Postingan

Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...

Hemingway di Bar Bagian 4: Cuba Libre (Dan Tidak)

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 4: Cuba Libre (Dan Tidak) Minuman: Mojito kemudian Daiquiri (manis lalu asam) Malam keempat, dan aku merasakan sesuatu yang berbeda bahkan sebelum membuka pintu. Aroma mint segar bercampur rum, manis tapi ada kepahitan di bawahnya. Ketika aku masuk, bar terasa lebih terang—atau mungkin mataku sudah terbiasa dengan kegelapan. Lampu tungsten tampak seperti matahari tropis yang diredam, hangat tapi tidak cukup untuk mengeringkan keringat. Bartender berdiri dengan dua gelas di depannya. Gelas tinggi berisi sesuatu yang hijau dan segar—daun mint mengambang seperti pulau kecil di lautan jernih. Di sebelahnya, gelas berbentuk cangkir lebar berisi cairan putih beku, seperti salju yang mencair terlalu lambat. "Mojito dulu," katanya sebelum aku duduk. "Lalu daiquiri. Tujuh belas gelas, kalau kau mau mencoba rekornya." Aku duduk. Mengambil mojito. Saat bibir menyentuh rim gelas, mint meledak di lidah...

Hemingway di Bar Bagian 3: The Matador's Blood

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 3: The Matador's Blood Minuman: Red Wine dari Spanyol (merah gelap, berani) Malam ketiga, dan aku sudah tahu jalan ke bar itu tanpa berpikir. Seolah kakiku mengingat rute yang tidak pernah kuhafalkan. Pintu kayu berat itu terbuka sebelum aku menyentuhnya—atau mungkin aku yang membukanya tanpa sadar. Di dalam, aroma berbeda: kulit, debu, sesuatu yang kering dan hangat seperti pasir arena. Bartender berdiri di tempat biasa, tapi kali ini dia memakai sesuatu di kepala—bukan topi biasa, tapi montera , topi matador hitam dengan pompom. Ketika dia berbalik, wajahnya tampak lebih muda, lebih keras, dengan bekas luka tipis di pipi kiri. "Wine malam ini," katanya bukan bertanya. "Dari Spanyol." Sebotol wine tua diletakkan di meja bar. Tidak ada label, hanya lilin merah di mulut botol yang sudah retak. Dia menuangnya ke gelas besar—cairan mengalir pekat, merah gelap seperti darah yang baru kelua...

Hemingway di Bar Bagian 2: Paris Burns

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 2: Paris Burns Minuman: Absinthe (hijau, pahit, halusinogenik) Malam kedua. Bar yang sama. Tapi pintu masuknya terasa berbeda—seolah aku tidak menemukan tempat ini, tapi tempat ini yang menemukan aku. Lampu tungsten masih redup, tapi kali ini ada aroma lain di udara. Adas manis. Apsintus. Sesuatu yang manis dan pahit sekaligus. Bartender berdiri di tempat yang sama, tapi posturnya berubah. Lebih pendek, lebih tegap. Ketika dia berbalik, untuk sesaat wajahnya bukan wajah yang kuingat—ada sesuatu yang feminin di sana, mata yang tajam dan bibir yang tegas, seperti Gertrude Stein dalam foto-foto lama. "Absinthe?" tanyanya, sebelum aku sempat membuka mulut. Aku mengangguk. Dia tersenyum—tipis, tahu. Ritual dimulai. Gelas tinggi. Cairan hijau emerald dituang—pekat, seperti racun yang cantik. Lalu sendok berlubang diletakkan di atas gelas, kubus gula di atasnya, air dingin diteteskan perlahan. Aku me...

Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama

Gambar
Hemingway di Bar Bagian 1: Peluru Pertama Minuman: Old Fashioned (bourbon, bitter, gula) Bar itu berdiri di sudut jalan yang hampir terlupakan, dengan papan nama kayu yang pudar dan jendela berembun. Aku mendorong pintu berat itu—kayunya berbau hujan dan tembakau lama—dan masuk ke dalam ruangan yang terasa seperti berhenti di tahun yang tidak bisa kusebutkan. Lampu tungsten redup menggantung rendah di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya keemasan yang membuat segala sesuatu di luar radius itu tenggelam dalam bayangan. Bartender berdiri di balik counter, punggungnya menghadapku. Kumis abu-abunya tampak di refleksi cermin bar yang berbintik—tapi saat ia berbalik, matanya muda. Terlalu muda untuk wajah yang sudah keriput itu. Matanya biru terang, tajam, seperti seseorang yang pernah melihat terlalu banyak tapi masih ingin melihat lebih banyak lagi. "Mau pesan apa?" suaranya serak tapi hangat. "Old Fashioned,"...

Woolf di Sungai - Bagian 5: River Ouse

Gambar
Woolf di Sungai - Bagian 5: River Ouse Woolf di Sungai Sebuah Personal Naratif Bagian 5: River Ouse Tulisan sebelumnya: Bagian 4: Karya dan Kegelapan XVIII. Ada dua surat. Yang pertama untuk Leonard. Yang kedua untuk Vanessa. Virginia menulis dengan tangan yang gemetar—bukan karena takut, tapi karena kelelahan. Kelelahan dari bertarung terlalu lama. Kelelahan dari mencoba bertahan ketika gelombang terus datang dan tidak ada lagi kekuatan untuk berenang. Surat untuk Leonard: "Dearest, I feel certain that I am going mad again. I feel we can't go through another of those terrible times. And I shan't recover this time. I begin to hear voices, and I can't concentrate. So I am doing what seems the best thing to do. You have given me the greatest possible happiness. You have been in every way all that anyone could be. I don't think two people could have been happier till this terrible disease came. I can't fight any long...