Emas Yang Tidak Pernah Ada
Bagian 2: Matahari yang Menyembuhkan
Saya membayar kopi dan berjalan keluar.
Matahari sudah mulai condong ke barat, tapi panasnya belum mereda. Jalanan dipenuhi orang-orang yang bergerak dengan tujuan masing-masing—ibu-ibu yang membawa belanjaan, pekerja yang mengecek ponsel sambil berjalan, anak-anak sekolah yang tertawa tanpa alasan yang jelas. Tidak ada yang tahu bahwa di kepala saya sedang berlangsung percakapan antara dua orang mati yang tidak pernah bertemu: Kafka dan Camus.
Tapi ada satu percakapan lain yang lebih menarik—percakapan antara dua orang yang pernah sangat dekat, yang pernah duduk bersama di kafe-kafe Paris sampai larut malam, yang pernah percaya bahwa mereka sedang mengubah dunia dengan kata-kata. Lalu, dengan kata-kata juga, mereka menghancurkan satu sama lain.
Albert Camus dan Jean-Paul Sartre.
Mereka bertemu pada 1943, di tengah pendudukan Nazi atas Paris.
Camus baru saja tiba dari Aljazair, membawa naskah L'Étranger yang akan mengubah sastra Prancis. Sartre sudah menjadi nama besar—filsuf, novelis, penulis drama. Pertemuan pertama mereka terjadi di pemutaran perdana drama Sartre, Les Mouches, di sebuah teater yang penuh dengan penonton yang berpura-pura tidak tahu bahwa di luar sana, kota mereka sedang diduduki.
Mereka langsung cocok.
Ada sesuatu yang menarik dari persahabatan ini: dua pria yang begitu berbeda, yang berasal dari dunia yang hampir berlawanan. Sartre adalah produk borjuasi Paris—terdidik di sekolah-sekolah elit, dibesarkan dalam kemakmuran, jelek secara fisik tapi mempesona secara intelektual. Camus adalah anak jalanan dari Aljazair—miskin, tampan seperti bintang film, dengan tubuh yang dibentuk oleh matahari dan laut, bukan oleh buku-buku filsafat.
Sartre pernah berkata tentang Camus: "Betapa kami mencintainya saat itu."
Malam-malam mereka habiskan di kafe-kafe Saint-Germain-des-Prés, berdebat tentang kebebasan dan tanggung jawab, tentang apa artinya menjadi manusia di dunia yang telah kehilangan Tuhan. Mereka bersama-sama menjadi wajah dari apa yang kemudian disebut "eksistensialisme"—meskipun Camus selalu menolak label itu.
"Saya bukan eksistensialis," katanya berulang kali. "Satu-satunya buku ide yang pernah saya tulis, The Myth of Sisyphus, justru melawan filsuf-filsuf yang disebut eksistensialis."
Tapi dunia tidak peduli dengan penolakan itu. Di mata publik, Sartre dan Camus adalah pasangan—dua intelektual yang mendefinisikan zaman mereka, dua suara yang berbicara untuk generasi yang baru saja selamat dari perang dan sedang mencari makna di antara puing-puing.
Persahabatan itu bertahan hampir satu dekade.
Lalu, pada 1951, Camus menerbitkan L'Homme Révolté—The Rebel.
The Rebel adalah buku yang rumit—campuran filsafat, sejarah, dan polemik. Di dalamnya, Camus menelusuri sejarah pemberontakan dari Prometheus hingga revolusi-revolusi modern, dan sampai pada kesimpulan yang akan membuatnya bermusuhan dengan hampir seluruh kaum kiri Prancis.
Camus menolak kekerasan revolusioner.
Ia berargumen bahwa revolusi-revolusi besar—Prancis, Rusia—selalu berakhir dengan teror. Bahwa para revolusioner, dalam upaya mereka menciptakan masyarakat sempurna, selalu mengorbankan manusia-manusia nyata atas nama abstraksi. Bahwa Stalin adalah kelanjutan logis dari Lenin, dan Lenin adalah kelanjutan logis dari Robespierre.
"Kebebasan absolut adalah hak yang paling kuat untuk mendominasi," tulis Camus. "Keadilan absolut dicapai dengan penghapusan semua kontradiksi: oleh karena itu, ia menghancurkan kebebasan."
Ini adalah serangan langsung terhadap komunisme—dan terhadap Sartre, yang saat itu sedang dalam fase paling pro-Soviet dalam hidupnya.
Sartre tidak merespons langsung. Ia menyerahkan tugas itu kepada Francis Jeanson, salah satu editor juniornya di majalah Les Temps Modernes. Ulasan Jeanson sangat keras—ia menyebut The Rebel sebagai buku yang naif, yang menolak melihat kenyataan perjuangan kelas, yang memilih moralitas abstrak di atas kebutuhan nyata kaum tertindas.
Camus marah. Bukan hanya karena ulasannya, tapi karena Sartre tidak menulisnya sendiri—seolah-olah Camus tidak layak mendapat perhatian langsung dari sang filsuf besar.
Ia menulis surat balasan dua puluh halaman, ditujukan kepada "Monsieur le Directeur"—Tuan Direktur—bukan kepada "Jean-Paul" atau bahkan "Sartre." Dalam surat itu, ia menulis:
"Saya mulai lelah melihat diri saya, dan terutama melihat kritikus-kritikus tua yang tidak pernah melawan apa pun, menerima pelajaran tentang efektivitas dari para pejuang."
Sartre membalas dengan surat yang lebih panjang dan lebih kejam. Ia menyerang Camus secara personal—mempertanyakan kompetensi filosofisnya, menyebutnya telah menjadi "korban dari kesuraman sombong yang menutupi kesulitan-kesulitan batinmu."
"Anda mungkin pernah miskin," tulis Sartre dengan nada yang hampir menghina, "tapi Anda tidak lagi miskin sekarang."
Kedua surat itu diterbitkan di Les Temps Modernes edisi Agustus 1952. Majalah itu terjual habis tiga kali cetak ulang. Seluruh Paris membicarakan pertengkaran ini—bukan sebagai debat intelektual, tapi sebagai drama.
Sartre dan Camus tidak pernah berbicara lagi.
Apa yang sebenarnya memisahkan mereka?
Di permukaan, ini adalah pertengkaran tentang komunisme—tentang apakah kekerasan revolusioner bisa dibenarkan atas nama keadilan yang lebih besar. Sartre percaya ya; Camus percaya tidak.
Tapi di bawah permukaan, ada sesuatu yang lebih dalam.
Sartre percaya bahwa sejarah memiliki arah—bahwa ada kemajuan, bahwa revolusi akan membawa manusia ke tempat yang lebih baik, bahwa pengorbanan hari ini akan menghasilkan surga besok. Camus tidak percaya pada surga mana pun—tidak di langit, tidak di bumi. Ia percaya bahwa manusia harus memberontak, tapi pemberontakan itu harus memiliki batas. Begitu kau mulai membunuh atas nama ide, kau telah mengkhianati pemberontakan itu sendiri.
"Saya memberontak, maka kami ada," tulis Camus dalam The Rebel—sebuah revisi atas cogito Descartes yang menekankan solidaritas, bukan kesendirian.
Sartre melihat Camus sebagai moralis yang naif, yang menolak mengotori tangannya dengan kenyataan politik. Camus melihat Sartre sebagai intelektual salon yang bermain-main dengan revolusi dari kenyamanan apartemennya di Paris, tanpa pernah benar-benar menghadapi konsekuensi dari ide-idenya.
Keduanya mungkin benar. Keduanya mungkin salah.
Yang pasti adalah ini: perpecahan itu menyakiti Camus jauh lebih dalam daripada yang pernah ia akui secara publik. Dalam surat kepada Maria Casarès, kekasihnya, ia menulis bahwa ia merasa berada dalam "depresi yang aneh" dan tidak lagi memiliki "keinginan untuk hidup."
Sartre telah memenangkan pertempuran—setidaknya dalam jangka pendek. Sebagian besar intelektual Prancis berpihak kepadanya. Camus dicap sebagai reaksioner, sebagai pengkhianat kaum kiri, sebagai pria yang telah kehilangan relevansinya.
Tapi sejarah, seperti yang sering terjadi, memiliki cara sendiri untuk membalikkan vonis.
Ada satu aspek dari kehidupan Camus yang tidak bisa saya abaikan, meskipun membicarakannya membuatku tidak nyaman.
Camus adalah seorang suami yang tidak setia.
Ia menikah dua kali. Pernikahan pertamanya dengan Simone Hié berakhir setelah ia menemukan bahwa Simone kecanduan morfin dan telah tidur dengan dokter yang memasoknya. Pernikahan kedua dengan Francine Faure—seorang pianis dan matematikawan yang cantik—bertahan lebih lama, menghasilkan dua anak kembar: Catherine dan Jean.
Tapi sepanjang pernikahan itu, Camus memiliki banyak kekasih.
Yang paling signifikan adalah Maria Casarès—aktris Spanyol-Prancis yang ia temui pada 6 Juni 1944, hari yang sama ketika pasukan Sekutu mendarat di Normandia. Mereka berciuman untuk pertama kalinya setelah latihan drama Camus, Le Malentendu. Malam itu, Camus membawa Maria dengan sepeda melintasi jalan-jalan Paris yang gelap, dengan Maria duduk di setang.
Hubungan mereka terputus ketika istri Camus tiba di Paris beberapa bulan kemudian. Tapi empat tahun kemudian, pada 6 Juni 1948—tepat empat tahun setelah pertemuan pertama mereka—Camus dan Maria bertemu secara kebetulan di Boulevard Saint-Germain.
Mereka memutuskan untuk tidak melawan takdir.
Selama dua belas tahun berikutnya, mereka bertukar lebih dari 865 surat—surat-surat yang penuh dengan kerinduan, gairah, dan kelembutan. Surat-surat yang diterbitkan pada 2017 oleh putri Camus, Catherine, dalam sebuah buku setebal 1.300 halaman yang menjadi sensasi sastra di Prancis.
"Tulis hal-hal manis dan penuh gairah kepadaku," tulis Maria dalam salah satu suratnya. "Katakan bahwa kau mencintaiku dan bagaimana kau mencintaiku. Katakan bahwa suatu hari kau akan membawaku ke laut—laut mana pun—dan kita akan menghabiskan waktu di pantai dan di dalam air."
Dan Camus menulis balik: "Ah! Betapa sulit meninggalkanmu, wajahmu yang manis akan kembali memudar ke dalam malam, tapi aku akan menemukanmu lagi di lautan yang kau cintai, di waktu senja ketika langit mengambil warna matamu."
Sementara itu, Francine—istrinya—tahu segalanya. Dan pengetahuan itu, dikombinasikan dengan ketidakpedulian Camus, perlahan-lahan menghancurkannya. Pada 1953, Francine mengalami kehancuran mental yang serius—termasuk percobaan bunuh diri ketika ia melompat ke arah jendela teras.
Camus yang menulis tentang kejujuran dan autentisitas hidup dalam kebohongan domestik yang memalukan.
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi. Saya menulis ini karena Camus sendiri tidak pernah mengklaim sebagai santo. Ia adalah manusia—dengan semua kontradiksi, kelemahan, dan kegagalan yang menyertai kondisi itu.
"Saya bukan filsuf," tulisnya suatu kali. "Saya tidak cukup percaya pada akal untuk percaya pada sistem. Yang menarik minat saya adalah mengetahui bagaimana kita harus bertindak."
Dan dalam tindakan-tindakannya—termasuk tindakan yang menyakiti orang-orang yang ia cintai—Camus sama manusiawinya dengan kita semua.
Pada Oktober 1957, Camus menerima telepon yang mengubah hidupnya.
Ia telah memenangkan Hadiah Nobel untuk Sastra.
Ia berusia 44 tahun—penerima termuda kedua dalam sejarah penghargaan itu. Komite Nobel memuji "produksi sastranya yang penting, yang dengan keseriusan yang jernih menerangi masalah-masalah kesadaran manusia di zaman kita."
Reaksi pertama Camus adalah rasa tidak layak. Ia merasa André Malraux lebih pantas menerimanya. Ia merasa terlalu muda, terlalu tidak selesai.
Tapi ada beban lain yang lebih berat: Aljazair.
Pada saat itu, Perang Kemerdekaan Aljazair sedang berkecamuk. FLN—Front Pembebasan Nasional—melancarkan serangan-serangan terhadap warga sipil Prancis. Tentara Prancis membalas dengan penyiksaan dan pembunuhan massal. Kedua belah pihak melakukan kekejaman yang tidak bisa dibenarkan.
Dan Camus—yang lahir di Aljazair, yang mencintai tanah itu, yang ibunya masih tinggal di sana—terjebak di tengah-tengah.
Ia tidak bisa mendukung FLN, karena mereka menggunakan terorisme. Ia tidak bisa mendukung tentara Prancis, karena mereka menggunakan penyiksaan. Ia tidak bisa mendukung kemerdekaan Aljazair, karena itu berarti pengusiran orang-orang seperti ibunya—pied-noirs yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi.
Pada 1956, Camus memilih untuk diam. Ia berhenti menulis tentang Aljazair di kolom-kolom opininya. Ia menolak untuk mengambil posisi publik.
Tapi di Stockholm, setelah upacara penerimaan Nobel, seorang mahasiswa Aljazair menantangnya di konferensi pers. Mengapa, tanya mahasiswa itu, Camus mendukung pemberontak di Hongaria tapi tidak di Aljazair?
Camus menjawab dengan kalimat yang akan menghantuinya selamanya:
"Saya percaya pada keadilan, tapi saya akan membela ibu saya sebelum keadilan."
Kalimat itu dilaporkan oleh Le Monde dan menyebar ke seluruh dunia. Bagi sebagian orang, itu adalah bukti bahwa Camus telah menjadi reaksioner, pembela kolonialisme, pengkhianat. Bagi yang lain, itu adalah ekspresi jujur dari dilema yang tidak bisa diselesaikan.
Yang sering dilupakan adalah konteks lengkap dari kalimat itu. Camus juga berkata: "Orang-orang sekarang menanam bom di trem-trem Aljir. Ibu saya mungkin berada di salah satu trem itu."
Ini bukan pembelaan abstrak terhadap kolonialisme. Ini adalah ketakutan konkret seorang anak akan keselamatan ibunya.
Tapi nuansa itu hilang dalam kegaduhan. Yang tersisa hanyalah kalimat yang dipotong, yang diulang-ulang, yang digunakan untuk membuktikan apa pun yang ingin dibuktikan oleh orang yang mengutipnya.
Camus menulis dalam buku hariannya: "Aljazair menghantuiku. Terlambat, terlambat... Tanahku yang hilang, aku tidak akan bernilai apa-apa."
Dengan uang Nobel, Camus membeli sebuah rumah di Lourmarin, sebuah desa kecil di Provence yang mengingatkannya pada Aljazair. Di sana, jauh dari Paris dan polemik-polemiknya, ia mulai menulis lagi.
Proyeknya adalah sebuah novel autobiografis: Le Premier Homme—Manusia Pertama. Sebuah buku tentang masa kecilnya di Aljazair, tentang ayah yang tidak pernah ia kenal, tentang ibu yang tidak bisa membaca. Sebuah buku yang ia dedikasikan untuk ibunya dengan kalimat: "Untukmu yang tidak akan pernah bisa membaca buku ini."
Ia bekerja dengan intensitas baru. Dalam surat kepada Maria Casarès, ia menulis tentang "kegelisahan" dan "kesendirian" yang ditimbulkan oleh proyek ini—tapi juga tentang semacam kebahagiaan.
Natal 1959 dihabiskan di Lourmarin bersama keluarga dan teman-teman. Istri dan anak-anaknya ada di sana. Michel Gallimard, keponakan penerbitnya, juga ada dengan istri dan putrinya.
Rencana awalnya adalah kembali ke Paris dengan kereta. Francine dan anak-anak akan naik kereta lebih dulu. Camus sudah membeli tiket.
Tapi Michel Gallimard menawarkan tumpangan. Ia akan mengemudi dengan Facel Vega HK500-nya—mobil sport mewah yang diiklankan sebagai "untuk sedikit orang yang memiliki yang terbaik."
Camus menerima tawaran itu.
4 Januari 1960.
Setelah makan siang di Hotel de Paris di Sens, mereka melanjutkan perjalanan di Route Nationale 5. Cuaca cerah. Jalan lurus dan lebar. Jalur itu dipagari oleh deretan pohon platana yang tinggi.
Pada pukul 13:55, di sebuah kota kecil bernama Villeblevin, sekitar 100 kilometer dari Paris, sesuatu terjadi.
Tidak ada yang tahu persis apa. Ban pecah? Kecepatan berlebihan? Michel Gallimard kehilangan kendali? Polisi yang menyelidiki tidak menemukan bukti bahwa mobil itu melaju terlalu cepat, dan jalan tidak licin.
Facel Vega menabrak satu pohon, lalu terpental ke pohon lain. Mobil itu, menurut saksi mata, "terlipat seperti akordeon."
Camus meninggal seketika.
Michel Gallimard meninggal enam hari kemudian di rumah sakit. Istri dan putrinya selamat dengan luka-luka ringan.
Di saku jas Camus, polisi menemukan tiket kereta pulang-pergi yang tidak terpakai—separuh pergi sudah digunakan, separuh pulang masih utuh. Ia seharusnya tidak berada di mobil itu.
Di tasnya, mereka menemukan naskah Le Premier Homme yang belum selesai—144 halaman tentang masa kecilnya, tentang ibunya, tentang Aljazair yang ia cintai dan ia kehilangan.
Camus pernah menulis bahwa kematian paling absurd yang bisa ia bayangkan adalah kematian dalam kecelakaan mobil.
Absurditas, seperti biasa, memiliki selera humor yang kejam.
Jenazah Camus dibawa ke Lourmarin dan dimakamkan di pemakaman desa itu dua hari kemudian.
Batu nisannya sangat sederhana. Hanya namanya: CAMUS. Dan tanggal: 1913–1960.
Tidak ada kutipan. Tidak ada epitaf. Tidak ada penjelasan.
Sartre, yang tidak pernah berbicara dengan Camus sejak pertengkaran mereka delapan tahun sebelumnya, menulis obituari yang aneh dan menyentuh untuk France-Observateur:
"Ia mewakili di abad ini, dan melawan Sejarah, pewaris sah dari garis panjang moralis yang karyanya mungkin merupakan bagian paling orisinal dari sastra Prancis. Humanismenya yang keras dan sempit, tegas dan murni, austere dan sensual, melancarkan pertempuran meragukan melawan peristiwa-peristiwa masif dan cacat dari zaman ini. Tapi sebaliknya, melalui kekeraskepalaan penolakannya, ia menegaskan kembali, di jantung era kita, melawan kaum Machiavelli dan melawan anak-anak sapi emas dari realisme, keberadaan fakta moral."
Apakah itu pujian atau kritik? Dengan Sartre, seperti dengan Kafka, perbedaan itu tidak pernah jelas.
Maria Casarès mendengar kabar kematian Camus dari radio. Ia hancur. Surat terakhir Camus kepadanya, ditulis lima hari sebelum kecelakaan, berbunyi:
"Sampai jumpa, yang luar biasa. Aku sangat bahagia memikirkan akan bertemu denganmu lagi sehingga aku tertawa saat menulis ini."
Maria tidak pernah menikah—setidaknya tidak sampai bertahun-tahun kemudian, ketika ia akhirnya menikahi seorang teman yang menemaninya melewati duka. Ia meninggal pada 1996, di usia 74 tahun. Di batu nisannya di pemakaman East Ham, London, tertulis: "Siapa yang mengenal Dora, mengenal apa artinya cinta."
Saya berdiri di trotoar, menatap matahari yang mulai turun.
Sudah hampir satu hari penuh sejak saya pertama kali duduk di kursi plastik itu, menunggu nomor antrean dipanggil. Formulir B-17 masih di tangan saya—belum diisi, belum diserahkan. Besok saya harus kembali lagi. Atau lusa. Atau minggu depan.
Tapi untuk saat ini, saya berjalan.
Kafka mengajarkan bahwa dunia ini adalah pengadilan tanpa dakwaan—bahwa kita semua sudah bersalah sebelum kita sempat melakukan apa pun, bahwa prosedur-prosedur yang tak berujung adalah kondisi permanen dari keberadaan kita.
Camus tidak membantah diagnosis itu. Ia hanya bertanya: lalu bagaimana?
Bagaimana kita harus hidup di dunia yang absurd?
Jawabannya, menurut Camus, bukan dengan bunuh diri—baik literal maupun filosofis. Bukan dengan menyerah pada ketiadaan makna. Bukan dengan berpura-pura bahwa ada hakim yang adil di langit yang akan memberikan keadilan pada akhirnya.
Jawabannya adalah memberontak.
Bukan memberontak dengan kekerasan, bukan memberontak dengan revolusi yang akan menciptakan teror baru. Tapi memberontak dengan cara terus hidup, terus menciptakan, terus mencintai—meskipun kita tahu bahwa semua itu tidak akan mengubah fakta dasar bahwa dunia ini tidak masuk akal.
Sisyphus mendorong batunya ke puncak gunung. Batu itu menggelinding turun. Sisyphus berjalan turun untuk mendorongnya lagi.
Dan dalam perjalanan turun itu—dalam momen ketika ia tahu persis apa yang menantinya dan tetap memilih untuk melangkah—Camus meminta kita membayangkannya bahagia.
Matahari sudah rendah sekarang, menyentuh atap-atap gedung di kejauhan.
Saya teringat kalimat terakhir dari salah satu esai Camus yang paling terkenal—Return to Tipasa, tentang kunjungannya kembali ke reruntuhan Romawi di Aljazair yang ia cintai sejak kecil:
"Di tengah musim dingin, akhirnya saya menemukan bahwa di dalam diri saya ada musim panas yang tak terkalahkan."
Musim panas yang tak terkalahkan.
Itulah yang Camus tawarkan. Bukan jawaban. Bukan solusi. Bukan jalan keluar dari absurditas. Tapi sesuatu yang lebih sederhana dan mungkin lebih berharga: keyakinan bahwa di dalam diri kita—di bawah semua keraguan dan kelelahan dan rasa bersalah—ada sesuatu yang tidak bisa dikalahkan oleh dunia.
Kafka tidak menemukan musim panas itu. Ia meninggal di musim dingin yang panjang, meminta agar semua karyanya dibakar, tidak pernah percaya bahwa apa pun yang ia tulis layak untuk dibaca.
Camus menemukan sesuatu yang berbeda. Bukan kebahagiaan yang naif, bukan optimisme yang buta. Tapi semacam penerimaan yang keras dan lembut pada saat bersamaan—penerimaan bahwa dunia ini tidak akan berubah untuknya, tapi ia tetap bisa memilih bagaimana ia berdiri di hadapannya.
Saya berjalan terus. Tidak ada tujuan yang pasti. Hanya langkah demi langkah, di bawah matahari yang mulai memerah.
Besok saya akan kembali ke ruang tunggu itu. Mengambil nomor antrean baru. Menunggu lagi. Mungkin ada formulir lain yang kurang. Mungkin ada prosedur baru yang tidak tercantum di persyaratan.
Tapi untuk saat ini, saya di sini.
Matahari masih bersinar.
Dan itu, mungkin, sudah cukup.
Tamat
Komentar
Posting Komentar