Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...

Woolf di Sungai - Bagian 1: Arus Pertama

Woolf di Sungai - Bagian 1: Arus Pertama

Woolf di Sungai

Sebuah Personal Naratif

Bagian 1: Arus Pertama

I.

Saya sudah berdiri di tepi sungai ini selama dua puluh menit, dan air terus mengalir tanpa peduli.

Tidak seperti ruang tunggu dengan nomor antrean yang merayap, sungai tidak mengenal urutan. Tidak ada yang harus ditunggu. Air hanya mengalir—dari hulu ke hilir, dari kemarin ke besok, membawa daun-daun kering dan sampah plastik dengan kesetaraan yang sempurna.

Di tangan kiri saya ada buku dengan sampul biru pucat: Mrs Dalloway karya Virginia Woolf, edisi terjemahan yang sudah lusuh di sudut-sudutnya. Di tangan kanan, sebungkus kopi dari warung dekat stasiun—sudah agak dingin, tapi saya tetap meminumnya sedikit demi sedikit. Rasanya seperti tanah basah dan kelelahan.

Ini bukan sungai yang besar. Ciliwung di bagian yang sudah lelah, di mana airnya berwarna cokelat keruh dan berbau seperti kota yang tidak pernah tidur. Di seberang, ada tembok beton penuh grafiti. Di kejauhan, suara klakson motor bercampur dengan teriakan pedagang gorengan.

Tapi ada sesuatu tentang air yang membuat saya tidak bisa pergi.

Mungkin karena kemarin saya baru selesai membaca biografi Woolf yang tebal—800 halaman tentang seorang perempuan yang menghabiskan hidupnya melawan ombak di dalam kepalanya sendiri, dan akhirnya kalah. Atau menang. Saya tidak yakin perbedaan keduanya pada akhirnya.

Di seberang sungai, ada seorang perempuan tua duduk di bangku taman yang saya tidak ingat pernah ada sebelumnya. Ia menatap saya. Atau mungkin ia menatap sesuatu yang lain—sesuatu di belakang saya, atau sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sudah terlalu lama hidup.

Saya berkedip.

Ketika membuka mata, bangku itu kosong.

Mungkin ia memang tidak pernah ada. Atau mungkin saya yang tidak pernah benar-benar melihat.

II.

Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882, di sebuah rumah besar di Hyde Park Gate, London.

Nomor 22. Tiga lantai. Ruang tamu yang gelap dengan gorden tebal, tangga kayu yang berderit, dan perpustakaan yang berisi dua puluh ribu buku—semua milik ayahnya, Leslie Stephen.

Leslie adalah editor, sejarawan, pemikir. Salah satu intelektual terbesar era Victoria. Orang-orang seperti Henry James dan Thomas Hardy datang ke rumah itu untuk minum teh dan berbicara tentang sastra sampai larut malam. Virginia kecil mendengarkan dari balik tangga, mencoba menangkap kata-kata yang bergerak seperti ikan di dalam akuarium—indah, tapi tidak bisa dipegang.

Ibunya, Julia Jackson, adalah salah satu perempuan tercantik di London. Wajahnya sering menjadi model untuk lukisan Pre-Raphaelite—wajah yang membuat orang berhenti di jalan, wajah yang membuat penyair menulis soneta. Tapi kecantikan Julia bukan hadiah. Kecantikan Julia adalah beban yang harus ia pikul dengan senyum yang lelah.

Rumah di Hyde Park Gate bukan rumah biasa. Ini adalah rumah keluarga blended—istilah modern untuk situasi yang sangat Victoria. Julia sudah pernah menikah sebelumnya. Punya tiga anak: George, Stella, Gerald. Leslie juga sudah pernah menikah. Punya satu anak perempuan: Laura, yang "tidak normal"—istilah yang dipakai saat itu untuk anak dengan keterlambatan perkembangan.

Lalu mereka menikah dan punya empat anak lagi: Vanessa, Thoby, Virginia, Adrian.

Delapan anak dalam satu rumah. Tapi bukan delapan anak yang setara.

Thoby dan Adrian—laki-laki—dikirim ke sekolah, lalu ke Cambridge. Vanessa dan Virginia—perempuan—diajar di rumah oleh guru privat. Mereka boleh membaca buku di perpustakaan ayah, tapi harus minta izin dulu. Seperti tamu di rumah sendiri.

"Mengapa aku tidak bisa sekolah?" tanya Virginia kecil suatu hari.

"Karena perempuan tidak perlu pendidikan formal," jawab ayahnya, dengan nada yang bahkan tidak terdengar kejam. Hanya faktual. Seperti mengatakan bahwa air mengalir ke bawah, atau langit berwarna biru.

Virginia tidak bertanya lagi. Tapi ia mengingat.

Bertahun-tahun kemudian, ia akan menulis esai yang terkenal—A Room of One's Own—tentang mengapa perempuan membutuhkan uang dan ruang sendiri untuk bisa menulis. Tapi saat itu, di rumah besar yang gelap itu, Virginia hanya duduk di tangga dan mendengarkan suara laki-laki berbicara tentang sastra, sementara ibunya melayani teh dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya.

III.

Pada 5 Mei 1895, Julia Jackson meninggal.

Influenza, kata dokter. Tapi orang-orang yang kenal Julia tahu kebenarannya: ia meninggal karena kelelahan. Kelelahan dari mengurus delapan anak, suami yang menuntut, rumah tangga besar, dan semua orang lain yang terus-menerus meminta sesuatu darinya—perhatian, waktu, cinta—sampai tidak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri.

Virginia berusia tiga belas tahun.

Leslie Stephen mengumumkan kematian istrinya dengan cara yang sangat teatrikal. Ia memanggil semua anak ke ruang tamu, berdiri di depan perapian yang tidak menyala, dan berkata: "Ibu kalian telah meninggalkan kita."

Meninggalkan. Seperti seseorang yang pergi berlibur dan lupa pulang.

Malam itu, Virginia berbaring di tempat tidur dan mendengar suara ibunya memanggil namanya dari koridor. Suara yang sangat jelas. Sangat nyata. "Virginia. Virginia, sayang."

Ia bangkit, membuka pintu kamar. Koridor gelap. Kosong. Hanya ada bayangan yang bergerak seperti air di dinding—pantulan cahaya lilin dari kamar seseorang yang masih terjaga, atau mungkin sesuatu yang lain.

"Ibu?"

Tidak ada jawaban.

Virginia kembali ke kamar dan menangis tanpa suara, karena di rumah itu, kesedihan harus dilakukan dengan sopan. Seperti minum teh. Seperti membaca buku. Dengan tata krama yang sempurna dan tanpa mengganggu orang lain.

Ini adalah breakdown pertama Virginia. Dokter menyebutnya "histeria"—diagnosis yang sangat nyaman untuk menjelaskan perempuan yang merasakan terlalu banyak, atau berpikir terlalu dalam, atau tidak bisa berhenti mendengar suara-suara yang tidak seharusnya ada.

Tapi yang tidak dimengerti oleh dokter—atau mungkin tidak ingin mengerti—adalah bahwa suara-suara itu nyata bagi Virginia. Sama nyatanya dengan air yang mengalir, atau jantung yang berdetak, atau rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Kematian Julia adalah gelombang pertama yang menenggelamkan Virginia. Tapi bukan yang terakhir.

Di kamarnya yang gelap, Virginia mulai menulis. Bukan karena ia ingin menjadi penulis—bukan saat itu. Ia menulis karena itu satu-satunya cara untuk menghentikan suara-suara. Satu-satunya cara untuk membuat pikiran yang mengalir seperti sungai menjadi sesuatu yang bisa dipegang. Sesuatu yang bisa dilihat di atas kertas.

Stream of consciousness, orang-orang akan menyebutnya bertahun-tahun kemudian. Tapi saat itu, bagi Virginia yang berusia tiga belas tahun, itu hanya cara untuk bertahan hidup satu hari lagi.

IV.

Saya duduk di tepi sungai dan membuka termos kopi yang sudah benar-benar dingin.

Ada sesuatu tentang kopi dingin yang terasa jujur. Tidak ada ilusi tentang kehangatan atau kenyamanan. Hanya rasa pahit yang tidak berpura-pura menjadi hal lain.

Di telinga, earphone memutar Debussy—La Mer. Laut. Atau lebih tepatnya: tiga sketsa simfoni tentang laut. Ombak yang naik turun dalam nada-nada yang tidak pernah benar-benar menyelesaikan diri mereka sendiri. Seperti pertanyaan tanpa jawaban. Seperti kalimat yang tidak selesai.

Seperti cara Virginia Woolf menulis.

Woolf tidak menulis dengan plot yang rapi. Tidak ada awal-tengah-akhir yang teratur seperti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Ia menulis dengan cara pikiran bekerja—melompat dari satu momen ke momen lain, dari masa lalu ke masa depan, dari kenyataan ke imajinasi, tanpa batas yang jelas.

Stream of consciousness. Arus kesadaran.

Dalam Mrs Dalloway, seluruh novel terjadi dalam satu hari—dari pagi sampai malam—tapi di dalam satu hari itu, kita masuk ke kepala puluhan orang, melihat ingatan mereka, ketakutan mereka, keinginan mereka yang tidak pernah diucapkan. Seperti menatap permukaan sungai dan tiba-tiba bisa melihat semua yang ada di bawahnya.

"Life is not a series of gig lamps symmetrically arranged," tulis Woolf dalam salah satu esainya. Hidup bukan serangkaian lampu yang tersusun simetris. "Life is a luminous halo, a semi-transparent envelope surrounding us from the beginning of consciousness to the end."

Hidup adalah lingkaran cahaya yang bercahaya. Amplop semi-transparan yang mengelilingi kita dari awal kesadaran sampai akhir.

Saya menutup buku dan menatap air.

Ada kertas-kertas kecil mengapung di permukaan—sampah dari hulu, atau mungkin surat cinta yang dibuang seseorang, atau halaman buku yang robek. Mereka bergerak mengikuti arus, berputar-putar sejenak di pusaran kecil, lalu hilang dibawa ke hilir.

Saya membayangkan itu adalah halaman-halaman dari buku Woolf yang robek. Kalimat-kalimat yang lolos dan sekarang mengalir sendiri, mencari pembaca di tempat lain.

Saya mengulurkan tangan, mencoba menangkap salah satunya. Tapi begitu jari saya menyentuh air, kertas itu menghindar—bergerak lebih cepat, seolah punya kehendak sendiri.

Atau mungkin saya yang terlambat.

Atau mungkin beberapa hal memang tidak bisa ditangkap. Hanya bisa diamati saat mereka pergi.

Saya mengangkat tangan dari air. Dingin. Jari-jari saya basah, dan untuk sesaat—hanya sesaat—saya melihat ada tulisan di telapak tangan saya. Dengan tinta yang tidak terlihat. Atau mungkin hanya bayangan. Atau mungkin imajinasi.

"I am rooted, but I flow."

Saya berkedip. Tulisan itu menghilang. Atau mungkin memang tidak pernah ada.

Tapi kalimat itu tetap ada di kepala saya—salah satu kalimat paling indah yang pernah ditulis Woolf. Dari novel The Waves. Tentang seseorang yang berakar tapi mengalir. Tentang kontradiksi yang tidak perlu diselesaikan. Tentang menjadi dua hal sekaligus: terikat dan bebas, diam dan bergerak, hidup dan—

Saya tidak menyelesaikan pikiran itu.

Di seberang sungai, perempuan tua itu duduk lagi di bangku yang sama. Kali ini ia tidak menatap saya. Ia menatap air, seperti saya. Seperti sedang menunggu sesuatu yang hanya bisa datang dari bawah permukaan.

Saya tidak berkedip. Saya hanya duduk di sana, memegang buku, mendengarkan Debussy, dan membiarkan air terus mengalir.

Virginia Woolf menulis bahwa kehilangan adalah sesuatu yang membentuknya. Setiap kematian adalah sungai baru yang harus ia seberangi. Dan ia tidak pernah benar-benar sampai ke seberang. Ia hanya terus mengalir.

Tapi kematian ibu bukan satu-satunya gelombang yang menenggelamkan Virginia.

Ada yang lain. Sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun—sampai bertahun-tahun kemudian, ketika ia sudah cukup tua untuk memahami bahwa beberapa kegelapan tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu di dasar sungai, di bawah permukaan yang tenang.

Menunggu untuk naik kembali.


Bersambung ke Bagian 2: Pusaran Gelap...

Index Lengkap:


Komentar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Analisis Mendalam: "Keheningan yang Menyembuhkan" - Prosa Kontemplasi Masterclass

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif