Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Membaca Aroma yang Tersisa di Bus Pagi

Gambar
Membaca Aroma yang Tersisa di Bus Pagi Sebuah personal esai Saya mencium Nina sebelum mengenalnya. Bukan Nina secara utuh — hanya sehelai bau yang tiba-tiba masuk bersama angin kedalam bus, membelah udara pagi yang masih kelabu, lalu menetap di leher saya seperti tangan yang ingin dipegang tapi tidak pernah berani. Lavender. Tapi bukan lavender toko parfum yang manis mengecup. Ini lavender yang tumbuh di bawah tembok yang jarang disinari, dicampur hujan semalam, dicampur keterlambatan, dicampur sesuatu yang baru saja hilang. Saya menoleh, tapi yang saya dapat hanya ujung rambut yang berayun, jaket abu-abu, dan sepatu flat yang menginjak dunia dengan lembut. Baru setelah itu saya mendengar suara mesin bus. Bau selalu lebih dahulu daripada suara. Bau selalu lebih dulu daripada nama. Kenapa aroma bisa menulis nama seseorang di udara, sementara nama sebenarnya sudah kita lupa? ...

Membaca Aroma yang Tersisa di Bus Pagi

Gambar
Membaca Aroma yang Tersisa di Bus Pagi Sebuah personal esai Saya mencium Nina sebelum mengenalnya. Bukan Nina secara utuh — hanya sehelai bau yang tiba-tiba masuk bersama angin kedalam bus, membelah udara pagi yang masih kelabu, lalu menetap di leher saya seperti tangan yang ingin dipegang tapi tidak pernah berani. Lavender. Tapi bukan lavender toko parfum yang manis mengecup. Ini lavender yang tumbuh di bawah tembok yang jarang disinari, dicampur hujan semalam, dicampur keterlambatan, dicampur sesuatu yang baru saja hilang. Saya menoleh, tapi yang saya dapat hanya ujung rambut yang berayun, jaket abu-abu, dan sepatu flat yang menginjak dunia dengan lembut. Baru setelah itu saya mendengar suara mesin bus. Bau selalu lebih dahulu daripada suara. Bau selalu lebih dulu daripada nama. Kenapa aroma bisa menulis nama seseorang di udara, sementara nama sebenarnya sudah kita lupa? ...