Emas Yang Tidak Pernah Ada
Tulisan sebelumnya: Bagian 2: Pusaran Gelap
Gordon Square nomor 46 bukan rumah yang megah.
Tiga lantai dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Jendela besar yang membiarkan cahaya masuk—terlalu banyak cahaya untuk standar Victorian yang menyukai gorden tebal dan ruangan remang-remang. Ada retakan di plester dinding ruang tamu. Lantai kayu berderit ketika diinjak.
Tapi bagi Virginia, rumah itu adalah istana.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perlu meminta izin untuk membuka jendela. Tidak perlu berbisik di koridor. Tidak perlu berpura-pura bahwa pikirannya lebih sederhana daripada yang sebenarnya.
Di Bloomsbury—kawasan yang pada tahun 1904 dianggap kurang elit, kurang proper—Virginia dan saudara-saudaranya membangun kehidupan baru. Vanessa mengatur rumah dengan efisiensi yang tenang. Thoby mengundang teman-teman dari Cambridge untuk datang berkunjung. Adrian—yang paling pendiam di antara mereka—duduk di sudut dan membaca, kadang-kadang tersenyum mendengar perdebatan yang terjadi.
Dan Virginia menulis.
Di kamarnya—kamar yang benar-benar miliknya—dengan meja yang menghadap jendela, ia menulis ulasan buku untuk Times Literary Supplement. Menulis esai. Menulis surat. Menulis hal-hal yang belum punya nama, yang belum punya bentuk, tapi yang ia tahu—entah bagaimana—akan menjadi sesuatu yang penting.
Pada Kamis malam, pintu Gordon Square 46 dibuka untuk siapa saja yang ingin datang.
Thursday Evenings, mereka menyebutnya. Bukan pesta formal dengan undangan tercetak dan aturan etiket yang ketat. Hanya berkumpul—duduk di lantai kalau kursi habis, merokok, minum sherry atau teh, dan berbicara tentang hal-hal yang di rumah Leslie Stephen akan dianggap tidak pantas untuk dibicarakan di depan perempuan.
Lytton Strachey datang—tinggi, kurus, dengan janggut merah dan suara yang melengking. Ia berbicara tentang seks dengan kelangsungan yang membuat Virginia pertama kali mendengar terkejut, lalu tertawa. Clive Bell datang—yang akan menikahi Vanessa dan membawa energi yang ribut ke dalam rumah yang tenang. Saxon Sidney-Turner datang—yang hampir tidak pernah bicara tapi ketika bicara, semua orang mendengarkan.
Mereka berbicara tentang Plato dan Moore, tentang etika dan estetika, tentang apakah keindahan itu objektif atau subjektif, tentang apakah cinta dan persahabatan adalah hal yang sama atau berbeda, tentang seks dan kebebasan dan apa artinya menjadi manusia di dunia yang baru saja meninggalkan abad kesembilan belas tapi belum yakin abad kedua puluh akan seperti apa.
Di ruangan itu, dengan asap rokok mengepul dan percakapan yang berlangsung sampai jam tiga pagi, Virginia merasa—untuk pertama kalinya—bahwa pikirannya bukan sesuatu yang menakutkan. Pikirannya adalah musik. Adalah cahaya. Adalah sesuatu yang bisa dibagikan tanpa takut akan dihakimi.
"Kau tahu apa yang paling aku sukai dari tempat ini?" kata Vanessa suatu malam, setelah semua tamu pulang dan mereka berdua duduk di ruang tamu yang berantakan, terlalu lelah untuk membereskan.
"Apa?"
"Tidak ada yang berpura-pura di sini."
Virginia tersenyum. "Tidak ada yang punya energi untuk berpura-pura."
"Tepat sekali."
Tapi seperti semua hal baik dalam hidup Virginia, kebahagiaan di Bloomsbury tidak bertahan tanpa bayangan.
Pada November 1906, Thoby—saudara laki-lakinya yang cerdas, yang murah hati, yang membawa semua teman-temannya ke rumah dan membuat Thursday Evenings mungkin terjadi—jatuh sakit setelah perjalanan ke Yunani.
Typhoid, kata dokter. Demam yang tidak turun. Delirium. Dan pada 20 November, Thoby meninggal. Ia baru berusia dua puluh enam tahun.
Kematian keempat.
Virginia tidak menulis apa-apa selama berbulan-bulan setelah itu. Ia duduk di kamarnya, menatap halaman kosong, dan tidak bisa menemukan kata-kata. Karena bagaimana kau menulis tentang seseorang yang seharusnya hidup lebih lama? Bagaimana kau menulis tentang kehilangan yang tidak masuk akal?
Tapi Bloomsbury tidak menghilang. Teman-teman Thoby tetap datang. Mereka duduk dengan Virginia dan Vanessa dalam keheningan yang tidak canggung. Mereka tidak mencoba membuat semuanya lebih baik dengan kata-kata kosong. Mereka hanya ada di sana.
Dan perlahan—sangat perlahan—Virginia mulai menulis lagi.
Karena itu satu-satunya cara ia tahu untuk membuat orang yang sudah pergi tetap hidup. Untuk mengubah kehilangan menjadi kata-kata. Untuk membuktikan bahwa Thoby pernah ada, pernah tertawa, pernah membuat ruangan terasa lebih hangat hanya dengan kehadirannya.
Leonard Woolf datang ke Thursday Evening pada musim panas 1911.
Ia adalah teman Thoby dari Cambridge—salah satu yang Virginia samar-samar ingat dari kunjungan-kunjungan dulu. Tapi saat itu Leonard baru saja kembali dari Ceylon (sekarang Sri Lanka), di mana ia bekerja sebagai administrator kolonial selama tujuh tahun. Ia lebih kurus dari yang Virginia ingat. Lebih serius. Tangannya gemetar—tremor yang tidak pernah hilang, sisa dari stres dan malaria.
Mereka duduk di taman Gordon Square, di bangku yang sama di mana Virginia sering membaca.
"Jadi," kata Leonard, "Lytton bilang kau sedang menulis novel."
"Mencoba," jawab Virginia. "Lebih banyak gagal daripada berhasil."
"Aku tidak percaya itu."
"Kau belum membacanya."
Leonard tersenyum—senyum kecil, seperti orang yang jarang tersenyum tapi ketika melakukannya, ia benar-benar serius. "Bisakah aku membacanya?"
Virginia menatapnya. Ada sesuatu dalam cara Leonard bertanya—tidak seperti orang yang hanya bersopan santun, tapi seperti orang yang benar-benar ingin tahu. Yang benar-benar peduli.
"Mungkin," katanya. "Suatu hari nanti."
Mereka mulai bertemu lebih sering. Berjalan-jalan di taman. Minum teh di kedai yang tenang. Berbicara tentang buku, politik, India, kolonialisme—yang Leonard semakin percaya adalah kesalahan moral yang besar—dan tentang apa artinya mencoba menulis ketika dunia terasa terlalu besar dan kau terlalu kecil.
Pada Januari 1912, Leonard melamar.
Virginia menolak. Bukan karena ia tidak menyukainya, tapi karena ia tidak yakin ia bisa menjadi istri yang baik. Ia tidak yakin ia bisa memberinya apa yang biasanya diharapkan dari pernikahan—anak-anak, kehidupan rumah tangga yang teratur, kebahagiaan yang sederhana.
"Aku tidak normal, Leonard," katanya. "Aku... aku mengalami hal-hal yang tidak bisa kujelaskan. Kadang-kadang aku mendengar suara. Kadang-kadang aku tidak bisa keluar dari tempat tidur selama berhari-hari. Kadang-kadang aku berpikir akan lebih mudah jika aku tidak ada."
Leonard tidak berkedip. "Aku tahu."
"Kau tahu?"
"Vanessa menceritakan sesuatu. Lytton juga. Dan aku melihatnya sendiri—cara kau kadang pergi ke tempat lain, meskipun tubuhmu masih di sini."
Virginia menatap tangannya. "Dan kau masih ingin menikahiku?"
"Aku tidak menginginkanmu meskipun hal-hal itu," kata Leonard pelan. "Aku menginginkanmu termasuk hal-hal itu. Aku tidak mencari pernikahan yang sempurna. Aku mencari kau."
Mereka menikah pada 10 Agustus 1912, di kantor catatan sipil—tidak ada pesta besar, tidak ada gaun putih, tidak ada drama Victorian. Hanya Virginia dan Leonard, Vanessa dan beberapa teman, dan janji yang lebih jujur daripada kebanyakan janji pernikahan: kami akan mencoba. Kami akan saling menjaga. Dan ketika gelombang datang—karena gelombang akan datang—kami akan menghadapinya bersama.
Pernikahan mereka bukan pernikahan yang romantis dalam pengertian konvensional. Leonard tahu dari awal bahwa Virginia tidak bisa—atau tidak mau—melakukan hubungan seksual. Trauma dari masa kecil, atau mungkin sesuatu yang lebih mendasar dalam dirinya, membuat intimasi fisik terasa seperti pelanggaran, bukan kenikmatan.
Dan Leonard menerima itu. Bukan dengan kepahitan atau rasa frustrasi, tapi dengan pemahaman yang tenang bahwa cinta bisa berbentuk banyak hal. Cinta bisa berbentuk teh yang disajikan jam empat sore—setiap hari, tanpa gagal. Cinta bisa berbentuk Leonard yang duduk di luar ruang kerja Virginia ketika ia menulis, tidak mengatakan apa-apa, hanya ada di sana jika ia membutuhkan. Cinta bisa berbentuk keheningan yang nyaman.
Ritual pagi mereka sederhana: Virginia menulis sampai jam satu siang. Leonard mengurus Hogarth Press—penerbitan kecil yang mereka dirikan bersama. Mereka makan siang bersama—biasanya sup dan roti. Lalu berjalan-jalan di taman atau di sepanjang sungai, tanpa tujuan, hanya mengikuti kaki mereka. Teh jam empat. Makan malam jam tujuh. Dan malam dihabiskan dengan membaca—kadang bersama, kadang sendiri-sendiri, tapi selalu di ruangan yang sama.
Bukan hidup yang dramatis. Bukan cinta yang berapi-api seperti di novel-novel.
Tapi bagi Virginia, Leonard adalah jangkar. Adalah rumah. Adalah satu-satunya orang yang tidak pernah memintanya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Pada 1917—di tengah Perang Dunia Pertama, di tengah ledakan bom dan kematian yang datang dari langit—Leonard membeli hadiah untuk Virginia.
Sebuah mesin cetak tangan.
Kecil. Manual. Sederhana. Tapi bagi Virginia, mesin itu adalah keajaiban.
Mereka meletakkannya di ruang makan rumah mereka di Richmond, dan mulai belajar bagaimana menggunakannya. Bagaimana menyusun huruf-huruf timah satu per satu. Bagaimana mengatur tinta agar tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. Bagaimana menekan kertas dengan tekanan yang pas—tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut.
Pekerjaan yang lambat. Pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan presisi. Pekerjaan yang membuat Virginia harus fokus pada sesuatu yang nyata, yang bisa disentuh, yang ada di luar kepalanya.
"Ini terapi," kata Leonard suatu hari, sambil membersihkan tinta dari tangannya.
"Terapi yang mengotori tangan," jawab Virginia, tapi ia tersenyum.
Mereka menamai penerbitan kecil mereka Hogarth Press—dari nama rumah mereka di Richmond. Buku pertama yang mereka cetak adalah kumpulan dua cerita pendek: Two Stories. Satu oleh Virginia, satu oleh Leonard. Mereka mencetak 150 eksemplar. Menjilid sendiri. Dan menjualnya kepada teman-teman dan toko buku kecil.
Buku itu terjual habis.
Hogarth Press tumbuh perlahan—dari hobi menjadi bisnis serius. Mereka menerbitkan karya-karya yang penerbit besar tidak mau ambil risiko. Karya-karya yang eksperimental, yang aneh, yang terlalu berani atau terlalu jujur untuk selera mainstream.
Mereka menerbitkan T.S. Eliot—puisi panjangnya yang gelap dan indah, The Waste Land, yang berbicara tentang dunia yang hancur setelah perang. Mereka menerbitkan karya Sigmund Freud dalam bahasa Inggris untuk pertama kali—teori-teori tentang pikiran bawah sadar yang akan mengubah cara manusia memahami diri mereka sendiri. Mereka menerbitkan Katherine Mansfield, E.M. Forster, dan tentu saja, novel-novel Virginia sendiri.
Ada sesuatu tentang proses fisik mencetak—tentang menyusun huruf, menuangkan tinta, menekan kertas—yang membuat Virginia merasa grounded. Membuat pikirannya yang mengalir seperti sungai menjadi sesuatu yang bisa dipegang. Sesuatu yang bisa dilihat. Sesuatu yang nyata.
"Ketika aku menulis," kata Virginia kepada Vanessa suatu hari, "kadang aku tidak yakin apakah itu benar-benar ada. Apakah kata-kata itu nyata atau hanya di kepalaku. Tapi ketika aku mencetaknya—ketika aku melihat tinta di kertas—aku tahu. Aku tahu itu ada."
Hogarth Press menjadi lebih dari sekadar penerbit. Ia menjadi bukti bahwa Virginia bisa menciptakan sesuatu yang bertahan. Bahwa ia bukan hanya pikiran yang mengalir dan menghilang. Ia adalah seseorang yang membuat tanda di dunia—tanda yang bisa dibaca oleh orang lain, lama setelah ia pergi.
Saya membuka termos kopi lagi—sudah kosong. Saya tidak ingat kapan menghabiskannya.
Di tepi sungai, sore sudah berubah menjadi hampir malam. Langit berwarna ungu tua di ujung barat, dan lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu—seperti bintang yang turun ke bumi karena bosan berada di atas sana sendirian.
Saya membuka Orlando—buku Woolf yang paling tidak seperti buku-buku Woolf lainnya. Novel tentang seseorang yang hidup selama empat ratus tahun. Yang lahir sebagai laki-laki di era Elizabeth I dan terbangun suatu pagi sebagai perempuan di abad ke-18. Yang tidak pernah benar-benar menua. Yang jatuh cinta dengan seorang bangsawan Rusia, seorang penyair, dan akhirnya dengan hidupnya sendiri.
Novel itu adalah surat cinta.
Bukan metafora. Bukan alegori. Benar-benar surat cinta—untuk Vita Sackville-West.
Virginia bertemu Vita pada 1922, di sebuah pesta makan malam yang biasanya Virginia akan hindari karena terlalu ramai, terlalu berisik, terlalu banyak orang yang mencoba membuat percakapan educative tentang sastra.
Tapi malam itu, Vita ada di sana.
Tinggi. Aristokrat. Dengan mata yang gelap dan senyum yang seperti rahasia. Vita adalah keturunan bangsawan—keluarga Sackville yang memiliki kastil Knole, salah satu rumah terbesar di Inggris. Ia adalah penyair. Tukang kebun. Petualang. Lesbian yang tidak malu mengakuinya—atau setidaknya, tidak malu di depan orang-orang yang tidak akan menghakiminya.
Dan ia tertarik pada Virginia.
Mereka mulai bertukar surat. Bertemu untuk makan siang. Berjalan-jalan di taman Vita di Kent, di mana bunga-bunga tumbuh dengan kemewahan yang nyaris dekaden dan Virginia merasa seperti Alice yang jatuh ke dalam lubang kelinci—masuk ke dunia yang lebih berwarna, lebih bebas, lebih hidup daripada dunia biasanya.
Pada 1925, hubungan mereka berubah dari persahabatan menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang Virginia tidak punya nama untuknya—atau mungkin punya terlalu banyak nama.
Cinta. Obsesi. Gairah. Persahabatan yang melampaui tubuh atau mungkin justru karena tubuh. Virginia tidak yakin. Yang ia tahu adalah: ketika ia bersama Vita, ia merasa lebih hidup. Lebih berani. Lebih seperti dirinya yang sebenarnya—yang kontradiktif, yang rumit, yang kadang-kadang terlalu banyak dan kadang-kadang tidak cukup.
Leonard tahu. Tentu saja ia tahu. Tapi ia tidak cemburu—atau setidaknya, tidak dengan cara yang destruktif. Ia melihat bahwa Vita membuat Virginia bahagia. Dan bagi Leonard, kebahagiaan Virginia lebih penting daripada kepemilikan.
"Kau mencintainya?" tanya Leonard suatu malam, setelah Virginia pulang dari mengunjungi Vita di Kent.
Virginia diam sejenak. "Ya. Tapi tidak dengan cara yang mengambil sesuatu darimu."
"Aku tahu."
"Kau tidak marah?"
Leonard tersenyum—senyum kecil yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. "Aku ingin kau bahagia, Virginia. Apapun bentuk kebahagiaan itu."
Pada 1928, Virginia menerbitkan Orlando. Novel yang fantastis, yang lucu, yang penuh dengan permainan kata dan anakronisme yang disengaja dan kebebasan yang tidak pernah ia izinkan pada dirinya sendiri di novel-novel lain.
Di halaman pertama, ada dedikasi: "To V. Sackville-West."
Vita mengerti. Semua orang yang kenal mereka berdua mengerti. Orlando adalah potret Vita—diubah menjadi mitos, diubah menjadi legenda, diubah menjadi seseorang yang hidup selamanya dalam halaman-halaman yang tidak akan pernah menua.
"Apa kau suka?" tanya Virginia ketika memberikan salinan pertama kepada Vita.
Vita membaca sampai habis dalam satu malam. Keesokan paginya, ia menulis surat kepada Virginia:
"You have invented a new form of Narcissism. I am in love with Orlando—this is a complication I had not foreseen."
Kau telah menemukan bentuk baru dari Narsisme. Aku jatuh cinta pada Orlando—ini adalah komplikasi yang tidak aku perkirakan.
Hubungan mereka berlangsung sekitar sepuluh tahun—passionate di awal, lalu perlahan berubah menjadi persahabatan yang hangat, yang bertahan sampai akhir hidup Virginia. Vita adalah orang yang mengajari Virginia bahwa tubuh bukan hanya tempat trauma. Tubuh juga bisa menjadi tempat kegembiraan. Tempat kebebasan. Tempat untuk mengatakan ya, bukan hanya untuk mengatakan tidak.
Dan Virginia mengajari Vita sesuatu juga: bahwa cinta tidak harus memiliki. Bahwa dua orang bisa saling mencintai tanpa menghancurkan kehidupan yang sudah mereka bangun dengan orang lain. Bahwa kontradiksi—mencintai Leonard dan juga mencintai Vita, ingin keintiman dan juga ingin jarak—bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Hanya dijalani.
Di tepi sungai ini, dengan Orlando di pangkuan dan malam yang mulai turun, saya memikirkan semua bentuk cinta yang ada dalam hidup Virginia Woolf.
Cinta untuk Vanessa—kakak yang tidak pernah meninggalkannya. Cinta untuk Leonard—suami yang menjadi jangkar. Cinta untuk Vita—yang mengajarinya bahwa tubuh bisa menjadi tempat bermain, bukan hanya tempat rasa sakit. Dan cinta untuk kata-kata—untuk proses menulis itu sendiri, yang lebih konstan daripada manusia mana pun.
Virginia menulis untuk Vita, untuk Leonard, untuk dirinya sendiri. Ia menulis untuk membuktikan bahwa ia ada. Bahwa pikirannya yang mengalir seperti sungai bisa diubah menjadi kata-kata. Bisa diubah menjadi sesuatu yang abadi.
Dan ia berhasil. Novel-novelnya masih dibaca. Esainya masih diperdebatkan. Suaranya—yang pernah ia takutkan akan hilang dalam kegelapan—masih terdengar, satu abad kemudian, berbicara kepada orang-orang yang belum lahir ketika ia meninggal.
Sungai terus mengalir. Membawa masa lalu dan masa depan. Membawa kehilangan dan cinta. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah meminta izin.
Dan saya duduk di tepinya, mendengarkan air, membaca kata-kata yang ditulis oleh seseorang yang sudah lama pergi tapi entah bagaimana masih di sini—di halaman-halaman ini, di pemikiran saya, di cara saya melihat sungai ini dan memikirkan tentang mengalir.
Bersambung ke Bagian 4: Karya dan Kegelapan...
Index Lengkap:
Komentar
Komentar
Posting Komentar