.
Keluarga Gregor—ayah, ibu, adik perempuan yang dulunya sangat menyayanginya—perlahan-lahan berhenti melihatnya sebagai manusia. Awalnya mereka terkejut. Lalu kasihan. Lalu kesal, karena Gregor tidak lagi bisa pergi bekerja dan menghidupi mereka. Mereka mulai menyimpan barang-barang di kamarnya, memperlakukannya seperti gudang. Adiknya, yang dulu membawakan makanan untuknya dengan penuh kasih sayang, mulai hanya mendorong piring ke dalam kamar dengan kakinya.
Dan ketika Gregor akhirnya mati—kurus kering, dilupakan, dengan sebuah apel busuk yang tertanam di punggungnya karena dilempar oleh ayahnya—keluarganya tidak berduka. Mereka lega. Mereka pergi bertamasya ke luar kota, dan dalam perjalanan itu, mereka mulai merencanakan masa depan yang lebih cerah tanpanya.
Kafka tidak pernah menjelaskan mengapa Gregor berubah. Tidak ada kutukan, tidak ada penjelasan ilmiah, tidak ada makna simbolis yang gamblang. Transformasi itu hanya terjadi—seperti penyakit yang datang tanpa alasan, seperti kecelakaan yang mengubah seseorang dari "produktif" menjadi "beban."
Dan mungkin itulah yang paling mengerikan: bahwa dalam dunia Kafka, kau tidak perlu melakukan kesalahan untuk dihukum. Kau hanya perlu berhenti menjadi berguna.
The Trial dimulai dengan kalimat yang hampir sama absurdnya: "Seseorang pasti telah memfitnah Josef K., karena suatu pagi, tanpa melakukan kesalahan apa pun, ia ditangkap."
Seluruh novel adalah pencarian Josef K. untuk mengetahui apa tuduhannya, siapa yang mengadilinya, bagaimana cara membela diri. Ia pergi dari satu tempat ke tempat lain—loteng-loteng berdebu di mana sidang-sidang rahasia diadakan, koridor-koridor gelap di mana pejabat-pejabat rendahan bekerja, katedral kosong di mana seorang pendeta menceritakan kepadanya sebuah parabola tentang seorang pria yang menghabiskan seluruh hidupnya menunggu di depan sebuah pintu yang ternyata memang ditujukan untuknya, tapi tidak pernah dibukakan.
Pengadilan dalam novel ini tidak pernah terlihat. Tidak ada hakim yang duduk di kursi tinggi, tidak ada jaksa yang membacakan tuduhan, tidak ada bukti yang diajukan. Yang ada hanyalah prosedur—formulir yang harus diisi, pejabat yang harus ditemui, ruangan yang harus dikunjungi. Semuanya sangat teratur. Semuanya sangat sopan. Dan semuanya sama sekali tidak membantu.
Pada akhirnya, Josef K. tidak pernah mengetahui apa kesalahannya. Dua pria datang ke apartemennya, membawanya ke sebuah tambang batu di pinggir kota, dan membunuhnya dengan cara yang sangat profesional—"seperti seekor anjing," pikirnya di detik-detik terakhirnya.
Kafka menulis The Trial dalam ledakan kreativitas yang luar biasa pada 1914, tahun yang sama ketika Perang Dunia Pertama dimulai. Ia tidak pernah menyelesaikannya. Bab-bab yang ada tidak pernah disusun dalam urutan final. Ada awal yang jelas (penangkapan) dan akhir yang jelas (eksekusi), tapi semua yang ada di antaranya tetap cair, tidak pasti, terbuka untuk interpretasi.
Mungkin ketidaklengkapan itu sendiri adalah bagian dari kebenaran yang coba Kafka sampaikan: bahwa dalam hidup, kita sering kali tidak mendapatkan penjelasan, tidak mendapatkan resolusi, tidak mendapatkan keadilan yang kita cari.
The Castle adalah novel terakhir Kafka, dimulai pada 1922 dan tidak pernah diselesaikan.
K.—hanya K., tanpa nama lengkap—datang ke sebuah desa yang diatur oleh sebuah kastil di atas bukit. Ia mengklaim telah dipekerjakan sebagai surveyor tanah oleh otoritas kastil, tapi tidak ada yang bisa mengkonfirmasi klaimnya. Ia mencoba menghubungi kastil, tapi setiap upaya berakhir dengan frustrasi: pesan tidak pernah sampai, pejabat tidak pernah bisa ditemui, prosedur tidak pernah selesai.
Yang paling mengerikan dari The Castle adalah ini: kastil itu selalu terlihat. Dari mana pun K. berdiri di desa, ia bisa melihatnya di atas bukit—bangunan yang tampak sangat dekat, sangat bisa dijangkau. Tapi setiap kali ia mencoba mendekatinya, jalan-jalan berbelok ke arah yang salah, salju semakin tebal, dan kastil tetap berada pada jarak yang sama.
Orang-orang di desa sangat membantu. Mereka memberikan informasi, menawarkan saran, menjelaskan prosedur. Tidak ada yang jahat. Tidak ada yang berniat buruk. Mereka semua hanya "menjalankan tugas"—dan justru itulah yang membuat situasinya begitu tanpa harapan.
Beberapa kritikus membaca The Castle sebagai alegori tentang pencarian manusia akan Tuhan—makna transenden yang selalu terasa dekat tapi tidak pernah bisa dicapai. Yang lain membacanya sebagai kritik terhadap birokrasi modern, di mana manusia tersesat dalam labirin prosedur yang tidak ada ujungnya. Kafka sendiri tidak pernah memberikan penjelasan.
Mungkin semua pembacaan itu benar. Atau mungkin tidak ada yang benar. Mungkin The Castle hanyalah gambaran jujur tentang bagaimana rasanya hidup di dunia di mana jawaban-jawaban yang kita cari selalu berada sedikit di luar jangkauan.
Pada musim semi 1924, tuberkulosis Kafka telah menyebar ke laringnya.
Ia tidak bisa lagi menelan makanan padat. Berbicara menjadi semakin sulit, lalu menyakitkan, lalu mustahil. Ia berkomunikasi dengan menulis di kertas-kertas kecil—yang kemudian dikenal sebagai "lembar percakapan"—yang ia tunjukkan kepada Dora dan dokter yang merawatnya.
Sekitar empat puluh lembar percakapan ini masih ada sampai sekarang. Di dalamnya, kita bisa membaca pikiran-pikiran terakhir Kafka: kekhawatiran tentang bunga-bunga di kamarnya yang mungkin kehausan, komentar tentang makanan yang tidak bisa ia makan, dan—di sela-sela semua itu—kilasan-kilasan humor gelap yang tidak pernah meninggalkannya.
"Jangan buang-buang," tulisnya ketika seorang perawat membawakan bir. "Saya sudah akan mati."
Ketika dokternya, Robert Klopstock, mematahkan alat penekan lidah saat memeriksa tenggorokannya, Kafka menulis: "Kalau saya terus hidup, kau akan mematahkan sepuluh lagi."
Pada 3 Juni 1924, di sanatorium Kierling di luar Wina, Kafka meminta dokternya untuk memberikan suntikan morfin. Ia sudah tidak kuat lagi.
"Bunuh saya," tulisnya, "atau kau adalah pembunuh."
Dokter itu akhirnya memberikan morfin dalam dosis yang cukup untuk menghentikan rasa sakit. Kafka meninggal di pelukan Dora Diamant, dengan aroma bunga peoni dan lilac yang ia minta didekatkan ke tempat tidurnya agar ia bisa menciumnya untuk terakhir kali.
Ia dimakamkan di Pemakaman Yahudi Baru di Praha pada 11 Juni 1924. Di batu nisannya tertulis namanya, tanggal lahir dan kematiannya, dan tidak ada lagi. Kafka yang selalu merasa bersalah, yang selalu merasa tidak cukup, yang selalu merasa tidak pantas—akhirnya berhenti meminta maaf.
Setelah pemakaman, orang tua Kafka mengundang Max Brod ke apartemen mereka untuk memeriksa isi meja kerja putra mereka.
Di sana, di antara pensil-pensil patah dan kancing-kancing kerah dan pemberat kertas, Brod menemukan arsip yang luar biasa: buku-buku catatan yang belum pernah diterbitkan, draf-draf novel yang belum selesai, buku harian, dan ratusan surat.
Ia juga menemukan dua catatan yang ditulis Kafka untuknya. Salah satunya berbunyi:
"Permintaan terakhirku: Semua yang kutinggalkan... dalam bentuk buku catatan, naskah, surat milikku sendiri maupun orang lain, sketsa dan sebagainya, harus dibakar tanpa dibaca sampai halaman terakhir."
Catatan kedua, yang tampaknya ditulis lebih awal, sedikit lebih spesifik—menyebutkan beberapa karya yang sudah diterbitkan sebagai pengecualian—tapi kesimpulannya sama: semua yang belum diterbitkan harus dihancurkan.
Brod tidak mematuhi permintaan itu.
Ia kemudian berargumen bahwa ketika Kafka secara pribadi memintanya untuk membakar naskah-naskahnya, Brod telah menjawab dengan tegas bahwa ia tidak akan melakukannya. "Franz seharusnya menunjuk eksekutor lain," tulisnya, "jika ia benar-benar dan final bertekad bahwa instruksinya harus dilaksanakan."
Mungkin Brod benar. Mungkin Kafka—yang tahu betul karakter Brod—memilihnya justru karena ia tahu Brod tidak akan mematuhi wasiatnya. Mungkin permintaan untuk membakar itu sendiri adalah semacam tes, atau permainan, atau ekspresi ambivalensi yang sama yang menghantui seluruh hidup Kafka.
Atau mungkin Kafka benar-benar ingin naskah-naskahnya dibakar, dan Brod mengkhianatinya.
Kita tidak akan pernah tahu.
Yang kita tahu adalah ini: Brod mengedit dan menerbitkan novel-novel Kafka yang belum selesai—The Trial pada 1925, The Castle pada 1926, Amerika pada 1927. Ia menulis biografi Kafka. Ia menjadi penjaga warisan sastranya. Dan ketika Nazi menduduki Praha pada 1939, Brod melarikan diri dengan kereta terakhir yang meninggalkan kota, membawa koper berisi naskah-naskah Kafka bersamanya.
Koper itu selamat. Kafka menjadi salah satu penulis paling penting abad kedua puluh. Kata "kafkian" memasuki kamus sebagai cara untuk menggambarkan situasi-situasi yang absurd, birokratis, dan tanpa harapan.
Dan kita semua berutang pada pengkhianatan Max Brod.
Dora Diamant hidup empat puluh tahun lagi setelah kematian Kafka.
Ia menyimpan surat-surat dan buku catatan terakhir Kafka—menolak untuk menyerahkannya kepada Max Brod, meskipun Brod terus memintanya. Pada 1933, ketika Nazi berkuasa, Gestapo menggeledah apartemennya dan menyita semua dokumen yang bisa mereka temukan. Surat-surat Kafka kepada Dora, buku-buku catatannya yang terakhir, naskah-naskah yang tidak diketahui isinya—semuanya hilang.
Pencarian dokumen-dokumen itu masih berlangsung sampai sekarang. Ada yang percaya bahwa mereka mungkin masih ada di suatu tempat di arsip-arsip yang belum diperiksa, selamat dari perang dan penghancuran. Ada yang percaya bahwa mereka sudah hancur sejak lama.
Dora sendiri melarikan diri dari Berlin ke Moskow, lalu ke Inggris. Ia menjadi aktivis untuk melestarikan bahasa dan budaya Yiddish. Ia memberi kuliah tentang Kafka, menceritakan kisah-kisah tentang bulan-bulan terakhir mereka bersama. Batu nisannya, di sebuah pemakaman di East Ham, London, bertuliskan: "Siapa yang mengenal Dora, mengenal apa artinya cinta."
Putrinya, Franziska Marianne—dinamai menurut Franz Kafka—meninggal pada 1982 dalam keadaan yang tragis: ia ditemukan di apartemennya di London, setelah kelaparan sendiri sampai mati. Ia berusia empat puluh delapan tahun.
Cerita-cerita ini tidak ada dalam novel-novel Kafka. Tapi mereka terasa kafkian dengan cara yang sangat menyakitkan—siklus kehilangan dan kelangsungan hidup, dokumen-dokumen yang hilang dan ditemukan dan hilang lagi, cinta yang bertahan melampaui kematian tapi tidak bisa mencegah tragedi-tragedi baru.
Saya berdiri di depan gedung sebelah, menatap tangga yang menuju ke lantai tiga.
Formulir B-17. Loket 7. Prosedur baru yang tidak ada dalam persyaratan tertulis.
Di saku saya, buku The Trial terasa lebih berat daripada seharusnya. Saya tidak membukanya lagi. Saya sudah tahu apa yang tertulis di dalamnya—dan lebih penting lagi, saya sudah tahu apa yang tidak tertulis.
Kafka tidak menulis solusi. Ia tidak menulis jalan keluar. Ia tidak menulis happy ending di mana Josef K. akhirnya menemukan pengacaranya yang kompeten, atau K. akhirnya masuk ke kastil, atau Gregor Samsa terbangun dan menemukan bahwa semuanya hanya mimpi buruk.
Yang ia tulis adalah kebenaran: bahwa dunia ini penuh dengan sistem-sistem yang tidak kita buat, prosedur-prosedur yang tidak kita pahami, dan hukuman-hukuman yang datang sebelum kesalahan. Bahwa kita semua, dalam satu atau lain cara, adalah orang asing di tanah kita sendiri. Bahwa rasa bersalah sering kali tidak membutuhkan alasan untuk ada.
Tapi ia juga menulis surat-surat untuk boneka yang hilang. Ia juga membuat bayangan tangan di dinding untuk menghibur wanita yang ia cintai. Ia juga, di hari-hari terakhirnya, meminta agar bunga-bunga di kamarnya diberi air karena ia khawatir mereka kehausan.
Ada kelembutan di balik kegelapan Kafka. Ada perhatian di balik absurditas. Ia bukan seorang pesimis—ia hanya terlalu jujur untuk berpura-pura bahwa dunia ini lebih baik daripada yang sebenarnya. Dan di dalam kejujuran itu, anehnya, ada sesuatu yang menyerupai harapan.
Saya naik ke lantai tiga. Mengambil nomor antrean baru. Duduk di kursi plastik lain yang persis sama dengan kursi di gedung sebelumnya.
Di depan saya, layar elektronik menampilkan angka 412. Nomor antrean saya 447.
Tiga puluh lima nomor lagi.
Saya membuka The Trial di halaman terakhir yang saya tandai, dan membaca sebuah aforisme yang Kafka tulis di buku catatannya:
"Ada tujuan, tetapi tidak ada jalan; yang kita sebut jalan hanyalah keraguan kita."
Di luar jendela, matahari mulai turun. Sebentar lagi sore. Sebentar lagi malam. Dan besok, jika formulir B-17 ternyata membutuhkan lampiran lain yang tidak disebutkan dalam persyaratan, saya akan kembali lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Tapi untuk saat ini, saya di sini. Menunggu. Membaca. Mencoba memahami sesuatu yang mungkin tidak bisa dipahami.
Dan mungkin—hanya mungkin—itu sudah cukup.
Kafka pernah menulis dalam buku hariannya: "Dalam pertarungan antara dirimu dan dunia, dukunglah dunia."
Saya tidak yakin apakah itu nasihat atau ironi. Dengan Kafka, perbedaan itu tidak pernah jelas. Tapi ada sesuatu yang membebaskan dalam kalimat itu—pengakuan bahwa dunia ini lebih besar dari kita, lebih absurd dari kita, dan akan terus berputar dengan atau tanpa persetujuan kita.
Yang bisa kita lakukan hanyalah terus menulis. Terus bersaksi. Terus mencatat apa yang kita lihat dan rasakan, meskipun tidak ada yang akan membacanya, meskipun kita sendiri akan meminta agar semuanya dibakar.
Kafka menulis sampai akhir. Sampai tangannya tidak bisa lagi memegang pena. Sampai suaranya digantikan oleh kertas-kertas kecil yang ia tunjukkan kepada orang-orang yang ia cintai.
Nomor 413 dipanggil.
Masih 34 nomor lagi.
Saya membalik halaman, dan terus membaca.
Tamat
Komentar
Posting Komentar