Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot
Napas. Masuk, keluar. Atau keluar dulu, masuk kemudian?
Pukul tiga lewat tujuh belas menit—angka-angka merah berkedip di kegelapan seperti mercusuar tanpa pantai. Radio Sanyo berbisik dari sudut ruangan, speaker kanannya sudah mati sejak... kapan? Sejak ayah masih... tidak, jangan ke sana dulu. Tetap di sini. Di napas ini. Di kedipan angka merah ini.
Tubuh ini berat. Gravitasi terasa berlipat ganda di malam hari—atau apakah ini sudah pagi? Terlalu pagi untuk truk sampah. Terlalu malam untuk adzan subuh. Di antara. Selalu di antara. Kursi rotan ini sudah hapal lekuk punggung, hapal cara tulang belikat menekan per yang melorot di sisi kiri. Tiga puluh menit lagi, per itu akan mulai sakit. Tapi sekarang masih nyaman. Masih cukup.
Desiran darah di pelipis. Thump, thump. Atau mungkin itu bukan darah, mungkin itu hanya bayangan detak jantung, gema dari sesuatu yang seharusnya terasa tapi tidak. Ada yang pernah menulis tentang keheningan yang menyembuhkan—analisis yang mendalam tentang bagaimana kesunyian bisa menjadi ruang penyembuhan—tapi malam ini keheningan hanya membuat semuanya lebih jelas. Terlalu jelas.
Napas lagi. Masuk, keluar.
Radio Sanyo itu, misalnya. Warisan dari zaman ketika benda-benda masih dibuat untuk bertahan. Casing kayu yang sudah kusam, tombol-tombol bulat yang permukaannya mengkilap karena sering disentuh. Speaker kiri masih berfungsi—cukup untuk menangkap bisikan jazz dari stasiun yang entah siapa yang masih mendengarkan selain orang-orang seperti ini, orang-orang yang terjaga di pukul tiga lewat tujuh belas menit. Sekarang delapan belas. Sekarang sembilan belas.
Lagu yang mengalir pelan: Round Midnight. Thelonious Monk. Piano yang terdengar seperti seseorang sedang berpikir keras, jari-jari menekan tuts dengan ragu-ragu, mencari nada yang tepat untuk mengisi kekosongan. Tapi nada yang tepat tidak pernah datang. Hanya nada-nada yang cukup. Seperti speaker yang tinggal satu. Seperti hidup yang tinggal setengah tapi tetap harus dijalani utuh.
"Setengah suara sudah cukup untuk menghuni setengah keheningan."
Siapa yang bilang itu? Tidak ingat. Mungkin tidak ada yang bilang. Mungkin hanya pikiran yang mengada-ada di tengah malam, mencoba memberi makna pada benda-benda yang tidak butuh makna.
Kursi rotan ini juga punya cerita, tapi kursi tidak pernah menceritakannya. Hanya menerima berat badan, malam demi malam. Per yang melorot di sisi kiri sudah jadi semacam peta tubuh—bukti bahwa seseorang selalu duduk miring ke kiri, membebani satu sisi lebih dari yang lain. Adaptasi. Tubuh belajar menemukan kenyamanan dalam yang tidak sempurna. Pantat bergeser sedikit, tulang belakang melengkung dengan cara tertentu, dan tiba-tiba per yang rusak itu jadi bagian dari ritual. Jadi rumah.
Jam digital di atas meja terus berkedip. Merah. Seperti mata sesuatu yang mengawasi tanpa menghakimi. Tidak seperti mata Tuhan yang konon melihat segalanya—tidak, ini bukan mata yang peduli. Ini hanya mata yang ada. Saksi. Angka-angka berganti: 03:20, 03:21, 03:22. Waktu bergerak meski tidak ada yang berubah. Aneh sekali bagaimana waktu bisa begitu lambat dan begitu cepat sekaligus. Satu menit terasa seperti sepuluh, tapi dua tahun terasa seperti kemarin.
Bayangan di dinding. Bayangan kursi, bayangan lemari, bayangan tubuh yang duduk di kursi rotan dengan per melorot. Semua diam. Semua menunggu. Menunggu apa? Tidak ada yang tahu. Mungkin menunggu pagi. Mungkin menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.
Lalu tiba-tiba—seperti selalu tiba-tiba meski sudah ditunggu—bayangan itu bergerak. Bukan bayangan di dinding, tapi bayangan di dalam. Ibu. Rumah sakit. Bulan Maret atau April, atau apakah bulan masih penting ketika seseorang sedang meninggalkan?
Bau desinfektan, pertama-tama. Selalu bau itu dulu yang datang, sebelum wajah, sebelum suara, sebelum selimut putih tipis yang tidak cukup menghangatkan. Bau yang tajam, steril, yang seharusnya membunuh bakteri tapi malah membunuh semua aroma kehidupan—aroma parfum ibu, aroma masakan, aroma keringat setelah menyapu halaman. Semua hilang. Hanya tersisa bau desinfektan dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam. Bau sakit. Bau tubuh yang menyerah. Tubuh bereaksi terhadap sesuatu yang hanya ada di dalam kepala. Penelitian menunjukkan bahwa grief memang bisa memanifestasi sebagai reaksi fisik yang nyata— insomnia, keringat dingin, perubahan detak jantung.
Suara monitor. Beep... beep... beep... Jarak antara satu bunyi dan bunyi berikutnya terasa seperti eternitas. Menunggu bunyi berikutnya. Lega saat bunyi itu datang. Menunggu lagi. Siklus yang melelahkan. Dan selalu ada ketakutan: bagaimana kalau bunyi berikutnya tidak datang? Bagaimana kalau yang datang adalah bunyi panjang, bunyi datar, bunyi yang di film-film selalu berarti akhir?
Tangan ibu di atas selimut. Kurus. Tulang-tulang jari terlihat jelas di bawah kulit yang menipis. Urat-urat hijau kebiruan. Kuku yang sudah tidak dipotong rapi lagi. Dulu ibu selalu memotong kuku dengan sangat rapi, mengikir ujung-ujungnya sampai halus. Sekarang tidak ada lagi yang peduli dengan hal-hal seperti itu. Ada hal-hal yang lebih penting. Atau mungkin tidak ada lagi yang penting.
Mata ibu terbuka. Menatap. Tapi menatap apa? Langit-langit rumah sakit? Sesuatu yang lain? Sesuatu yang tidak bisa dilihat?
"Jangan... jangan menangis ya..."
Suara yang hampir tidak terdengar. Suara yang harus ditebak setengahnya dari gerakan bibir.
"Tidak apa-apa... ini tidak apa-apa..."
Tapi siapa yang sedang menenangkan siapa?
Tangan meraih tangan ibu. Dingin. Atau tangannya yang panas? Tidak bisa membedakan lagi. Yang jelas ada usaha untuk menggenggam, tapi jari-jari ibu tidak menggenggam balik. Hanya diam di sana, menerima genggaman seperti kursi rotan menerima berat badan.
Lalu tidak ada lagi.
Tidak, berhenti. Kembali ke radio. Kembali ke angka merah. Kembali ke napas.
Keringat dingin. Kapan mulai berkeringat? Punggung basah. Telapak tangan basah. Napas pendek-pendek, seperti habis berlari tapi tidak ke mana-mana. Tubuh bereaksi terhadap sesuatu yang hanya ada di dalam kepala. Aneh sekali tubuh ini—bisa merasakan sakit dari sesuatu yang tidak nyata, dari sesuatu yang sudah berlalu.
Pukul tiga lewat dua puluh tujuh menit. Sepuluh menit. Hanya sepuluh menit. Terasa seperti tenggelam dan muncul kembali ke permukaan, paru-paru terbakar.
Radio masih berbisik. Lagu sudah berganti. Yang ini tidak dikenal. Piano dan bass. Tempo lambat. Cocok untuk pukul tiga pagi. Cocok untuk orang-orang yang tidak bisa tidur, yang duduk di kursi rotan dengan per melorot, yang menatap angka merah berkedip, yang mencoba tetap di sini, di sekarang, tapi selalu terpeleset kembali ke dulu.
Lalu datang lagi, yang satunya. Ayah.
Tidak di rumah sakit kali ini. Di tempat lain. Tempat yang lebih tenang. Danau. Atau sungai? Memori tidak pernah jelas tentang detail-detail seperti itu. Yang jelas: air, sore hari, cahaya keemasan yang membuat semuanya terlihat seperti lukisan.
Ayah duduk di tepi, kaki terulur, tangan memegang kail. Tidak ada ikan yang memancing. Atau mungkin ada, tapi itu tidak penting. Yang penting: duduk di sana, diam, menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan datang.
"Kenapa kita tidak pulang saja? Kan tidak ada ikannya."
Suara anak-anak. Suara sendiri, bertahun-tahun lalu. Suara yang masih penuh dengan kepastian bahwa segala sesuatu harus punya tujuan, harus produktif.
Ayah tersenyum. Senyum tipis yang tidak menjelaskan apa-apa.
"Ikannya tidak penting. Duduk di sini yang penting."
Waktu itu tidak mengerti. Pikir ayah hanya sedang berfilsafat, sedang mencoba terdengar bijak seperti orang tua sering melakukan. Tapi sekarang, duduk di kursi rotan pukul tiga lewat tiga puluh menit, dengan radio berbisik dan angka merah berkedip, sekarang mulai mengerti.
Duduk di sini. Hanya itu. Tidak harus menangkap ikan. Tidak harus healing. Tidak harus moving on. Tidak harus menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih apa pun. Hanya duduk. Hadir. Bernapas.
"Keheningan yang menyembuhkan," begitu seseorang pernah menuliskannya dengan indah, dan malam ini mulai mengerti apa maksudnya—bukan keheningan yang kosong, tapi keheningan yang penuh, seperti sumur dengan air jernih di dasarnya, hanya terlalu dalam untuk dilihat dari permukaan.
Ada orang-orang yang bertanya, tentu saja. Orang-orang baik. Orang-orang yang peduli.
"Bagaimana perasaanmu?"
Pertanyaan yang tulus. Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Tapi bagaimana? Bagaimana menjelaskan bahwa luka bukan tentang sakit tapi tentang ketiadaan? Bukan tentang apa yang hilang tapi tentang ruang kosong yang tersisa dan bagaimana ruang itu mengubah gravitasi seluruh rumah, seluruh hidup, seluruh cara bernapas?
Bagaimana menjelaskan bahwa kadang-kadang tidak ada yang terasa? Bahwa mati rasa itu juga sejenis rasa, bahwa kekosongan itu juga sejenis kepenuhan—kepenuhan yang terbalik, kepenuhan yang menelan dirinya sendiri?
Kata-kata tidak cukup. Tidak akan pernah cukup. Kamus terlalu tipis untuk menampung dimensi dari apa yang dirasakan di pukul tiga pagi. Bahasa punya keterbatasan—sudah banyak yang menulis tentang ini, para filsuf, para penyair, tentang bagaimana pengalaman hidup selalu lebih luas dari kemampuan bahasa untuk menangkapnya. Bahasa punya keterbatasan—sudah banyak yang menulis tentang ini, para filsuf, para penyair, tentang bagaimana pengalaman kehilangan selalu lebih luas dari kemampuan bahasa untuk menangkapnya.
Jadi yang dilakukan adalah tersenyum. Senyum tipis, seperti senyum ayah dulu.
"Baik-baik saja."
Dan mereka percaya. Atau pura-pura percaya. Karena mereka ingin percaya. Karena lebih mudah percaya. Karena kalau tidak percaya, mereka harus bertanya lagi, harus menggali lebih dalam, dan tidak ada yang benar-benar punya waktu atau energi untuk itu. Semua orang punya luka mereka sendiri. Semua orang punya pukul tiga pagi mereka sendiri.
Nenek dulu selalu diam. Duduk di teras, memandang halaman, tidak bicara apa-apa. Waktu itu pikir nenek sedih, kesepian. Tapi mungkin tidak. Mungkin nenek sudah tahu sesuatu: bahwa keheningan itu punya lapisan-lapisan. Ada keheningan yang kosong—keheningan karena tidak ada yang mau dikatakan. Dan ada keheningan yang penuh—keheningan karena terlalu banyak yang tidak bisa dikatakan.
Nenek tinggal di lapisan kedua. Dan sekarang, duduk di kursi rotan dengan per melorot, mulai mengerti kenapa dia memilih untuk tinggal di sana.
Kapan itu? Dua tahun lalu? Tiga? Atau kemarin?
Waktu juga mulai kabur, seperti tinta di air. Rumah sakit terasa seperti kemarin, tapi juga seperti seabad yang lalu. Danau dengan ayah terasa seperti seminggu lalu, tapi juga seperti di kehidupan lain. Semua memori bercampur, batas-batasnya melunak, satu adegan mengalir ke adegan lain tanpa transisi yang jelas.
Pukul tiga lewat empat puluh menit sekarang. Atau mungkin jam digitalnya yang rusak. Mungkin waktu tidak bergerak sama sekali. Mungkin sudah berjam-jam duduk di sini, atau mungkin baru beberapa detik. Tidak ada cara untuk tahu pasti.
Tubuh tahu, seharusnya. Tubuh punya jam internalnya sendiri. Tapi tubuh ini sudah lama tidak bisa dipercaya. Tidur di waktu yang salah. Lapar di waktu yang salah. Menangis di waktu yang salah—atau tidak menangis sama sekali di waktu yang seharusnya menangis.
Radio masih berbisik. Itu yang pasti. Angka merah masih berkedip. Itu juga pasti. Kursi masih menekan punggung dengan cara yang sama. Jangkar-jangkar kecil ke dunia nyata. Tanpa mereka, mungkin sudah melayang ke mana-mana, hilang di labirin memori dan mimpi dan sesuatu di antaranya.
Ada momen—kadang-kadang, tidak bisa diprediksi—ketika semuanya tumpang tindih. Ibu di rumah sakit, ayah di danau, nenek di teras, kursi rotan, radio, angka merah—semua ada di waktu yang sama, di ruang yang sama. Bukan flashback. Bukan halusinasi. Lebih seperti... lapisan-lapisan realitas yang menjadi transparan, sehingga yang di bawah terlihat dari atas, yang di atas terlihat dari bawah.
Mungkin ini yang dimaksud penyembuhan—bukan melupakan, bukan moving on, tapi belajar hidup dengan sumur di dalam dada. Sumur yang dalam dan gelap tapi punya air jernih di dasarnya. Kita tidak perlu turun ke sana setiap hari. Cukup tahu dia ada. Cukup sesekali menimba sedikit air, merasakan dinginnya, lalu membiarkan ember turun kembali ke kedalaman.
Posisi berubah sedikit. Tulang belakang yang tadi membungkuk sekarang sedikit lebih tegak. Kaki yang tadi disilangkan sekarang menapak rata di lantai. Tangan yang tadi menggenggam lengan kursi sekarang lepas, jatuh ringan di pangkuan.
Napas juga berubah. Masih ada, tentu saja—napas tidak pernah berhenti, tidak bisa berhenti. Tapi sekarang lebih... teratur. Tidak lagi pendek-pendek, tidak lagi tergesa. Masuk, keluar. Masuk, keluar. Seperti ombak. Seperti waktu.
Lagu di radio berganti lagi. Yang ini dikenal: In a Sentimental Mood. Duke Ellington. Melodi yang lembut, saksofon yang berbicara dengan bahasa yang lebih tua dari kata-kata. Bahasa sebelum kata-kata. Bahasa yang hanya bisa dimengerti di pukul tiga pagi, ketika semua pertahanan sudah turun, ketika tidak ada lagi yang perlu dibuktikan.
Bayangan di dinding masih ada. Tapi sekarang tidak bergerak-gerak lagi. Diam. Tenang. Hanya bayangan kursi, bayangan lemari, bayangan tubuh. Tidak lebih.
Ada kejelasan yang datang—bukan pencerahan besar, bukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar. Hanya kejelasan kecil: bahwa ini adalah hidup. Bahwa ini adalah cara hidup berlangsung. Bahwa kehilangan adalah bagian dari lanskap, seperti gunung, seperti lembah. Tidak bisa dilewati. Tidak bisa dihindari. Hanya bisa dilalui, satu langkah pada satu waktu, satu napas pada satu waktu.
Ayah dulu bilang: "Duduk di sini yang penting."
Bukan duduk di danau. Bukan duduk menunggu ikan. Duduk di sini—di mana pun di sini itu. Di kursi rotan. Di kamar gelap. Di pukul tiga lewat lima puluh menit. Di sini. Hadir. Tidak lari ke masa lalu, tidak kabur ke masa depan. Hadir dengan radio yang berbisik, dengan angka merah yang berkedip, dengan per yang melorot, dengan sumur di dalam dada.
Luka itu ada. Akan selalu ada. Itu fakta. Tapi fakta lain: masih ada napas. Masih ada detak jantung. Masih ada radio yang berbisik, masih ada jazz di pukul tiga pagi, masih ada kursi yang menerima berat badan, masih ada lantai yang menopak kaki.
"Tidak apa-apa."
Kata-kata itu muncul entah dari mana. Bukan dari luar. Dari dalam. Dari tempat yang lebih dalam dari pikiran, lebih dalam dari rasa.
Tidak apa-apa.
Bukan "baik-baik saja"—karena itu bohong. Bukan "akan sembuh"—karena itu janji palsu. Hanya: tidak apa-apa. Tidak apa-apa kalau luka masih ada. Tidak apa-apa kalau masih terjaga di pukul tiga pagi. Tidak apa-apa kalau bahasa tidak cukup. Tidak apa-apa kalau yang bisa dilakukan hanya duduk di sini, bernapas, mendengarkan radio berbisik.
Keheningan di ruangan ini—keheningan yang dulu terasa menakutkan, terasa seperti ancaman—sekarang terasa seperti... kebersamaan. Bukan kebersamaan dengan seseorang yang nyata. Tapi kebersamaan dengan semua yang sudah pergi. Dengan ibu. Dengan ayah. Dengan nenek. Dengan semua orang yang pernah duduk di kegelapan pukul tiga pagi, mendengarkan napas mereka sendiri, mencoba bertahan sampai pagi.
Mereka semua di sini, dalam arti tertentu. Di radio yang masih berbisik. Di kursi yang masih menerima. Di keheningan yang penuh ini.
Napas. Masuk, keluar. Lebih teratur sekarang. Tubuh tahu caranya—selalu tahu, bahkan ketika pikiran lupa.
Pukul empat lewat dua puluh tiga menit. Angka merah masih berkedip. Radio masih berbisik—lagu sudah berganti lagi, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah suara itu sendiri, kehadiran suara di tengah keheningan. Kursi masih menekan punggal dengan cara yang sama, per yang melorot masih di tempat yang sama.
Tapi ada yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa ditunjuk, tidak bisa dinamai. Bukan perubahan besar. Bukan transformasi dramatis. Hanya... pergeseran. Seperti ketika mata sudah terbiasa dengan kegelapan dan mulai bisa membedakan gradasi hitam—hitam yang lebih gelap, hitam yang lebih terang. Kegelapan yang sama, tapi tidak lagi tunggal. Ada lapisan-lapisan. Ada tekstur.
Luka masih ada. Sumur di dalam dada masih ada. Tapi sekarang tahu: ada air di dasar sumur itu. Air jernih. Air yang dingin. Air yang bisa ditimba saat dibutuhkan, lalu dibiarkan turun kembali.
Tidak perlu turun ke sana setiap hari. Tidak perlu memaksa diri untuk "memproses" atau "mengatasi" atau kata-kata lain yang dipakai orang untuk membuat penderitaan terdengar seperti proyek yang bisa diselesaikan. Cukup tahu sumur itu ada. Cukup hormat kehadirannya. Cukup sesekali duduk di pinggirnya, di kursi rotan dengan per melorot, mendengarkan radio berbisik, membiarkan waktu mengalir.
Mungkin besok akan sama. Mungkin besok akan terjaga lagi di pukul tiga pagi, duduk di kursi yang sama, menatap angka merah yang sama. Mungkin memori akan datang lagi—rumah sakit, danau, teras. Mungkin luka akan terasa segar lagi, seperti baru kemarin.
Atau mungkin tidak.
Tidak ada cara untuk tahu. Dan itu—entah kenapa—tidak apa-apa.
Radio berbisik. Angka berkedip. Napas bergerak. Masuk, keluar. Tubuh masih ada. Kursi masih ada. Lantai masih ada. Realitas sederhana ini—realitas yang tidak dramatis, tidak puitis, tidak instagrammable—ternyata cukup. Lebih dari cukup.
Keheningan di ruangan ini bukan lagi keheningan yang kosong. Bukan lagi absence. Ini adalah presence—diam yang penuh, penuh dengan semua yang tidak bisa dikatakan, penuh dengan semua yang tidak perlu dikatakan.
Di luar jendela, langit mulai berubah. Bukan terang—belum. Hanya... kurang gelap. Gradasi. Pergeseran. Hitam ke abu-abu sangat gelap. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada ledakan warna. Hanya perubahan yang sangat pelan, perubahan yang hanya bisa dilihat kalau sudah menatap cukup lama.
Seperti penyembuhan. Seperti hidup.
Napas. Masuk, keluar. Ia tinggal di sini, di napas ini, di kedipan angka merah ini, di desiran darah yang teratur, di keheningan yang tidak lagi kosong. Ia tinggal di kursi rotan dengan per melorot, di radio dengan speaker mati sebelah, di pukul empat lewat dua puluh sembilan menit—atau mungkin sudah tiga puluh, atau mungkin sudah tiga puluh lima.
Tidak penting.
Ia tinggal.
Tulisan ini terinspirasi dari artikel "Keheningan yang Menyembuhkan" di blog Nine Shadow Forces, sebuah refleksi mendalam tentang penyembuhan melalui kesunyian. Untuk pembahasan lebih lengkap tentang prosa kontemplasi ini, baca analisis komprehensif di sini.
Komentar
Posting Komentar