Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...

Woolf di Sungai - Bagian 3: Bloomsbury dan Cinta

Gambar
Woolf di Sungai - Bagian 3: Bloomsbury dan Cinta Woolf di Sungai Sebuah Personal Naratif Bagian 3: Bloomsbury dan Cinta Tulisan sebelumnya: Bagian 2: Pusaran Gelap IX. Gordon Square nomor 46 bukan rumah yang megah. Tiga lantai dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Jendela besar yang membiarkan cahaya masuk—terlalu banyak cahaya untuk standar Victorian yang menyukai gorden tebal dan ruangan remang-remang. Ada retakan di plester dinding ruang tamu. Lantai kayu berderit ketika diinjak. Tapi bagi Virginia, rumah itu adalah istana. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perlu meminta izin untuk membuka jendela. Tidak perlu berbisik di koridor. Tidak perlu berpura-pura bahwa pikirannya lebih sederhana daripada yang sebenarnya. Di Bloomsbury—kawasan yang pada tahun 1904 dianggap kurang elit, kurang proper —Virginia dan saudara-saudaranya membangun kehidupan baru. Vanessa mengatur rumah dengan efisiensi yang tenang. Tho...

Woolf di Sungai Bagian 2: Pusaran Gelap

Gambar
Woolf di Sungai - Bagian 2: Pusaran Gelap Woolf di Sungai Sebuah Personal Naratif Bagian 2: Pusaran Gelap Tulisan sebelumnya: Bagian 1: Arus Pertama V. Ada jenis kegelapan yang tidak bisa ditulis dengan mudah. Bukan karena terlalu dramatis, tapi justru karena terlalu sunyi. Terlalu pribadi. Terlalu dekat dengan tulang. Setelah kematian Julia, rumah di Hyde Park Gate menjadi tempat yang berbeda. Lebih gelap. Lebih sepi. Leslie Stephen tenggelam dalam kesedihan yang teatrikal—menangis keras di ruang tamu, menuntut perhatian dari anak-anaknya, mengubah duka menjadi pertunjukan yang harus ditonton semua orang. Tapi ada duka lain yang terjadi di malam hari. Di koridor yang gelap. Di kamar-kamar yang pintunya tidak terkunci. George Duckworth—saudara tiri Virginia dari pernikahan pertama ibunya—berusia dua puluh tujuh tahun ketika Julia meninggal. Tampan, sopan, sangat peduli dengan "kesejahteraan" adik-adik tirinya. Terlalu peduli. Gerald, sau...

Woolf di Sungai - Bagian 1: Arus Pertama

Gambar
Woolf di Sungai - Bagian 1: Arus Pertama Woolf di Sungai Sebuah Personal Naratif Bagian 1: Arus Pertama I. Saya sudah berdiri di tepi sungai ini selama dua puluh menit, dan air terus mengalir tanpa peduli. Tidak seperti ruang tunggu dengan nomor antrean yang merayap, sungai tidak mengenal urutan. Tidak ada yang harus ditunggu. Air hanya mengalir—dari hulu ke hilir, dari kemarin ke besok, membawa daun-daun kering dan sampah plastik dengan kesetaraan yang sempurna. Di tangan kiri saya ada buku dengan sampul biru pucat: Mrs Dalloway karya Virginia Woolf, edisi terjemahan yang sudah lusuh di sudut-sudutnya. Di tangan kanan, sebungkus kopi dari warung dekat stasiun—sudah agak dingin, tapi saya tetap meminumnya sedikit demi sedikit. Rasanya seperti tanah basah dan kelelahan. Ini bukan sungai yang besar. Ciliwung di bagian yang sudah lelah, di mana airnya berwarna cokelat keruh dan berbau seperti kota yang tidak pernah tidur. Di seberang, ada tembok beton pen...

Camus di Tepi Laut Sebuah Personal Naratif bagian 2

Gambar
Camus di Tepi Laut Sebuah Personal Naratif Bagian 2: Matahari yang Menyembuhkan bagian 1 XII. Saya membayar kopi dan berjalan keluar. Matahari sudah mulai condong ke barat, tapi panasnya belum mereda. Jalanan dipenuhi orang-orang yang bergerak dengan tujuan masing-masing—ibu-ibu yang membawa belanjaan, pekerja yang mengecek ponsel sambil berjalan, anak-anak sekolah yang tertawa tanpa alasan yang jelas. Tidak ada yang tahu bahwa di kepala saya sedang berlangsung percakapan antara dua orang mati yang tidak pernah bertemu: Kafka dan Camus. Tapi ada satu percakapan lain yang lebih menarik—percakapan antara dua orang yang pernah sangat dekat, yang pernah duduk bersama di kafe-kafe Paris sampai larut malam, yang pernah percaya bahwa mereka sedang mengubah dunia dengan kata-kata. Lalu, dengan kata-kata juga, mereka menghancurkan satu sama lain. Albert Camus dan Jean-Paul Sartre. XIII. Mereka bertemu pada 1943, di tengah pendudukan Nazi atas Paris. Camus baru saja tiba...

Camus di Tepi Laut Sebuah Personal Naratif bagian 1

Gambar
Camus di Tepi Laut Sebuah Personal Naratif Bagian 1: Matahari yang Membunuh I. Saya keluar dari gedung itu dengan formulir B-17 di tangan, dan matahari menyambut saya seperti tamparan. Silau. Panas. Tak terduga meskipun sudah bisa diduga. Saya menyipitkan mata dan berdiri sejenak di trotoar, membiarkan retina menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa di luar sana ada dunia yang tidak peduli dengan nomor antrean dan prosedur yang tak kunjung selesai. Di saku saya, buku Kafka masih ada— The Trial dengan sampulnya yang lusuh. Tapi tiba-tiba saya teringat buku lain, dengan kalimat pembuka yang sangat berbeda: "Hari ini, ibu meninggal. Atau mungkin kemarin, saya tidak tahu." Albert Camus. L'Étranger . Orang Asing . Kafka menulis tentang rasa bersalah tanpa sebab—tentang pengadilan yang tak terlihat, tentang hukuman yang datang sebelum kesalahan. Camus menulis tentang sesuatu yang lain: tentang ketidakpedulian yang jujur, dan dunia yang menghukum kita justr...

Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif bagian 2

Gambar
Kafka di Ruang Tunggu Sebuah Personal Naratif Bagian 2: Metamorfosis di Pagi Hari Kerja Tulisan sebelumnya bagian 1 X. Nomor antrean saya akhirnya dipanggil. Saya berjalan ke loket dengan campuran lega dan was-was yang aneh—perasaan yang sama seperti ketika kau dipanggil ke ruang kepala sekolah tanpa tahu apa yang telah kau lakukan. Petugas di balik kaca tersenyum, meminta berkas-berkas saya, lalu mengetik sesuatu di komputernya dengan kecepatan yang tidak bisa saya ikuti. "Ada yang kurang, Pak," katanya setelah beberapa menit. "Kurang apa?" "Formulir B-17. Harus dilampirkan." "Tapi di persyaratan tidak disebutkan formulir itu." "Memang tidak, Pak. Tapi ini prosedur baru. Baru berlaku minggu ini." Saya menatapnya. Ia menatap saya balik dengan kesabaran profesional yang tak tergoyahkan—kesabaran yang sudah dilatih untuk menghadapi ribuan orang seperti saya, yang datang dengan harapan dan pergi dengan kertas tamba...