Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot
Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot Minuman: Whiskey murni, neat, tanpa es Malam kelima. Atau mungkin masih malam keempat yang tidak pernah berakhir. Waktu di bar ini tidak berjalan seperti waktu di luar—atau mungkin aku yang sudah kehilangan jejak. Ketika aku mendorong pintu, bar terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih gelap. Lampu tungsten redup hampir mati, hanya satu yang masih menyala di atas meja bar, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang terasa seperti pulau terakhir di tengah laut yang gelap. Bartender berdiri memunggungi, tapi kali ini aku tahu siapa dia. Bahkan tanpa melihat wajahnya, aku tahu. Punggungnya yang membungkuk, kumis putih yang tebal, tangan yang gemetar sedikit saat menuangkan whiskey ke gelas kecil tanpa es. Dia berbalik. Wajahnya Ernest Hemingway—tapi bukan Ernest yang muda dan tampan di foto-foto Paris. Ini Ernest pada usia enam puluh satu tahun. Jenggot putih lebat. Mata yang dulunya tajam sekarang sayu, koson...