Hemingway di Bar Bagian 5: The Last Shot
Lanjutan dari Bagian 1: Fondasi dan Kerangka Teoretis
Setelah memahami fondasi teoretis genre sains spiritual dan konteks filosofis karya Dee Lestari, kita kini memasuki jantung analisis: bagaimana secara konkret Dee menggunakan konsep-konsep fisika sebagai bahasa untuk mengartikulasikan pengalaman eksistensial manusia. Ini bukan sekadar penggunaan istilah-istilah sains untuk membuat narasi tampak intelektual, melainkan transformasi radikal dari terminologi teknis menjadi metafora yang hidup, yang mampu menangkap dimensi-dimensi pengalaman manusia yang sulit diungkapkan dengan bahasa konvensional.
Pilihan Dee untuk menggunakan "supernova" sebagai judul dan metafora sentral seri ini bukanlah kebetulan. Dalam astrofisika, supernova adalah fenomena ledakan bintang yang sangat terang—sebuah momen dramatis ketika sebuah bintang yang telah mencapai akhir siklus hidupnya meledak dengan energi yang luar biasa besar. Yang membuat supernova begitu menarik sebagai metafora adalah paradoks yang dikandungnya: ia adalah kematian dan kelahiran sekaligus.
Ketika sebuah bintang meledak menjadi supernova, ia memang "mati" dalam pengertian bahwa struktur dan identitasnya yang lama hancur total. Namun, ledakan ini bukanlah akhir melainkan awal dari sesuatu yang baru. Materi yang dihamburkan dari supernova—debu kosmik yang kaya akan elemen-elemen berat—menjadi bahan dasar pembentukan bintang-bintang baru, planet-planet, dan pada akhirnya kehidupan itu sendiri. Secara literal, kita adalah anak-anak supernova—atom-atom dalam tubuh kita dulunya adalah bagian dari bintang-bintang yang telah meledak.
Mari kita lihat bagaimana Dee menerapkan metafora ini dalam karakterisasi, khususnya dalam tokoh Re dari Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Re adalah seorang perempuan yang mengalami krisis identitas mendalam. Ia merasa terperangkap dalam kehidupan yang telah ditentukan oleh ekspektasi sosial, keluarga, dan bahkan oleh konstruksi identitas yang ia bangun untuk dirinya sendiri.
"Aku merasa seperti bintang yang sudah tua. Semua bahan bakarku habis terbakar. Aku tahu aku harus meledak, tapi aku takut. Aku takut kehilangan diriku."
Dialog internal Re ini menangkap ketakutan universal yang kita semua hadapi ketika menghadapi kebutuhan untuk berubah secara fundamental. Kita takut "meledak" karena itu berarti kehilangan struktur identitas yang telah kita bangun dengan susah payah. Namun, yang ditunjukkan Dee melalui perjalanan Re adalah bahwa transformasi sejati memerlukan kehancuran.
Re tidak bisa menjadi versi yang lebih baik dari dirinya yang lama; ia harus menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Dan untuk itu, "Re yang lama" harus mati. Ini bukan kematian metaforis yang romantis, melainkan pengalaman yang menyakitkan, disorientasi, dan menakutkan—sama seperti ledakan supernova yang merobek-robek struktur bintang.
Namun, yang membuat metafora supernova begitu kuat adalah janji yang dikandungnya: bahwa kehancuran ini adalah produktif. Re yang "meledak" tidak hilang menjadi ketiadaan; ia tersebar menjadi partikel-partikel yang kemudian berkumpul kembali dalam konfigurasi yang baru. Identitas barunya bukan pengganti atau perbaikan dari identitas lama, melainkan evolusi kuantum—sebuah lompatan ke tingkat kesadaran yang berbeda secara kualitatif.
Metafora supernova menantang narasi self-improvement yang dominan dalam budaya populer kontemporer. Buku-buku self-help umumnya menjanjikan bahwa kita bisa menjadi "versi terbaik dari diri kita" melalui perbaikan incremental. Dee menolak premis ini. Ia menyarankan bahwa kadang-kadang, yang kita butuhkan bukan perbaikan melainkan penghancuran kreatif—sebuah transformasi yang begitu radikal sehingga "diri yang lama" tidak dapat dipertahankan.
Ini beresonansi dengan konsep Sufi tentang "fana" (pemusnahan ego) dan konsep Buddhis tentang "anatta" (non-self). Namun, Dee mengartikulasikan konsep-konsep spiritual kuno ini dalam bahasa sains modern, membuatnya accessible bagi generasi yang mungkin tidak terkoneksi dengan tradisi religius tetapi sangat familiar dengan narasi sains.
Konsep kedua yang Dee eksplorasi secara mendalam adalah quantum entanglement (keterjeratan kuantum). Dalam fisika kuantum, entanglement adalah fenomena di mana dua partikel dapat menjadi terhubung sedemikian rupa sehingga keadaan satu partikel secara instan mempengaruhi keadaan partikel lain, terlepas dari jarak yang memisahkan mereka. Einstein sendiri menyebut fenomena ini sebagai "spooky action at a distance" (aksi menyeramkan dari jarak jauh) karena ia tampak melanggar prinsip lokalitas—ide bahwa objek hanya dapat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.
Dee menggunakan konsep ini sebagai metafora untuk jenis koneksi antar manusia yang melampaui kehadiran fisik, komunikasi verbal, atau bahkan kesadaran rasional.
Dalam Akar, salah satu buku dari seri Supernova, ada dialog yang sangat signifikan antara Dimas dan Reuben tentang konsep "jiwa kembar" atau soulmate. Alih-alih menggunakan bahasa romantis konvensional, mereka mendiskusikan fenomena ini dalam konteks quantum entanglement.
Reuben: "Pernahkah kau berpikir bahwa jiwa kembar mungkin bukan metafora, melainkan fenomena fisik yang nyata? Dua kesadaran yang pernah berada dalam keadaan entangled, sehingga terlepas dari jarak atau waktu yang memisahkan mereka, mereka tetap terhubung pada tingkat yang sangat fundamental?"
Dimas: "Maksudmu seperti partikel yang terentangle dalam eksperimen fisika kuantum? Tapi itu kan partikel subatomik. Bisakah prinsip yang sama berlaku untuk sistem yang sekompleks kesadaran manusia?"
Reuben: "Mengapa tidak? Kesadaran sendiri masih merupakan misteri terbesar dalam sains. Apa yang kita sebut 'cinta' atau 'koneksi spiritual' mungkin adalah manifestasi makroskopik dari entanglement kuantum pada level kesadaran."
Dialog ini melakukan beberapa hal sekaligus. Pertama, ia menunjukkan bahwa karakter-karakter Dee tidak menggunakan sains secara superfisial; mereka benar-benar berpikir melalui implikasi konsep-konsep ilmiah. Kedua, ia membuka kemungkinan bahwa pengalaman subjektif yang selama ini dianggap "irasional" atau "mistis" mungkin memiliki basis dalam fisika fundamental—hanya saja sains kita belum cukup maju untuk memahaminya sepenuhnya.
Dee mengeksplorasi implikasi praktis dari metafora ini melalui berbagai scene di mana karakter-karakter mengalami apa yang bisa disebut sebagai "knowing without being told". Misalnya, ada momen-momen di mana seorang karakter tiba-tiba merasakan distress yang intens dan kemudian menemukan bahwa pada saat yang sama, orang yang sangat dekat dengannya sedang mengalami krisis—meskipun mereka terpisah oleh jarak geografis yang jauh dan tidak ada komunikasi di antara mereka.
Dalam narasi konvensional, fenomena seperti ini biasanya dibingkai sebagai "kebetulan luar biasa" atau "intuisi misterius." Dee, dengan mengaitkannya pada entanglement kuantum, menawarkan framework yang berbeda: mungkin koneksi ini nyata secara fisik, hanya saja bekerja pada level realitas yang berbeda dari yang biasanya kita akses.
Penting untuk dicatat bahwa penggunaan Dee atas konsep quantum entanglement di sini adalah metaforis, bukan literal. Fisikawan akan dengan cepat menunjukkan bahwa entanglement kuantum yang telah dibuktikan secara eksperimental terjadi pada level partikel subatomik dalam kondisi yang sangat terkontrol, dan belum ada bukti ilmiah bahwa prinsip yang sama berlaku untuk sistem makroskopik seperti kesadaran manusia.
Namun, ini justru menunjukkan kekuatan pendekatan Dee. Ia tidak mengklaim sedang melakukan sains; ia menggunakan konsep sains sebagai bahasa metaforis yang lebih kaya untuk mengartikulasikan pengalaman manusia. Sama seperti Shakespeare menggunakan metafora "all the world's a stage" tanpa bermaksud bahwa dunia secara literal adalah panggung teater, Dee menggunakan entanglement kuantum untuk menangkap kualitas dari koneksi antar manusia yang sulit diungkapkan dengan bahasa lain.
Konsep ketiga yang Dee eksplorasi adalah relativitas waktu. Teori relativitas Einstein menunjukkan bahwa waktu bukanlah absolut; ia relatif terhadap kerangka acuan observer. Semakin cepat seseorang bergerak (mendekati kecepatan cahaya), semakin lambat waktu berlalu bagi mereka relatif terhadap seseorang yang diam. Ini bukan ilusi atau efek psikologis, melainkan properti fundamental dari ruang-waktu itu sendiri.
Dee menggunakan konsep ini untuk mengeksplorasi dimensi subjektif dari pengalaman waktu—bagaimana waktu "terasa" berbeda tergantung pada kondisi kesadaran kita.
Dalam Petir, salah satu buku yang paling eksperimental dalam seri Supernova, Dee bermain dengan struktur temporal narasi. Cerita tidak bergerak secara linear dari masa lalu ke masa depan; ia melompat-lompat, berputar-putar, kadang bergerak maju dan mundur secara simultan. Ini mencerminkan cara kerja kesadaran yang mengalami trauma.
"Bagi orang yang sedang jatuh cinta, satu hari terasa seperti satu tahun. Bagi orang yang sedang menderita, satu menit terasa seperti selamanya. Waktu bersifat relatif—tidak hanya dalam persamaan Einstein, tetapi dalam pengalaman subjektif kita. Masa lalu, masa kini, dan masa depan bisa eksis secara simultan dalam kesadaran."
Dee menyandingkan pengalaman psikologis ini dengan konsep fisika. Sama seperti waktu "melambat" bagi seseorang yang bergerak mendekati kecepatan cahaya, waktu "membeku" atau "melambat" bagi seseorang yang mengalami trauma intens. Momen traumatis tidak "berlalu" dengan cara yang sama seperti momen-momen biasa; ia tetap "sekarang" bahkan ketika secara kronologis sudah menjadi "masa lalu."
Metafora relativitas waktu ini memiliki implikasi mendalam untuk pemahaman kita tentang trauma dan proses penyembuhan. Dalam psikologi trauma, ada pengakuan bahwa trauma "membekukan" waktu—korban trauma seringkali mengalami flashback di mana mereka secara psikologis kembali ke momen traumatis, seolah-olah itu sedang terjadi sekarang meskipun secara objektif itu sudah berlalu.
Dengan menggunakan bahasa relativitas, Dee membantu kita memahami bahwa ini bukan "kesalahan" atau "kelemahan" psikologis, melainkan properti fundamental dari bagaimana kesadaran mengalami waktu. Penyembuhan trauma, dalam framework ini, bukan tentang "melupakan masa lalu" atau "moving on," melainkan tentang memulihkan kemampuan kesadaran untuk bergerak bebas melalui waktu subjektif—untuk tidak lagi terjebak dalam satu momen temporal.
Eksplorasi Dee tentang waktu subjektif ini beresonansi dengan konsep filsuf Prancis Henri Bergson tentang "durée" (duration). Bergson membedakan antara waktu yang terukur secara objektif (seperti detik dan menit dalam jam) dengan waktu yang dialami secara subjektif—yang ia sebut sebagai durée. Durée adalah kualitas pengalaman waktu yang tidak dapat direduksi menjadi kuantitas terukur.
Yang menarik adalah bahwa Dee menggunakan bahasa sains (teori relativitas) untuk sampai pada kesimpulan yang mirip dengan filsafat Bergson: bahwa waktu sebagaimana kita alami secara subjektif adalah realitas yang sama fundamentalnya dengan waktu objektif. Keduanya "nyata" dalam pengertian yang berbeda, dan memahami pengalaman manusia memerlukan pengakuan terhadap kedua dimensi waktu ini.
Konsep terakhir yang akan kita bahas dalam bagian ini adalah Prinsip Ketidakpastian Heisenberg. Dalam mekanika kuantum, prinsip ini menyatakan bahwa ada batasan fundamental pada seberapa presisi kita dapat mengetahui pasangan properti tertentu dari partikel secara simultan—misalnya posisi dan momentum. Semakin akurat kita mengukur satu properti, semakin tidak pasti properti yang lain.
Dee menggunakan prinsip ini sebagai metafora untuk ketidakpastian inheren dalam kehidupan manusia dan pentingnya memeluk ambiguitas alih-alih selalu mencari kepastian.
Dalam beberapa dialog filosofis di Supernova, karakter-karakter bergulat dengan keinginan manusiawi untuk kepastian—kepastian tentang siapa mereka, apa tujuan hidup mereka, apakah cinta mereka akan bertahan, apakah pilihan mereka "benar." Dee menunjukkan bahwa quest untuk kepastian absolut ini adalah ilusi yang kontraproduktif.
Ferre: "Heisenberg menunjukkan kepada kita bahwa ketidakpastian bukan bug dalam sistem; ia adalah fitur fundamental dari realitas. Semakin kita mencoba untuk mengontrol dan memastikan satu aspek kehidupan kita, aspek-aspek lain menjadi semakin tidak pasti. Mungkin kebijaksanaan bukanlah tentang mencari kepastian, melainkan belajar menari dengan ketidakpastian."
Ini adalah pesan yang radikal dalam budaya yang obsesif dengan kontrol, perencanaan, dan kepastian. Dee tidak mengadvokasi nihilisme atau pasivitas; ia mengadvokasi jenis agency yang berbeda—agency yang bekerja dengan ketidakpastian alih-alih melawannya.
Metafora Heisenberg ini memiliki implikasi praktis untuk bagaimana kita membuat keputusan dalam kehidupan. Seringkali kita menunda keputusan karena merasa belum memiliki "informasi yang cukup" atau belum "yakin 100%." Dee menunjukkan bahwa kepastian 100% tidak pernah akan datang—bukan karena kita belum cukup riset atau belum cukup matang, melainkan karena kepastian absolut tidak kompatibel dengan sifat fundamental realitas.
Ini tidak berarti semua keputusan sama baiknya atau bahwa kita tidak perlu berpikir. Sebaliknya, ini berarti bahwa keberanian untuk bertindak dalam ketidakpastian adalah bagian esensial dari kehidupan. Kita membuat keputusan terbaik yang kita bisa dengan informasi yang kita miliki, sambil mengakui bahwa akan selalu ada elemen yang tidak kita ketahui dan tidak bisa kita kontrol.
Setelah mengeksplorasi empat metafora utama—supernova, entanglement kuantum, relativitas waktu, dan prinsip ketidakpastian—sebuah pola menjadi jelas: Dee tidak menggunakan sains untuk mereduksi pengalaman manusia menjadi sesuatu yang mekanis atau deterministik. Sebaliknya, ia menggunakan sains untuk membuka ruang bagi misteri.
Ini adalah pembalikan yang cerdas. Dalam narasi populer, sains sering digambarkan sebagai kekuatan yang "mengusir keajaiban" dari dunia—yang membuat segalanya dapat dijelaskan dan diprediksi. Dee menunjukkan bahwa justru sains modern, khususnya fisika kuantum dan teori relativitas, telah memulihkan misteri ke dalam jantung pemahaman kita tentang realitas.
Ada paradoks produktif dalam pendekatan Dee: semakin kita tahu tentang bagaimana alam semesta bekerja (melalui sains), semakin kita menyadari betapa misteriusnya realitas sebenarnya. Fisika kuantum tidak membuat dunia lebih sederhana atau lebih dapat diprediksi; ia justru menunjukkan bahwa pada level paling fundamental, realitas berperilaku dengan cara-cara yang sangat counterintuitive dan paradoks.
Dee memanfaatkan paradoks ini untuk mengartikulasikan aspek-aspek pengalaman manusia yang selalu ada tetapi sulit diungkapkan dalam bahasa konvensional:
Penting untuk bertanya: untuk siapa bahasa metaforis ini efektif? Jelas tidak untuk semua orang. Seseorang yang tidak memiliki literasi sains dasar mungkin akan kesulitan dengan referensi-referensi fisika dalam Supernova. Sebaliknya, fisikawan profesional mungkin akan terganggu dengan penggunaan konsep-konsep fisika yang tidak literal-akurat.
Target audiens Dee adalah middle ground yang luas: orang-orang yang memiliki pendidikan cukup untuk familiar dengan konsep-konsep sains dasar (meskipun tidak harus mendalam), yang mencari cara untuk mengintegrasikan pemahaman rasional mereka tentang dunia dengan pengalaman subjektif dan spiritual mereka, dan yang tidak puas dengan dikotomi kaku antara "sains vs spiritualitas."
Ini adalah demografi yang tumbuh—terutama di kalangan milenial dan Gen Z yang tumbuh dengan akses ke informasi sains populer melalui internet, yang tertarik pada sains tetapi juga merasakan kekosongan spiritual dalam materialisme ilmiah yang rigid.
Pendekatan Dee tidak tanpa risiko. Kritik yang paling sering dilontarkan adalah bahwa ia mempromosikan "pseudosains"—penggunaan terminologi ilmiah untuk mengklaim otoritas bagi ide-ide yang tidak didukung oleh bukti ilmiah. Ini adalah kritik yang serius dan perlu diaddress.
Pembelaan terhadap Dee dapat dibuat pada beberapa level:
Pertama dan terutama, Supernova adalah karya fiksi. Pembaca tidak datang ke novel untuk belajar fisika kuantum yang akurat; mereka datang untuk pengalaman estetis dan filosofis. Sama seperti kita tidak mengkritik Shakespeare karena tidak akurat secara historis atau biologis, kita perlu memberikan lisensi artistik kepada Dee untuk menggunakan konsep sains secara metaforis.
Dee sendiri tidak pernah mengklaim bahwa ia sedang melakukan sains atau bahwa interpretasi fiksinya terhadap konsep-konsep fisika adalah akurat secara ilmiah. Dalam berbagai wawancara, ia konsisten menyebut dirinya sebagai "penulis fiksi yang terpesona oleh sains" bukan sebagai "educator sains."
Bahkan jika metafora Dee tidak akurat secara literal-ilmiah, ia bisa tetap valuable secara filosofis dan psikologis jika ia membantu orang memahami dan mengartikulasikan pengalaman mereka. Metafora yang baik tidak perlu "benar" dalam pengertian korespondensi literal; ia perlu "produktif" dalam pengertian membuka perspektif baru atau memfasilitasi pemahaman.
Pertanyaannya bukan "Apakah quantum entanglement benar-benar menjelaskan koneksi jiwa antar manusia?" melainkan "Apakah metafora entanglement membantu kita memahami dan berbicara tentang jenis koneksi yang kita alami?" Jika jawabannya ya, maka metafora telah melakukan tugasnya, terlepas dari akurasi ilmiahnya.
Bagian kedua ini telah mengeksplorasi secara mendalam bagaimana Dee Lestari menggunakan metafor-metafor fisika—supernova, quantum entanglement, relativitas waktu, dan prinsip ketidakpastian Heisenberg—sebagai bahasa untuk mengartikulasikan dimensi-dimensi pengalaman eksistensial manusia. Kita telah melihat bagaimana metafor-metafor ini bukan sekadar ornamen naratif melainkan struktur konseptual yang memungkinkan eksplorasi filosofis yang mendalam.
Yang paling penting, kita telah melihat bahwa pendekatan Dee membalik narasi konvensional tentang hubungan antara sains dan spiritualitas. Alih-alih melihat sains sebagai kekuatan yang mengusir misteri, Dee menunjukkan bahwa sains modern justru telah memulihkan misteri ke dalam pemahaman kita tentang realitas—dan bahwa misteri ini dapat menjadi sumber spiritualitas yang mendalam.
Bagian berikutnya akan mengeksplorasi pilar kedua: bagaimana Dee mengartikulasikan sains itu sendiri sebagai jalan spiritual—sebagai praktik yang dapat membawa kesadaran menuju transendensi. Kita akan melihat karakter-karakter seperti Ferre yang mewujudkan figur "scientist-mystic" dan bagaimana pencarian ilmiah itu sendiri menjadi bentuk pencarian spiritual.
[Bersambung ke Bagian 3: Sains sebagai Jalan Menuju Ketuhanan]
← Kembali ke Bagian 1: Fondasi dan Kerangka Teoretis
Jumlah kata: 3.920
Komentar
Posting Komentar